Kericuhan

Kejar Piala Adipura, Dua Instansi Baku Hantam

Kompas.com - 20/04/2011, 13:32 WIB

BULUKUMBA, KOMPAS.com — Seorang pegawai negeri sipil dari instansi kantor dinas pariwisata baku hantam dengan sejumlah anggota Satpol PP, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kejadian yang memalukan dengan melibatkan dua instansi yang masih lengkap dengan seragam kepegawaiannya ini terjadi dikala petugas Satpol PP menertibkan sejumlah lapak di sekitar pasar tua, Rabu (20/4/2011).

Merasa lapak milik orangtuanya dirusak, Romi langsung mendatangi kantor Satpol PP. Romi yang emosi langsung membuat onar dan mencari Kasatpol PP Haerul Nurdin yang tidak berada di dalam ruangannya.

Kasi Perda Satpol PP H Abunawas kepada Kompas.com menuturkan, karena melihat jumlah Satpol PP lebih banyak, Romi meninggalkan kantor tersebut. Tak berapa lama kemudian Romi pun kembali dengan membawa samurai dan mengipas-ngipaskan ke sejumlah anggota Satpol PP.

Merasa nyawa petugas Satpol PP terancam, petugas Satpol PP kemudian mengepung dan menyerang Romi hingga perkelahian pun tak terhindarkan. Perkelahian itu baru berakhir ketika sejumlah aparat kepolisian Polres Bulukumba yang kantornya berdekatan dengan kantor Satpol PP bergegas merelai. Kedua belah pihak kemudian diamankan di Mapolres Bulukumba.

"Kami kerja sesuai dengan surat perintah Bupati, di mana lapak-lapak yang berdiri di lahan pemerintah harus dibersihkan karena kami mengejar piala Adipura," tutur Abunawas.

Secara terpisah, Romi yang ditemui di ruangan reskrim mengaku memang dirinya yang mendatangi kantor Satpol PP. Ia kecewa dengan ulah Satpol PP yang telah membongkar lapak milik orangtuanya. Bahkan, Romi mengaku lahan yang didirikan lapak tersebut merupakan tanah pribadi, bukan tanah pemerintah.

"Tanah itu punya surat-surat lengkap. Daripada kosong, saya membangunkan warung kopi tepat di depan rumah orangtua saya," tutrnya. Romi mengaku, dirinya dikeroyok oleh petugas Satpol PP yang mengakibatkan sejumlah luka lebam di wajah dan luka goresan di tangan.

Sudah beberapa pekan, Satpol PP disibukkan dengan penertiban, mulai dari penertiban hewan ternak yang berkeliaran di dalam kota hingga lapak minuman keras.

Hal itu dilakukan sesuai dengan perintah Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan dalam keindahan dan kebersihan kabupaten yang disebut dengan Kabupaten Panritalopi, di mana Kabupaten Bulukumba belum pernah meraih piala Adipura.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau