Orang Cikeusik, Pandeglang, Banten, mati di tempat sendiri karena yakin akan iman mereka. Juga kalau menurut beberapa orang lain, mereka pantas mati. Kematian mereka menarik orang-orang dari pelbagai keyakinan. Mereka menunjukkan simpati, kesetiakawanan, dan berkumpul di sekitar jenazah. Banyak di antara mereka—dari aneka agama—terperenyak dengan kematian beberapa saudara itu.
Sayang, mereka tak punya daya membela orang-orang yang jadi saksi dari iman mereka sampai titik darah terakhir. Sementara itu, yang mempunyai daya serta kuasa tidak tersentuh bela rasanya untuk mencegah pembunuhan itu.
Di sekitar keranda Teresa dari Kolkata berkumpul banyak pelawat juga. Perempuan dari Eropa Tenggara itu mati di India, diratapi oleh orang yang tidak terbilang jumlahnya, tanpa batas keyakinan, dari agama apa pun. Mereka berbela rasa dengan orang yang sepanjang hidupnya begitu murah hati memberikan hidupnya bagi sesama yang malang, malah orang yang dekat dengan para orang malang itu tidak tergerak hatinya.
Bakhita adalah orang Afrika, bekas budak, yang kemudian menghabiskan waktu untuk rekan seperbudakan pada abad ke-20 tanpa hemat waktu dan kesehatan. Kematiannya ditangisi kaum tertindas di negaranya tanpa batas sosial dan agama. Jenazahnya dikelilingi orang-orang yang merasakan keluasan hati Bakhita. Hormat mereka tak memakai ukuran uang dan kursi.
Tatkala Carol Wojtyla mati, di sekelilingnya menangis ribuan orang dari aliran politik apa pun, hampir segala agama, situasi ekonomi apa pun, suku mana pun. Ukuran penghormatan yang umum diberikan kepada orang meninggal. Waktu itu terlampaui oleh rasa kagum pada kesetiakawanan.
Orang yang mengitari jenazah biasanya menunjukkan bagaimana kedekatan atau hormatnya. Umumnya orang-orang itu sudah tidak memperhitungkan imbalan dari kehadirannya di sekitar jenazah. Lain halnya dengan hadir dalam pesta pernikahan.
Orang hanya mau menunjukkan bela rasa, atau rasa cinta, atau penghargaan setulus-tulusnya kepada si mati sebab si jenazah toh sudah tidak melihat, mendengar, atau merasakan jasa kehadirannya, dan tidak akan membalas apa pun. Paling jauh si pelayat hanya akan menantikan balasan dalam hidup kekal atau dari Tuhan: itu pun kalau yang bersangkutan masih punya kepercayaan akan hidup kekal atau akan Tuhan.
Kalaulah ia mau ”unjuk muka” kepada keluarga ”yang ditinggalkan”, itu pun dengan nilai yang amat terbatas. Jembatan itu ada antara Cikeusik dan Kalvari: tempat Yesus juga dibantai.
Marilah kita catat sebentar siapa saja yang ada di sekitar Guru dari Nazaret, yang mati disalib di Bukit Tengkorak, yang sedemikian mengerikan sehingga membuat banyak orang bergidik. Menurut catatan, di bawah salib bersimpuhlah ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya. Ada beberapa murid perempuan yang hadir ”berjarak”. Rupanya agar tak ”disangkutpautkan” dengan ”Penjahat Khusus” ini.
Kebanyakan ”Murid Istimewa” tidaklah tampak. Pun mereka yang sebelumnya sumpah setia sampai mati, kalau perlu membela dengan segala sarana. Hadir beberapa tentara yang bertanggung jawab bagi kematian Guru itu: dalam menancapkan paku raksasa, yang menggali lubang salib, yang menusuk lambung Yesus, dan beberapa yang justru mencari untung dari pakaian warisan Si Terhukum.
Di sekitar Yesus masih ada seorang penjahat yang ikut mengolok-olok dan satu terpidana yang bertobat serta dijanjikan akan masuk firdaus hari itu. Kemudian masih ada satu perwira Romawi. Yang ini kemudian mengakui keilahian Guru Nazaret itu.
Di kejauhan ada sekelompok ”orang beriman Yahudi” yang justru menghujat-Nya. Itulah orang yang hadir di sekitar si mati, yakni Yesus dari Nazaret itu. Orang berbagai keyakinan: ada yang mengaku beriman, patuh beribadat, ada yang disebut kafir dan murtad menurut bahasa setempat.
Pertanyaan besar adalah: di mana para pemimpin negeri itu yang sebenarnya harus mempertanggungjawabkan eksekusi hukuman berat itu? Di mana para pemuka agama yang memang terkejut sebab tirai Bait Allah terkoyak? Di mana sepuluh murid yang belum sampai 24 jam sebelumnya ditraktir makan dan belum 18 jam sebelumnya diingatkan supaya berdoa sejam saja? Di mana ribuan orang yang beberapa hari sebelumnya merayakan-Nya masuk ke Jerusalem untuk menyambut kemuliaan-Nya?
Di mana pula puluhan ribu orang yang sekian waktu sebelumnya ramai-ramai mau mengangkat Dia jadi raja setelah mukjizat perbanyakan roti? Di mana
Sementara itu, loyalitas sekitar Cikeusik menarik. Konsekuensinya perlu ditarik. Iman memang tak selalu lengket dengan hura-hura ibadat. Kesetiaan kepada Tuhan dapat tampil ketika rumah tangga dan perusahaan kita sukses.
Namun, untuk setia berdiri di sekitar salib? Pantaslah Teresa dari Kolkata berseru: ”Kamu tidak diminta untuk sukses, melainkan untuk setia”. Setia sampai akhir. Semoga kita hadir di sekitar Salib Yesus dan semua saudara-Nya yang terinjak, terjepit, dan tersingkir dari keyakinan mana pun!
Memang antara Cikeusik dan Kalvari jauh dari sudut tempat dan saat, dekat dari sudut kesetiakawanan. Semoga kita dapat berbagi harta, berbagi bahagia, berbagi derita, berbagi sengsara, berbagi nestapa: tanda kesetiaan. Setia kepada Tuhan dan bersetia kawan dengan sesama. Ikut serta membangun kesejahteraan bersama dengan persahabatan sejati, juga dengan risiko maut, agar ikut dibangkitkan bersama Dia, yang taat kepada Bapa-Nya dalam kesetiakawanan-Nya kepada kita (Filipi 2:1-11).
Selamat menyongsong Dia yang setia kawan, mati, dan dibangkitkan!