Warisan budaya

Artefak Reba Perlu Dimuseumkan

Kompas.com - 05/05/2011, 22:39 WIB

BAJAWA, KOMPAS.com - Artefak Reba, dalam upacara ritual dan perayaan tahunan masyarakat etnik Ngadha, di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, perlu dinventarisasi oleh pemerintah daerah setempat. Bahkan perlu dimuseumkan guna mencegah kepunahan.

Dalam perkembangannya saat ini, di masyarakat etnik Ngadha, yang meliputi Kecamatan Jerebuu, Bajawa, Golewa, Bajawa Utara, dan Aimere, banyak kampung adat yang tak mempertahankan sepenuhnya keaslian bentuk ritual Reba. Ada beberapa hal dakam ritual Reba telah dilupakan.

"Sebagai upaya pewarisan nilai budaya inventarisasi perlu dilakukan, sebab banyak suku yang tak lagi mempertahankan keaslian bentuk Reba," ungkap antropolog dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Pater Ansel Dore Dae SVD.

Ansel mencontohkan ritual Tege Sobhi, tahapan pembuatan dan memasukkan sobhi (sisir) ke dalam rumah adat, sudah banyak dilupakan. Sobhi merupakan sistem penanggalan atau kalender agraris yang mengikuti peredaran bulan. Tahapan ini merupakan bagian dari ritual Reba, yang digelar sehari sebelum acara inti Reba. Reba sendiri semacam perayaan tahun baru adat etnik Ngadha.

Menurut Ansel, pemeritrah daerah perlu menginventarisasi artefak Reba, dan mengklaim unsur-unsur fisik itu sebagai milik pemerintah dan masyarakat Ngada, sehingga pemerintah juga wajib melestarikannya. "Dapat disimpan di museum, sebab di dalam museum penyimpanan artefak akan lebih terpelihara baik daripada disimpan di rumah adat. Belum lagi kerawanan benda adat hilang mengingat hubungan kekerabatan dewasa ini juga cenderung longgar," tutur Ansel, yang juga Kepala Museum Bikon Blewut, di Kabupaten Sikka, Flores.

Kampung Bena

Prof Stephanus Djawanai, Guru Besar Bidang Etnolinguistik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Flores (Uniflor) Ende mengemukakan, sampai saat ini suku yang memelihara baik ritual Tege Sobhi, yakni di Kampung Bena, Kecamatan Jerebuu, Ngada. Bena merupakan kampung tua yang sudah berusia ribuan tahun.

"Tradisi Sobhi merupakan kearifan lokal yang sangat unik, dan perlu dilestarikan supaya jangan punah. Dan Kampung Bena yang sangat teguh sampai sekarang mempertahankan tradisi ini," kata Stephanus.

Stephanus secara khusus meneliti tentang Sobhi sekitar tahun 1978 sebagai bahan pengajuan gelar doktoralnya, di University of Michigan, Amerika Serikat.

Sobhi dibuat dari batang bambu aur, ukuran panjang sekitar 20 cm, dan lebar 4 cm. Sobhi dibentuk, pada setengah bagian dibuat 12 gigi atau jari-jari sebagai bentuk sisir. Jari-jari itu berbicara tentang waktu atau bulan-bulan yang berhubungan dengan kegiatan agraris.

Waktu penghitungan Sobhi dilakukan saat wula muzi, bulan baru, ketika keadaan gelap sama sekali. Selanjutnya, setiap kali memasuki bulan baru (berganti bulan), maka satu jari-jari dalam Sobhi akan dibengkokkan bagian ujungnya sebagai penanda.

Yang unik, menurut Stephanus, kalender Sobhi terdiri dari 13 bulan, bukan 12 bulan sebagaimana kalender yang berlaku saat ini. Jika dicermati pula, waktu peredaran Bulan hingga memasuki bulan baru antara 28 atau 29 hari, hal itu juga merupakan siklus menstruasi wanita yang berlaku umum. Namun apabila dikalikan, 13 (jumlah bulan) dengan 28 diperoleh hasil 364 hari. Jumlah itu ternyata hanya selisih satu hari dengan kalender astronomi (365 hari dalam setahun).

"Hal ini menunjukkan kehebatan kearifan lokal, dan orang-orang dulu juga memiliki pengetahuan, dan ini berhubungan dengan kehidupan agraris. Uniknya pula, pemberian nama-nama bulan berdasarkan jenis pekerjaan, tanaman, dan ikan," kata Stephanus.

Stephanus mencontohkan diantaranya bulan Bolo, kegiatan membersihkan kebun, lalu Mabha, persiapan kebun, Fange Zia, musim buah baru, Ipu Raru, masa kemunculan ikan-ikan kecil di muara sungai, serta witu, masa berburu. "Yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya, nama bulan ke-13 belum diketahui," ungkap Stephanus.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika Kabupaten Ngada, Frans Wogha menyambut baik usulan inventarisasi artefak Reba. Selama ini, kata dia, inventarisasi secara menyeluruh artefak Reba etnik Ngadha memang belum pernah dilakukan. "Kalau sudah ada tawaran, ada museum yang bersedia menyimpannya, hal itu sangat positif," kata Frans.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau