Warga Homs Ketakutan

Kompas.com - 20/04/2011, 04:09 WIB

Kairo, Kompas - Situasi tegang menghinggapi kota Homs, Suriah tengah, hari Selasa (19/4) setelah penembakan aparat keamanan atas sekelompok pengunjuk rasa di pusat kota itu pada Selasa dini hari. Homs, sekitar 160 kilometer utara kota Damaskus, adalah kota ketiga terbesar di Suriah setelah Damaskus dan Aleppo.

Penduduk Homs yang berjumlah sekitar dua juta jiwa dikenal terdiri dari multiras dan agama.

Menurut aktivis hak asasi manusia, Omar Adalbi, seperti dikutip situs Al Jazeera, terjadi tembakan masif ke arah pengunjuk rasa, yang hampir seperti pembantaian.

Saksi mata yang mengaku bernama Abu Essam, seperti dikutip situs Al Jazeera, mengungkapkan, terjadi tembakan masif langsung atas pengunjuk rasa dan sambungan telepon di Homs terputus.

”Situasi mencekam kini menghinggapi kota Homs. Pasukan dari Divisi 4 yang dipimpin Maher al-Assad (saudara Presiden Bashar al-Assad) kini disebar di kota Homs untuk menghadapi kemungkinan eskalasi aksi unjuk rasa,” ungkap Essam.

Menurut saksi mata lain yang tak mau menyebutkan namanya, ada pembantaian di Homs yang membawa korban sedikitnya 30 aktivis antara tewas dan luka-luka. Ia mengungkapkan, kota Homs kini diisolir dan penembak jitu disebarkan di atas atap gedung-gedung pemerintah.

Seorang saksi mata lain mengungkapkan, terdengar suara tembakan beruntun di dekat kantor polisi kota Homs sehingga seperti terdengar bunyi rantaian air hujan. Dalam waktu yang sama, lanjutnya, terdengar lewat pengeras suara seruan jihad untuk menyelamatkan pengunjuk rasa yang mendapat serangan itu.

Seorang saksi mata lain yang mengaku bernama Muhammad Rifaat mengatakan, ada upaya perundingan antara aparat keamanan dan tokoh-tokoh kota Homs untuk meredakan ketegangan di kota itu.

Alun-alun

Kota Homs hari Senin lalu diwarnai aksi unjuk rasa oleh sekitar 20.000 pemuda kota itu dan desa-desa sekitarnya. Komite rakyat yang dibentuk pemuda kota itu menguasai semua pintu menuju kota dan memeriksa siapa pun yang akan masuk kota.

Ratusan orang berkumpul di Alun-alun Jam di pusat kota Homs, membawa matras, makanan, dan minuman, serta menduduki alun-alun itu. Mereka meniru pendudukan alun-alun yang dilakukan pengunjuk rasa di Mesir saat menggulingkan Presiden Hosni Mubarak.

Pengunjuk rasa itu berteriak-teriak menuntut kebebasan, persatuan nasional, dan menolak pemerintah sektarian. Mereka bersumpah tak akan bubar hingga Presiden Assad mundur. Unjuk rasa ini yang akhirnya dibubarkan pasukan keamanan.

Pemerintah Suriah menuduh kelompok Salafi bersenjata bertanggung jawab atas aksi kekerasan di kota Homs dan Banias.

”Perkembangan terakhir ini menguak bahwa apa yang terjadi di beberapa provinsi di Suriah, yang menyebabkan tewasnya anggota militer, aparat keamanan, warga sipil, dan penyerangan terhadap tempat-tempat umum, adalah aksi makar bersenjata oleh kelompok Salafi, khususnya di Homs dan Banias,” kata pernyataan Kementerian Dalam Negeri Suriah.

Pernyataan Kementerian Dalam Negeri Suriah itu menegaskan, yang dilakukan kelompok bersenjata tersebut adalah tindakan kriminal yang harus mendapat hukuman seberat-beratnya.

Ditegaskan lagi, otoritas Suriah tak akan bersikap lunak dalam menghadapi kelompok bersenjata itu yang mengancam keamanan nasional dengan menyebarkan teroris.

Dicabut

Kantor berita Suriah, SANA, memberitakan, kabinet Presiden Assad setuju mencabut undang-undang darurat yang telah berlaku hampir setengah abad di negara itu. Pencabutan undang-undang darurat adalah tuntutan utama pengunjuk rasa.

Pemerintah juga menghapus pengadilan keamanan negara, yang selama ini mengadili tahanan politik. Pemerintah menyetujui undang-undang baru yang memberikan hak kepada warga untuk berdemonstrasi secara damai. Namun, belum jelas apakah langkah terobosan ini bisa meredakan unjuk rasa antipemerintah. (mth/ap/was)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau