Kenaikan harga gabah terjadi seiring berkurangnya panen musim tanam pertama (rendeng) dan penghentian impor beras sejak 1 April lalu.
Toni Afandi, petani di Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan, Selasa (19/4), menyebutkan, harga GKP di tingkat petani kini berkisar Rp 3.150-Rp 3.200 per kg. Harga itu naik Rp 500 per kg dibandingkan dengan pertengahan Maret 2011.
Harga beras pun naik rata-rata Rp 200 per kg sebulan ini. Beras kualitas premium, misalnya, kini berkisar Rp 6.500-Rp 6.800 per kg. Adapun beras kualitas medium Rp 5.800-Rp 6.000 per kg.
Kenaikan harga gabah terjadi saat sebagian besar dari 94.311 hektar sawah di Karawang selesai panen musim tanam pertama (rendeng).
Menurut Toni, keuntungan petani tidak optimal karena hasil panen rata-rata hanya 3-4 ton GKP per hektar, lebih rendah dari potensinya 5-6 ton GKP. Serangan wereng, penggerek batang, dan cuaca buruk, menurunkan produksi padi.
Ijam Sujana, Wakil Kontak Tani Nelayan Andalan Karawang, menyebutkan, kenaikan harga gabah turut dipicu penghentian impor beras. Hal itu terlihat dari banyaknya permintaan pedagang beras di daerah. Mereka mendatangi lokasi panen dan menawar tinggi gabah petani.
Ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro Karawang, Aep Sugianto, menambahkan, mitra kerja Perum Bulog juga turun untuk menyerap gabah petani dan bersaing dengan tengkulak. Cuaca yang cukup baik belakangan ini, turut mendongkrak harga karena mutu gabah membaik dengan kadar air rendah.
Di Bandar Lampung, Selasa (19/4), Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat (KPP) Serikat Tani Nasional (STN), Yudi Budi Wibowo, meminta pemerintah lebih serius mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Redistribusi lahan segera diwujudkan, sementara impor bahan pangan ditekan seminimal mungkin.
Yudi menyebutkan, berdasarkan hasil konsolidasi Dewan Nasional STN, 17-19 April di Bandar Lampung, kebijakan dihapuskannya bea masuk beras impor hingga nol persen sangat merugikan petani di dalam negeri.
Terkait musim tanam kedua, Kepala Bidang Perencanaan dan Evaluasi Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BB POPT), Firdaus Natanegara, mengingatkan akan potensi serangan penggerek batang terutama di sentra padi Jawa Barat. Hama itu diperkirakan mendominasi serangan OPT musim tanam 2011 ini, khususnya di wilayah pantai utara Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, dan Cirebon.
Hama saat ini sudah menyerang sebagian lahan tanaman padi di Kabupaten Tasikmalaya. Hama tikus menyerang sekitar 300 hektar sawah di tiga kecamatan di kabupaten itu.
Hama tikus juga menyerang tanaman padi di Desa Kepuhrejo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Hama tikus menyerang tanaman padi berusia kurang lebih satu bulan.