Kunjungan kerja

Perilaku DPR yang Memalukan

Kompas.com - 07/05/2011, 03:15 WIB

Memalukan. Mungkin itu kata paling sopan yang pantas ditujukan kepada sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat, khususnya terkait kegiatan kunjungan kerja ke luar negeri belakangan ini.

Memalukan karena kunjungan kerja anggota DPR ke luar negeri makin menunjukkan rendahnya sensitivitas mereka terhadap aspirasi rakyat. Memalukan karena kegiatan itu menunjukkan inkonsistensi antara ucapan dan tindakan sebagian wakil rakyat. Memalukan karena tindakan itu juga makin menunjukkan ”kacaunya” kualitas pribadi rata-rata anggota DPR.

Fenomena memalukan terakhir terlihat dalam insiden surat elektronik (e-mail) yang dialami sebagian anggota Komisi VIII DPR saat bertemu dengan Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Melbourne, Australia. Kasus yang lantas menjadi bahan olok-olok ini terjadi saat Komisi VIII memberikan jawaban ngawur saat ditanya alamat e-mail resmi mereka.

Menanggapi masalah ini, Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding yang berasal dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa justru balik menuding PPIA telah bertindak tak proporsional dengan hanya mengungkit hal-hal negatif.

”Janganlah kita senang meributkan hal-hal kecil, seperti e-mail dan SMS,” harap Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso.

Ironisnya, pembelaan para anggota DPR sering kali justru menimbulkan persoalan atau pertanyaan baru. Misalnya, saat dikatakan bahwa anggota DPR merupakan politisi sehingga wajar tak mengetahui e-mail resmi karena masalah itu urusan staf.

Jika memang demikian, mengapa Komisi VIII DPR tidak menjawab pertanyaan secara jujur dan tanpa harus mengada-ada dengan menjawab dengan ”komisi delapan at yahoo dot com”?

Padahal teknologi komunikasi merupakan kepastian dalam politik saat ini. Sebut saja, Presiden Amerika Serikat Barack Obama adalah penggemar ponsel cerdas Blackberry.

Jawaban ngawur Komisi VIII DPR tentang e-mail resmi mereka sebenarnya serupa dengan jawaban sebagian anggota DPR selama ini, terutama saat menghadapi kritik. Disebut jawaban ngawur karena sering kali hanya asal-asalan, sekadar untuk menyenangkan masyarakat dan membangun citra positif. Sering kali sulit mencari konsistensi dan logika dari jawaban para anggota DPR, terutama jika dihubungkan dengan kejadian sebenarnya.

Keadaan ini terlihat jelas, misalnya, jika kita mengamati janji-janji anggota DPR untuk menyeleksi dan mengurangi anggaran kunjungan kerja anggota DPR. Faktanya kegiatan itu semakin sering dilakukan dengan anggaran makin besar.

Pada saat yang sama, berbagai ”keanehan” dari kunjungan kerja DPR juga semakin terkuak. Misalnya, Komisi X DPR yang diketahui mampir di Stadion Santiago Bernabeu, markas klub sepak bola Real Madrid. Tahun lalu Badan Kehormatan DPR diketahui juga bermalam dan jalan-jalan di Turki saat kunjungan kerja ke Yunani.

Akhirnya, berbagai jawaban ngawur itu menunjukkan kapasitas, sensitivitas, dan kualitas rata-rata para wakil rakyat.

”Olok-olok kepada DPR juga mencuat karena itu yang dapat dilakukan rakyat setelah berbagai kritik yang mereka sampaikan tidak digubris oleh DPR,” tutur Ray Rangkuti dari Lingkar Madani untuk Indonesia. Masalahnya saat ini, apakah anggota DPR mau memahami substansi dari sejumlah olok-olok itu atau tetap memilih bertahan dalam keangkuhan jabatan?

Jika Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional Taufik Kurniawan menuturkan, DPR tak boleh dikatakan bodoh, pertanyaan yang seharusnya perlu dijawab adalah mengapa DPR sampai bisa dikatakan seperti itu? (M Hernowo)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau