Ujian nasional

Meski Dilarang, Siswa Tetap Bawa Ponsel

Kompas.com - 18/04/2011, 14:32 WIB

KENDAL, KOMPAS.com - Meskipun sudah dilarang membawa telpon genggam ke dalam ruang ujian, peserta ujian nasional (UN) SMA/sederajat di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, masih nekad melanggar aturan tersebut. Hal tersebut diketahui setelah pengawas UN menemukan siswa yang masih membawa telepon genggam di kantong celana siswa saat akan masuk ke ruang ujian.

"Kami melakukan operasi sebelum siswa masuk ruang ujian. Ada beberapa yang diketahui membawa telepon genggam di sakunya," kata Kepala SMKN 4 Brangsong Kendal, Langgeng Budiarso, Senin (18/4/2011).

Langgeng menjelaskan, dengan adanya penemuan tersebut pihaknya akan memperketat pengawasan.

"Kami juga melarang siswa membawa tas ke ruang ujian," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia UN Kabupaten Kendal, Gunoto, mengatakan di hari pertama UN, Senin (18/4/2011), pihaknya tidak menemukan adanya kecurangan dan kertas soal ujian yang rusak.

"Semua berjalan lancar," kata Gunoto.

Ia menambahkan, sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan terkait dengan peserta UN yang tidak mengikuti ujian. Adapun ujian hari pertama UN adalah untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau