Kebakaran

Permukiman Terbakar, Ibu dan Anak Tewas

Kompas.com - 10/05/2011, 04:43 WIB

Jakarta, Kompas - Kebakaran kembali melanda Jakarta Pusat, Senin (9/5) dini hari. Api yang berkobar di permukiman warga di Jalan Kramat V RT 04 RW 09 Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, itu menewaskan ibu dan anak, Pieters Mery (86) dan Marla Pieters (50).

Api yang diduga berasal dari rumah keluarga Pieters itu juga membakar tujuh rumah sehingga sebanyak 20 keluarga dengan 60 jiwa kehilangan tempat tinggal. Selain itu, tiga rumah rusak dalam proses pemadaman kebakaran.

Sebagian rumah-rumah itu terbuat dari kayu sehingga api membesar dengan mudah. Angin yang kencang juga membuat api merembet ke rumah di sekitarnya. Proses pemadaman kebakaran berlangsung 3,5 jam.

Kedua korban meninggal diperkirakan terjebak dalam api dan tidak sempat menyelamatkan diri. ”Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu,” ucap Lurah Kenari Lilik Yuli Handayani.

Penyebab kebakaran ini belum diketahui persis. Ada berbagai versi penyebab kebakaran ini. Lilik mengatakan, dugaan sementara api berasal dari hubungan pendek arus listrik.

Pihak pemadam kebakaran menduga kebakaran disebabkan ada orang yang membakar sampah. ”Diduga, api berasal dari rumah milik korban meninggal,” ucap Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat Achmad Lamping.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Senen Ajun Komisaris Asep Suparman mengatakan, pihaknya belum mendapatkan kepastian tentang penyebab kebakaran itu.

”Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari Puslabfor,” kata Asep.

Jemput petugas

Warga di lokasi kebakaran sempat kesulitan menghubungi petugas pemadam kebakaran sehingga akhirnya mereka mengabari petugas dengan mendatangi posko pemadam kebakaran di Cikini dan Matraman.

Namun, kendala ini dibantah Lamping. ”Kemungkinan warga tidak tahu nomor telepon pemadam kebakaran. Nomor telepon kami 021-6344215 selalu online setiap saat,” ucap Lamping.

Lamping membenarkan petugas mendapatkan kabar setelah ada warga yang mendatangi posko pemadam kebakaran.

Secara terpisah, Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah menyediakan tenda untuk menampung korban yang ingin mengungsi. Selain itu, tenda juga dipakai untuk menampung bantuan bagi para korban kebakaran.

”Tahap awal, kami menyediakan logistik bagi korban kebakaran untuk tiga hari mendatang. Kalau masih dibutuhkan, bantuan akan ditambah,” ujarnya.

Tenda yang didirikan di depan lokasi kebakaran juga dijadikan tempat untuk menaruh barang-barang korban yang bisa diselamatkan dari kebakaran.

Balai RW 09 juga disediakan untuk korban kebakaran yang ingin mengungsi sementara.

”Balai bisa digunakan sebagai tempat mengungsi korban karena ada atap yang permanen,” ucap Lilik.

Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di kantor Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta di Jalan Aipda KS Tubun sekitar pukul 15.00.

Api diduga berasal dari korsleting kabel pendingin ruangan. Kebakaran tidak membesar karena petugas dengan 16 armada pemadam kebakaran segera menangani api dan memadamkan seluruh aliran listrik.

(ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau