Musibah merpati

Tetap Tegar di Ujung Penantian

Kompas.com - 12/05/2011, 05:15 WIB

Oleh A Ponco Anggoro dan Timbuktu Harthana

Penantian panjang keluarga pilot dan kopilot pesawat Merpati yang jatuh di perairan Tanjung Simora, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, akhir pekan lalu, berakhir, Rabu (11/5). Tubuh pilot Purwadi Wahyu (55) dan kopilot Paul Nap (36) akhirnya ditemukan, serta diangkat dari dasar laut oleh tim penyelamat. 

Hati Asmalia (34), istri Paul Nap, seakan tercabik-cabik saat melihat kondisi tubuh suaminya di Puskesmas Kaimana. Raut wajahnya suram. Air mata pun berulang kali menetes saat petugas medis puskesmas merekonstruksi tubuh Paul Nap.

Jenazah Paul Nap dan jenazah Purwadi Wahyu tiba di puskesmas sekitar pukul 09.00 WIT, Rabu (11/5). Keduanya adalah korban terakhir yang dievakuasi dari pesawat Merpati yang jatuh pada Sabtu (7/5) pukul 14.05 WIT. Sebelumnya, tim penyelamat dari Badan SAR Nasional, Satuan Polisi Air, TNI AL, dan Conservation International (CI) Kaimana telah berhasil mengevakuasi 23 penumpang dan kru Merpati.

Purwadi dan Paul menjadi yang terakhir dievakuasi karena tidak mudah menemukan mereka. Tubuh keduanya terjebak di dalam cockpit pesawat yang jatuh dan tenggelam ke dasar laut hingga pada kedalaman sekitar 20 meter.

Saat puluhan orang yang ada dalam kamar jenazah di puskesmas itu tidak sanggup menahan bau tak sedap yang menyengat akibat kondisi jenazah yang rusak, Asmalia sama sekali bergeming. Dia tetap berada di sisi Paul Nap, mengabadikan proses rekonstruksi dengan kamera dari telepon genggam.

Sangat berarti

Paul Nap memang sangat berarti bagi Asmalia. Selama 12 tahun terakhir, Paul telah menjadi pendamping hidupnya, juga menjadi teladan bagi ketiga anak mereka, yakni Ferry Nap (11), Richard Nap (6), dan Joseph Nap (2). Meski sebagian besar waktu harus dihabiskan di luar kota karena tugasnya sebagai pilot, Paul tak mengabaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga.

Karena itu, setelah mendengar kabar pesawat yang diterbangkan Paul Nap jatuh, tanpa berpikir panjang Asmalia langsung berangkat ke Kaimana dari tempat tinggal mereka di Jakarta, dengan membawa serta ketiga anaknya.

Setibanya di Kaimana, Minggu (8/5), Asmalia pun terus berada di posko darurat yang dibangun tak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat. Dia amati satu per satu speed boat yang digunakan tim penyelamat, berharap salah satunya membawa tubuh Paul Nap. Ketika di ujung senja, setiap harinya, pencarian berakhir dan tidak ada satu pun speed boat yang membawa jenazah suaminya. Perasaan sedih dan kecewa terus membayangi.

Doa terus dia panjatkan sambil tetap memeluk erat foto Paul berseragam pilot yang dibawanya. ”Semoga tim penyelamat dimudahkan dalam mencari dan mengevakuasi Paul dan rekannya, pilot Purwadi Wahyu,” katanya saat ditemui, Selasa (10/5).

Demi Papua

Penantian Asmalia itu akhirnya bisa berakhir kemarin pagi setelah jenazah kedua pilot berhasil dievakuasi. Siang harinya, jenazah Paul langsung diterbangkan ke Wamena, Papua, untuk dimakamkan di tempat kelahirannya di sana.

Tidak hanya berarti bagi keluarga, Paul yang merupakan satu dari lima pilot asal Papua di Indonesia, juga membimbing anak-anak asal Papua yang ingin menjadi pilot. Sedikitnya 10 anak telah dibantunya agar bisa mengenyam pendidikan pilot.

Paul memang tidak ingin keberhasilannya menjadi pilot sejak 2007 dinikmatinya sendiri. Begitu pula pengalamannya bisa datang ke beberapa daerah di Indonesia dengan menjadi pilot.

”Rumah di Jakarta sering jadi tempat Paul berbagi pengalaman sebagai pilot kepada anak asal Papua. Dia ingin semakin banyak anak-anak Papua yang menjadi pilot, jadi anak-anak Papua tidak dipandang sebelah mata lagi,” tutur Asmalia.

Penantian panjang pun harus dijalani keluarga pilot Purwadi Wahyu. Sama seperti Asmalia, Naviland Rahadi (30), anak pertama dari tiga anak Purwadi, juga sudah berada di Kaimana sejak Minggu. Naviland datang dari rumah mereka di Jakarta ditemani tiga saudara dekat Purwadi Wahyu. Hari-hari mereka di Kaimana pun dihabiskan di posko darurat, pasrah menanti upaya yang dilakukan oleh tim penyelamat.

”Sudah sekitar 30 tahun, bapak menjadi pilot, terbang di beberapa daerah di Indonesia. Karena itu, dia jarang berada di rumah. Namun, setiap kali di rumah dia selalu memanfaatkannya untuk berkumpul dengan keluarga. Dia telah menjadi teladan bagi saya dan kedua adik saya,” ujar Naviland.

Menurut Dicky Hesti Pratomo (42), saudara Purwadi, sudah menjadi keinginan Purwadi untuk kembali bertugas di wilayah Papua sebelum dirinya pensiun pada Desember 2011. Dia ingin mengenang masa mudanya saat masih terbang dengan pesawat berukuran kecil, jenis twin otter, di kota-kota di Papua.

”Papua meninggalkan kesan yang dalam bagi Purwadi. Makanya saat hendak mengakhiri tugasnya sebagai pilot, dia ingin berbakti lagi untuk masyarakat Papua,” tambahnya.

Keinginan itulah yang mendorong Naviland dan Dicky tetap tegar meski pada akhirnya Purwadi harus meninggal saat menjalankan tugas. Ketegaran itu pula yang ditunjukkan Asmalia, sebab telah disadari menjadi pilot sudah menjadi cita-cita, dan bagian dari kehidupan Paul Nap.

”Jaga diri, jaga anak-anak. Kalau saya meninggal, jadikan mereka pilot seperti bapaknya.” Begitulah pesan terakhir yang disampaikan Paul kepada Asmalia, sekitar dua bulan lalu.

Pesan tersebut juga yang membuat Asmalia harus tetap tegar. Bahkan, sesuai pesan itu pula, Asmalia akan berusaha membimbing ketiga putra mereka agar kelak menjadi pilot yang andal di langit Nusantara dan menjadi kebanggaan keluarga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau