Jakarta, Kompas -
”Demokrat dan Golkar dipilih karena parpol besar, sehingga lebih mudah untuk perjuangan di parlemen,” jelas Imam di kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Senin (2/5). Ia menambahkan, ada anggota NII yang menjadi anggota DPRD pula.
Misi politik NII dengan berjuang lewat parpol, lanjut Imam, terutama muncul setelah era reformasi. Sebelumnya, misi NII lebih banyak di bidang pendidikan dan ekonomi.
Sejumlah tersangka teroris seperti Imam Samudera, katanya, adalah mantan anggota NII. Bahkan, Abu Bakar Ba’asyir juga pernah aktif di NII tahun 1970-an.
Imam juga menuturkan, Panji Gumilang yang memimpin Pondok Pesantren Al-Zaytun adalah pemimpin NII KW 9. Panji punya hubungan dekat dengan sejumlah orang, termasuk mantan pemilik Bank Century, Robert Tantular. Panji diduga punya simpanan besar di bank itu.
Imam menemui Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, menyampaikan apa yang diketahuinya terkait NII dan harta lembaga itu yang diduga disimpan di Bank Century. Menurut Priyo, ia akan meminta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyelidiki dugaan uang Panji di Bank Century.
Priyo, yang juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat Golkar, bersyukur belum ada anggota NII yang menjadi pengurus partai.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Achmad Mubarok menuturkan, NII yang kini meresahkan masyarakat sebenarnya hanya kelompok kecil yang tidak dapat dikendalikan.
Mubarok membenarkan, Panji Gumilang adalah mantan anggota NII. ”Panji Gumilang berbeda dengan NII Kartosuwiryo. Bahkan, dia didukung intelijen dengan tujuan melawan NII Kartosuwiryo. Dia berpikir NII harus dilawan dengan mencerdaskan dan memakmurkan rakyat dan itu yang dilakukannya melalui Al-Zaytun,” paparnya.
Mubarok juga membenarkan, akhir Maret Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum serta Sekretaris Jenderal Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono ke Al-Zaytun. Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian safari pesantren. Mereka juga memberi bantuan untuk Al-Zaytun.
Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar menyatakan, pemerintah secara tegas melarang keberadaan NII. Kelompok itu dikhawatirkan ingin mengacaukan suasana, sehingga tidak ada tempat untuk NII di Indonesia. Masyarakat diminta berhati-hati terhadap kelompok itu.
”Saya curiga orang-orang NII ingin mengadu domba sesama masyarakat. Kita ini sangat majemuk, sehingga kondisinya rentan sekali,” ujarnya. Untungnya, kata Patrialis, rakyat Indonesia cepat memahami situasi sehingga tak mudah diadu domba dan tak terjadi kesalahpahaman.
Mengenai dugaan keterkaitan NII dengan Pondok Pesantren Al-Zaytun di Jawa Barat, Patrialis mengatakan, ia tengah menunggu hasil pemeriksaan pihak berwajib. ”Jika ada indikasi saya rasa tak akan dibiarkan,” katanya.(nwo/iam/ina/bil/