Ekspedisi citarum

Sabar Menanti Janji Ditepati

Kompas.com - 29/04/2011, 10:30 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Yani Quraisin (47) duduk melepas lelah sambil di teras rumahnya yang masih mengkilat basah di tepian Sungai Citarum. Bukan sapu atau kain pel yang digunakan, melainkan semacam gagang dengan lembaran karet di ujungnya yang berguna untuk mendorong lumpur. Dia baru saja selesai mengeluarkan lumpur yang terbawa banjir dan rehat sebelum melanjutkan untuk mengeluarkan air yang masih terperangkap di dalam rumah dua tingkat yang berukuran 7x8 meter.

Rumah Yani terselip di antara pemukiman padat di Kampung Cieunteung, sebuah daerah berpenduduk 300 keluarga di Kelurahan dan Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Masuk ke sebuah gang sempit di samping masjid, kemudian beberapa kali berbelok di persimpangan kecil. Kediaman ibu empat anak dan satu cucu ini tersempil di satu tikungan dengan pintu masuk selebar pundak orang dewasa.

Pada musim hujan, membersihkan rumah menjadi sebuah rutinitas bagi Yani, bahkan dia sampai kalang kabut dibuatnya. Begitu selesai membersihkan lumpur pada siang hari, malam hari rumahnya kembali tergenang air berikut lumpur. Bila ketinggian air mencapai 1,5 meter, barulah dia menyerah dan mengungsi, membersihkan rumah baru dilakukan setelah banjir surut.

Ditengok ke dalam, tidak ada perabot yang diletakkan di lantai pertama. Yani juga memang tidak berniat mempercantik rumahnya. ”Percuma diisi  perabotan, semuanya pasti rusak terendam air. Yang tersisa adalah kasur, kompor, dan pakaian yang sudah diungsikan ke atas,” kata Yani.

Mengandalkan gaji suaminya sebesar Rp 2 juta yang bekerja di sebuah dinas di Kota Bandung, Yani memang tidak bisa berbuat banyak. Diboyong ke sana oleh suaminya sejak tahun 1980-an, Yani mengaku bahwa sebelumnya tidak ada masalah untuk tinggal di Kampung Cieunteung, tempatnya sekarang ini. Sepanjang tinggal di sana, hanya dua tahun yang diingatnya sebagai puncak banjir yakni 1986 dan 2005 dengan ketinggian air melebihi dua meter.

Pindah dari tempat itu bukanlah pilihan yang bisa dipertimbangkan Yani yang setiap hari harus bergulat dengan keterbatasan uang agar dapur tetap mengepul. Hidup dengan banjir pun menjadi jalan yang tersedia.

Hal senada diungkapkan Cucu Rohayati (48), warga Cieunteung lainnya. Cucu yang setiap hari mendapat Rp 10.000 dengan membungkus kue cokelat mengaku kerasan tinggal di sana. Meski hidup terbatas dengan menghidupi dua anak tanpa keberadaan suami, dia masih menganggap daerah itu masih bisa menghidupinya.

Tinggal di sebuah kamar kos dengan sewa Rp 150.000 per bulan, Cucu memilih bertahan di Cieunteung karena tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dia lakukan. Penghasilan tambahan dengan menjual gorengan di pagi hari harus libur sementara karena daerah tersebut sering kebanjiran.

Pertemuan Anak Sungai

Kampung Cieunteung adalah satu dari beberapa wilayah di Baleendah maupun Dayeuhkolot yang rajin disambangi banjir setiap musim hujan tiba. Penyebabnya, daerah tersebut berada di tepi Sungai Citarum yang mengalir dari timur ke barat. Daerah tersebut juga menjadi pertemuan dengan anak sungai yakni Cisangkuy dari selatan dan Citepus di utara.

Pelurusan sungai yang dilakukan pemerintah menyebabkan air dari Kota Bandung maupun anak sungai lainnya berpindah dengan cepat ke daerah yang lebih rendah dan bertemu di Baleendah.

Sedimentasi yang berlangsung selama sepuluh tahun sejak proyek normalisasi sungai juga menyebabkan endapan setebal tiga meter di dasar sungai. Tinggi genangan yang bisa ditampung badan sungai menurut desain proyek normalisasi adalah 659,3 meter di atas permukaan laut sedangkan kampung Cieunteung sendiri berada di elevasi 658 mdpl.

Menurut catatan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Cieunteung termasuk dalam 1.000 hektar (ha) daerah yang tidak akan bebas banjir. Alasannya, daerah itu secara alami merupakan kawasan limpasan air. Kontur tanah Cieunteung lebih rendah dari bibir sungai.

Itulah kenapa, banjir mudah terjadi di sana karena beberapa faktor yang terjadi bersamaan. Hingga kini, mitigasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bandung baru sebatas mendirikan dapur umum untuk menyuplai makanan bagi warga yang mengungsi di tenda-tenda.

Menurut Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, Daddi Mulyadi, tahun 2011 ini pemerintah memulai proyek untuk mengeruk sedimen di badan sungai yang bakal memakan waktu 3 tahun. Pengerukan sungai sepanjang 30 kilometer ini diperkirakan memakan biaya Rp 300 miliar yang berasal dari pinjaman luar negeri.

Pengerukan tersebut sebetulnya bertujuan untuk mengembalikan kondisi Sungai seperti saat sudah dinormalisasi. ”Tentu saja, semua bakal sia-sia bila kerusakan di hulu tidak dicegah, sedimen akan kembali lagi memenuhi sungai di hilir,” katanya.

Rusun

Kondisi yang ada sekarang, rusun bagi warga korban banjir memang sedang dibangun oleh pemerintah. Lokasinya berada di belakang kantor Kecamatan Baleendah, atau sekitar 1 kilometer (km) dari Kampung Cieunteung. Rusun yang sudah 80 persen rampung itu adalah hibah dari Kementerian Perumahan Rakyat. Warga korban banjir diimbau tinggal di rusun itu. Harga sewa bulanan yang semula dipatok adalah Rp 150.000 dan kurang disambut oleh warga.

Namun, sebagian warga Cieunteung lebih memilih untuk bertahan di rumah mereka daripada harus berpindah ke tempat baru. Hal itu diutarakan Ketua RW 20, Jaja. ”Kami ingin melihat pemerintah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menanggulangi banjir. Sampai sekarang belum terlihat,” katanya.

Jaja mengetahui rencana pemerintah untuk mengeruk Sungai Citarum dan memutuskan untuk melihat hasilnya. Bila banjir tetap terjadi meski setelah sungai dikeruk, warga tidak punya pilihan lain kecuali pindah ke daerah lain. Dia menegaskan, membangkang bukanlah tindakan yang sedang mereka lakukan.

Sikap tersebut juga didasarkan sikap pemerintah yang tidak jelas. Menurut Jaja, mereka pernah ditawari solusi dari pemerintah pada tahun 2010 yakni membangun rumah singgah, pengadaan perahu, hingga mengubah rumah menjadi panggung. Namun, begitu banjir besar yang terjadi pada malam pergantian tahun baru, pemerintah tiba-tiba mengeluarkan tawaran untuk relokasi.

”Sungai Citarum Banjir bukan hanya soal Cieunteung saja, merelokasi kami takkan menyelesaikan apa pun,” ujar Jaja.

Setidaknya sikap itu juga diamini Lurah Baleendah, Heru Kiatno. Pejabat yang semula menuding warga Cieunteung keras kepala pun bisa memahami setelah turun ke lapangan dan melihat banjir dari sudut pandang mereka.

Dan itulah yang terus mereka lakukan sampai sekarang, setia menanti. (Didit Putra Erlangga Rahardjo/Rini Kustiasih)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau