Suryo Memilih Mundur

Kompas.com - 10/05/2011, 05:13 WIB

jakarta, kompas - Sprinter Suryo Agung Wibowo mengundurkan diri dari pelatnas SEA Games XXVI/2011 karena akan menunaikan ibadah haji. Selanjutnya, Suryo yang diandalkan untuk meraih medali emas di nomor 100 meter putra itu tidak akan memperkuat timnas atletik SEA Games.

Tanpa Suryo, target merebut medali emas di nomor 100 meter putra pada SEA Games XXVI/ 2011 dibebankan kepada pelari-pelari yang lebih muda dari Suryo. Tim pelari estafet, yang semula diperkuat antara lain oleh Suryo, perlu disusun kembali.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Tigor Tanjung pada Senin (9/5) menyatakan, Suryo hengkang dari pelatnas SEA Games. PB PASI menerima surat pengunduran diri dari Suryo pada Rabu (4/5).

Menurut Tigor, dalam suratnya, Suryo menjelaskan bahwa alasan pengunduran dirinya adalah keinginan melaksanakan ibadah haji sesuai nazarnya.

”Atas mundurnya Suryo, PB PASI tidak ambil pusing. Tim SEA Games harus jalan terus,” kata Tigor.

Tigor mengatakan, ada beberapa sprinter penerus Suryo yang bergabung dengan tim SEA Games dan mereka bisa diandalkan. Para pelari tersebut di antaranya Franklin Ramses Burumi (20) yang memiliki catatan waktu 10,33 detik di nomor lari 100 meter putra saat tampil pada Kejuaraan Atletik Jawa Timur Terbuka 2011, Maret.

Catatan waktu Franklin itu lebih baik dari catatan waktu Suryo di nomor 100 meter dalam Asian Games 2010, yaitu 10,37 detik.

Tigor mengatakan, karena Suryo absen, tim estafet kemungkinan terdiri dari Franklin R Burumi, Farel Oktaviandi, Fernando Lumain, dan Fadlin. Kini Fernando tengah cedera hamstring.

”Kami belum membentuk formasi tim,” ujar Tigor.

Bagi Franklin, menggantikan posisi Suryo bukan beban untuk dia. ”Sebagai atlet, saya harus siap. Selalu ada regenerasi. Jika kelak saya mundur, pasti ada yang menggantikan saya,” kata Franklin dengan yakin.

Prihatin

Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Utama Tono Suratman prihatin dengan mundurnya Suryo. Meskipun demikian, Tono dapat menerima keputusan Suryo.

”Kalau tahu mau naik haji, jangan mendaftarkan diri sebagai atlet pelatnas. Atlet harus punya perencanaan matang. Jangan sampai peluang seperti SEA Games hilang,” kata Tono.

Tono menambahkan, meskipun Suryo mengundurkan diri, masih banyak pelari lain yang prestasinya cukup bagus. Mengenai kemungkinan adanya sanksi untuk Suryo, Tono menyerahkannya kepada PB PASI.

Suryo menjelaskan, hajatan SEA Games XXVI/2011 pada November bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji. Menurut Suryo, niatnya menunaikan ibadah haji terdorong karena anaknya sakit.

”Saya dan istri introspeksi mengapa anak saya sakit. Menurut orang tua, kalau anak sakit, itu berarti peringatan. Akhirnya, saya dan istri memutuskan harus cepat naik haji karena sudah menunda,” kata Suryo.

Menurut Suryo, niat menunaikan ibadah haji muncul tahun 2010. Saat itu, Suryo menunda rencana naik haji karena memilih bertanding pada Asian Games 2010 di Guangzhou, China.

”Naik haji adalah nazar saya setelah menjadi juara di SEA Games 2007 di Nakhon Ratchasima, Thailand,” kata pemegang rekor nasional lari 100 meter sekaligus rekor se-Asia Tenggara dengan catatan waktu 10,17 detik itu.

(WAD/HLN/TIA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau