Teknologi informatika

Aplikasi Resep Elektronik di Puskesmas

Kompas.com - 11/05/2011, 05:30 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Hasil pengembangan teknologi informatika dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung berupa Resep Elektronik diaplikasikan di Puskesmas Babakan Sari, Kota Bandung, Jawa Barat. Ini merupakan aplikasi teknologi Resep Elektronik oleh puskesmas yang pertama kali di Indonesia.

”Teknologi ini selain menunjang kecepatan proses administrasi juga dirancang untuk mendeteksi duplikasi dan komposisi obat yang merugikan. Sistem jaringannya meliputi bagian pendaftaran, pemeriksaan, dan pengambilan obat,” kata Ira Dewi Jani, mahasiswa S-2 Program Studi Elektro Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB), Selasa (10/5) di Bandung.

Sejak tahun 2008, Ira, yang juga dokter umum, merealisasikan teknologi Resep Elektronik. Teknologi ini menjadi bahan tesis mahasiswa sebelumnya, Irma Melyani Puspitasari.

Irma, ahli farmakologi dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Bandung, juga menempuh S-2 di STEI ITB. Kolaborasi di antara keduanya menghasilkan program komputer Resep Elektronik.

Spesifikasi perangkat lunak sistem itu menggunakan memori 4,85 megabyte (MB) yang terdiri dari 4,40 MB untuk program dan 464 kilobyte (KB) untuk basis data awal. Basis program menggunakan XAMPP for Windows Version 1.5.1 free ware (29 MB).

Ringkas dan cepat

”Proses pengobatan pasien menjadi lebih ringkas dan cepat. Datanya bisa segera digunakan untuk membuat laporan,” kata Kepala Puskesmas Babakan Sari, Nurhasijati Ningsih.

Resep Elektronik diterapkan di Puskesmas Babakan Sari sejak 20 Maret 2010. Puskesmas itu menjadi pelopor administrasi nirkertas, transparan, dan akuntabel. ”Setiap transaksi keuangan dari pasien tercatat dan tidak bisa diedit lagi sehingga membutuhkan kehati-hatian saat memasukkan data,” kata Ningsih.

Resep Elektronik menjadikan proses administrasi pasien sejak mendaftar hingga mengambil obat dilakukan melalui hubungan antarkomputer. Pasien hanya perlu membawa kartu berobat yang isinya nomor penanda rekam medis yang sudah disimpan di dalam server komputer.

Petugas puskesmas tidak perlu mencari berkas pasien dalam rak arsip. Setiap dokter yang memeriksa pasien bisa langsung mencantumkan keluhan, diagnosis, berikut resep untuk pasien ke dalam kolom perangkat lunak Resep Elektronik. Pasien yang selesai menjalani pemeriksaan tinggal menyebutkan nomor pasien kepada bagian farmasi untuk mendapat obat tanpa harus membawa kertas resep.

Ningsih mengatakan, dampak paling ringan dari adanya interaksi obat yang merugikan adalah menurunkan efektivitas salah satu obat maupun gangguan kesehatan lain. Interaksi obat tertentu bisa berdampak fatal, seperti sindrom Steven Johnson dengan gejala pengelupasan kulit hingga infeksi organ dalam.

Sejak dioperasikan setahun lalu, manfaat Resep Elektronik dirasakan para petugas puskesmas. Tidak lagi ada lalu lalang petugas untuk mencari arsip rekam medis, begitu pula dengan dokter yang mencetak laporan pemeriksaan.

Sistem Resep Elektronik ini mengharuskan ruang pendaftaran dan ruang poli pemeriksaan memiliki komputer yang saling tersambung. Ira menuturkan, inovasi ini belum banyak diaplikasikan oleh puskesmas lain.

”Puskesmas ini beberapa kali dikunjungi tamu luar negeri. Namun, belum ada upaya dari Pemerintah Indonesia untuk mereplikasikan ke puskesmas lain,” kata Ira. (ELD/NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau