Sosialisasi PLTN Jalan Terus

Kompas.com - 27/04/2011, 18:59 WIB

MUNTOK, KOMPAS.com — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat terus memfasilitasi sosialisasi rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir. Padahal, penolakan terhadap rencana itu terus dilakukan.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Bangka Barat Choirul Amri mengatakan, sosialisasikan dilakukan oleh pusat. Penanggung jawabnya adalan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

"Baru-baru ini Bapeten menyosialisasikan soal rencana pemantauan lingkungan terkait rencana uji tapak PLTN di Desa Air Putih," ujarnya di Muntok, Rabu (27/4/2011).

Sosialisasi baru dilakukan secara terbatas kepada para kepala satuan kerja, camat, dan sejumlah pengurus Desa Air Putih. Selanjutnya akan ada sosialisasi untuk seluruh warga Air Putih yang rencananya akan dijadikan lokasi pembangunan PLTN.

"Kami belum tahu kapan sosialisasi kepada warga dilakukan. Semua tergantung Bapeten dan Batan. Kami hanya menyosialisasikan saja," tuturnya.

Bapeten juga akan memasang alat pantau radiasi di radius 80 kilometer dari rencana lokasi PLTN. Alat itu rencananya dipasang tahun depan.

"Kami dapat penjelasan seperti itu dari Bapeten. Soal realisasi lebih lanjut kami tidak tahu karena itu bukan kewenangan kami," tuturnya.

Sementara sebagian warga Desa Air Putih menyatakan, mereka hanya tahu PLTN untuk menambang pasokan listrik. Mereka tidak tahu soal potensi dampak negatif pembangunan PLTN di desa.

"Belum pernah ada pejabat datang dan kasih tahu soal PLTN. Kami hanya dengar-dengar saja," ujar salah seorang warga, Kazam.

Warga pernah mendengar sepintas seluruh desa akan lebih terang dan pasokan listrik tidak terbatas. Namun, warga tidak pernah tahu potensi dampak radiasi dari PLTN.

"Kalau memang PLTN bagus, kami tidak masalah," ujarnya.

Warga juga pernah diberi tahu secara informal bahwa PLTN akan dibangun di Kemang Masam. Warga dusun itu tidak banyak menunjukkan reaksi.

"Kami menolak atau menerima sama saja. Kalau memang baik, kami setuju saja," ujarnya.

Sementara penggiat Laskar Bangka Belitung Tolak Nuklir (B-Ton), Fahrizan, menyatakan, kampanye penolakan PLTN terus dilakukan. B-Ton memutar dampak ledakan reaktor nuklir Chernobyl, Ukraina, di lokasi yang direncanakan akan dibangun PLTN.

"Kami menunjukkan orang-orang terkena radiasi nuklir. Selama ini hanya ditunjukan hasil pertanian jadi bagus kalau direkayasa dengan radiasi nuklir. Tidak pernah ditunjukkan orang jadi penyakitan kalau terkena radiasi nuklir dari PLTN," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau