Jakarta, Kompas
Api yang diduga berasal dari rumah keluarga Pieters itu juga membakar tujuh rumah sehingga sebanyak 20 keluarga dengan 60 jiwa kehilangan tempat tinggal. Selain itu, tiga rumah rusak dalam proses pemadaman kebakaran.
Sebagian rumah-rumah itu terbuat dari kayu sehingga api membesar dengan mudah. Angin yang kencang juga membuat api merembet ke rumah di sekitarnya. Proses pemadaman kebakaran berlangsung 3,5 jam.
Kedua korban meninggal diperkirakan terjebak dalam api dan tidak sempat menyelamatkan diri. ”Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu,” ucap Lurah Kenari Lilik Yuli Handayani.
Penyebab kebakaran ini belum diketahui persis. Ada berbagai versi penyebab kebakaran ini. Lilik mengatakan, dugaan sementara api berasal dari hubungan pendek arus listrik.
Pihak pemadam kebakaran menduga kebakaran disebabkan ada orang yang membakar sampah. ”Diduga, api berasal dari rumah milik korban meninggal,” ucap Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat Achmad Lamping.
Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Senen Ajun Komisaris Asep Suparman mengatakan, pihaknya belum mendapatkan kepastian tentang penyebab kebakaran itu.
”Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari Puslabfor,” kata Asep.
Warga di lokasi kebakaran
Namun, kendala ini dibantah Lamping. ”Kemungkinan warga tidak tahu nomor telepon pemadam kebakaran. Nomor telepon kami 021-6344215 selalu online setiap saat,” ucap Lamping.
Lamping membenarkan petugas mendapatkan kabar setelah ada warga yang mendatangi posko pemadam kebakaran.
Secara terpisah, Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah menyediakan tenda untuk menampung korban yang ingin mengungsi. Selain itu, tenda juga dipakai untuk menampung bantuan bagi para korban kebakaran.
”Tahap awal, kami menyediakan logistik bagi korban kebakaran untuk tiga hari mendatang. Kalau masih dibutuhkan, bantuan akan ditambah,” ujarnya.
Tenda yang didirikan di depan lokasi kebakaran juga dijadikan tempat untuk menaruh barang-barang korban yang bisa diselamatkan dari kebakaran.
Balai RW 09 juga disediakan untuk korban kebakaran yang ingin mengungsi sementara.
”Balai bisa digunakan sebagai tempat mengungsi korban karena ada atap yang permanen,” ucap Lilik.
Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di kantor Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta di Jalan Aipda KS Tubun sekitar pukul 15.00.
Api diduga berasal dari korsleting kabel pendingin ruangan. Kebakaran tidak membesar karena petugas dengan 16 armada pemadam kebakaran segera menangani api dan memadamkan seluruh aliran listrik.