Propaganda

61 Suku Diklaim Tuntut Mundur Khadafy

Kompas.com - 28/04/2011, 03:04 WIB

PARIS, KOMPAS.com - Para ketua atau wakil dari 61 suku di berbagai penjuru Libya hari Rabu mendesak diakhirinya kekuasaan Moammar Khadafy dalam sebuah pernyataan bersama yang disiarkan oleh penulis Prancis, Bernard-Henri Levy.

"Menghadapi ancaman-ancaman yang membebani persatuan negara kami, manuver dan propaganda diktator dan keluarganya, kami dengan ini mengumumkan: Tidak ada yang bisa memecah-belah kami," kata teks itu, yang dirancang di Benghazi pada 12 April. "Kami sama-sama mendambakan Libya yang bebas, demokratis dan bersatu," katanya.

"Libya esok, jika diktator telah pergi, akan menjadi sebuah Libya yang bersatu, dengan Tripoli sebagai ibu kotanya dan dimana kami pada akhirnya bisa membangun masyarakat sipil menurut keinginan kami sendiri," katanya.

Levy, seorang intelektual terkenal di Prancis, menjadi juru bicara tidak resmi bagi pemberontak Libya di Paris dan berhasil mendorong Presiden Nicolas Sarkozy menggalang dukungan militer dan politik internasional bagi kelompok pemberontak.

Ia mengatakan kepada AFP, pernyataan itu dipersiapkan di markas pemberontak di Benghazi, Libya timur, namun diedarkan di seluruh penjuru negeri, dan kini didukung oleh banyak pemimpin suku berpengaruh di daerah-daerah dimana Kadhafi masih memegang kendali kekuasaan.

Levy menerbitkan pernyataan itu di situs berita majalahnya, La Regle du Jeu, yang juga mencakup tanda tangan asli dalam bahasa Arab. "Kami, orang Libya, membentuk satu suku tunggal yang bersatu -- suku orang Libya bebas, yang memerangi penindasan dan kejahatan memecah-belah," kata teks yang diterjemahkan dalam bahasa Prancis itu.

Sejumlah pemimpin Barat juga mendesak Khadafy mengundurkan diri di tengah pemberontakan mematikan terhadap pemerintahnya. Khadafy (68) adalah pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa. Khadafy bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak.

Libya kini digempur pasukan internasional sesuai dengan mandat PBB yang disahkan pada 17 Maret. Resolusi 1973 DK PBB disahkan ketika kekerasan dikabarkan terus berlangsung di Libya dengan laporan-laporan mengenai serangan udara oleh pasukan Moamer Kadhafi, yang membuat marah Barat.

Lebih dari 100 jet tempur dan pesawat pendukung NATO saat ini telah dikerahkan untuk menggempur Libya, serta selusin kapal perang yang semuanya beroperasi di bawah komando NATO.

Selama beberapa waktu hampir seluruh wilayah negara Afrika utara itu terlepas dari kendali Khadafy setelah pemberontakan rakyat meletus di kota pelabuhan Benghazi pada pertengahan Februari. Namun, kini pasukan Kadhafi dikabarkan telah berhasil menguasai lagi daerah-daerah tersebut.

Ratusan orang tewas dalam penumpasan brutal oleh pasukan pemerintah dan ribuan warga asing bergegas meninggalkan Libya pada pekan pertama pemberontakan itu. Aktivis pro-demokrasi di sejumlah negara Arab, termasuk Libya, terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan Mesir yang berhasil menumbangkan pemerintah yang telah berkuasa puluhan tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau