Debat teknik interogasi

Osama Ditemukan Berkat Penyiksaan?

Kompas.com - 08/05/2011, 03:13 WIB

DAHONO FITRIANTO

Tewasnya Osama bin Laden membuka kembali perdebatan soal teknik interogasi di Amerika Serikat. Sebagian kalangan di AS menyebut, ia ditemukan berkat penerapan teknik interogasi, yang disertai penyiksaan tak berperikemanusiaan, terhadap para petinggi Al Qaeda yang berhasil ditangkap dan ditahan AS.

Dalam usaha turut mengklaim andil atas keberhasilan AS menewaskan pemimpin Al Qaeda itu, sebagian kalangan pendukung dan kader Partai Republik menyatakan, kebijakan penerapan teknik interogasi keras di masa Presiden George W Bush telah menghasilkan informasi vital dalam pelacakan tempat persembunyian Osama.

Paul Wolfowitz, diplomat terkemuka dan deputi menteri pertahanan AS di masa Bush, mengatakan, kesuksesan operasi penyerbuan Osama menunjukkan arti penting kebijakan interogasi di masa pemerintahan Bush. ”Saya pikir, (keberhasilan) ini mengandalkan sebagian besar informasi (yang dihasilkan) dari kebijakan-kebijakan kontroversial itu,” tutur mantan duta besar AS untuk Indonesia ini.

Menurut dia, pengungkapan tempat persembunyian Osama tak mungkin terjadi apabila pihak intelijen AS membebaskan begitu saja kaki tangan teroris yang dianggap tidak penting, tanpa berusaha memeras informasi dari mereka.

Mantan Kepala Bidang Kontraterorisme Badan Pusat Intelijen AS (CIA) Jose Rodriguez mengatakan kepada Time, teknik-teknik keras untuk menginterogasi tawanan terkait terorisme menghasilkan informasi vital yang menuntun pada ditemukannya Osama.

Debat mengenai teknik interogasi ini muncul sekitar tahun 2003-2004, menyusul terungkapnya berbagai teknik penyiksaan dalam interogasi terhadap para tersangka teroris di beberapa penjara yang dioperasikan CIA dan militer AS di Irak, Afganistan, ataupun di Guantanamo, Kuba.

Presiden Bush memberi otorisasi penggunaan teknik-teknik penyiksaan itu sejak melancarkan ”perang terhadap terorisme” pasca-serangan 11 September 2001. Beberapa teknik penyiksaan yang terkenal antara lain waterboarding, yakni membaringkan seorang tersangka di bangku papan dalam posisi kepala mendongak, kemudian menyiramkan air ke wajah orang tersebut sehingga memunculkan sensasi tenggelam.

Pemimpin nomor tiga Al Qaeda, Khaled Sheikh Mohammed (oleh pihak AS sering disebut KSM saja), dikabarkan menjalani waterboarding ini hingga 183 kali.

Teknik lain yang sempat diketahui adalah mencegah tersangka tidur, memaksa mereka berpose dalam posisi tubuh yang menyiksa selama berjam-jam, dan bahkan membenturkan tersangka ke tembok.

CIA langsung menghentikan teknik-teknik interogasi sadis ini pada 2004 begitu hal tersebut menjadi perdebatan panas di kalangan publik dan politisi AS.

Tak ada kunci tunggal

Kabar bahwa penembakan Osama pekan lalu itu merupakan hasil penggunaan teknik penyiksaan ini langsung mendapat kritik. ”Yang paling mencolok bagi saya adalah usaha Gedung Putih untuk membenarkan (berbagai penyiksaan terhadap tawanan di) Guantanamo. Mereka mengatakan informasi yang menuntun mereka ke bin Laden berasal dari sana (Guantanamo), dan itu diperoleh melalui penyiksaan,” ungkap Manuel Erice, deputi direktur koran ABC dari Spanyol.

Para pejabat di bawah pemerintahan Presiden Obama segera membantah. Menurut seorang pejabat senior yang tak disebut namanya, tak ada satu pun informasi dari para tawanan, baik yang diperoleh melalui penyiksaan maupun tidak, yang memberikan kunci tunggal menuju persembunyian Osama.

”Tidak ada informasi yang membuat kami berpikir, ’Aha, informasi inilah yang menunjukkan lokasi Osama’, yang didapat dengan menyiksa tawanan. Setiap informasi hanyalah satu dari ratusan kepingan gambar puzzle,” tutur pejabat tersebut kepada CNN.

Pejabat kontraterorisme AS juga mengatakan, kepingan informasi penting soal identitas asli Abu Ahmed al-Kuwaiti—kurir utama Osama—baru diperoleh tahun 2004. Padahal, CIA sudah menghentikan penyiksaan terhadap KSM pada 2003.

Itu pun, baru pada pertengahan 2010 akhirnya CIA berhasil melacak keberadaan Al- Kuwaiti setelah secara kebetulan kurir itu menelepon seseorang yang sedang diawasi CIA. Panggilan telepon inilah yang membuat CIA memusatkan perhatian pada Al-Kuwaiti, yang kemudian menuntun mereka ke rumah Osama di Abbottabad, Pakistan, Agustus 2010.

Meski demikian, perdebatan soal penggunaan teknik interogasi ini diduga akan terus terjadi di AS. Bahkan pada 2009, jajak pendapat CNN menunjukkan, rakyat AS terbagi dua dalam memandang persoalan ini. Sebanyak 50 persen responden menyetujui penggunaan ”prosedur interogasi keras”, sementara 46 persen lainnya menentang.

Bagi para penentang penggunaan teknik interogasi ini, isu sebenarnya tak perlu diperdebatkan.

Charles Fried dan Gregory Fried, dua ilmuwan penulis buku Because It Is Wrong: Torture, Privacy and Presidential Power in the Age of Terror, mengatakan, kebrutalan dan kekejaman musuh tak bisa jadi pembenaran bagi kekejaman yang sama dalam interogasi.

Dalam artikel di The Washington Post, Kamis (5/5), Charles dan Gregory menulis, bahkan di dunia Muslim di Timur Tengah, tempat Osama berusaha merekrut orang-orang untuk bergabung dalam ”jihad”-nya, saat ini tengah terjadi gelombang revolusi demi kehidupan yang lebih baik atas dasar nilai- nilai yang juga mendasari kehidupan bangsa Amerika, yakni demokrasi.

”Kita hanya akan menodai pengorbanan mereka dan para prajurit kita apabila kita, yang telah lama menjunjung tinggi demokrasi, akhirnya justru memeluk nilai-nilai kebrutalan musuh meski itu atas nama pertahanan diri. Jika itu yang terjadi, Osama-lah yang memenangi perang ini. Kita harus mencegah itu,” tulis mereka.

(AP/AFP/REUTERS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau