Pariwisata

Guangzhou Mulai Lirik Pasar Indonesia

Kompas.com - 12/05/2011, 08:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hongkong dan Makau memang telah menjadi destinasi wisata yang dikenal oleh wisatawan Indonesia. Tak heran, setiap tahun tingkat kunjungan wisatawan Indonesia ke Hongkong dan Makau terus meningkat. Sementara itu, Guangzhou, Zhonshan, dan Jiangmen, walaupun belum setenar Hongkong dan Makau, juga telah menerima wisatawan asal Indonesia. Ketiga kota tersebut masuk dalam Provinsi Guangdong yang terletak di selatan Republik Rakyat China.

"Tingkat kunjungan wisatawan asal Indonesia ke Jiangmen tahun 2010 sebanyak 6.366 orang," kata Executive Director Hong Kong Tourism Board Anthony Lau dalam acara promosi "Perjalanan Wisata Multi-Tujuan antara Hong Kong, Makau, Guangzhou, Zhonshan, dan Jiangmen" di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (11/5/2011).

Senior Manager Southern China Chief Representative Hong Kong Tourism Board Simon Wong menjelaskan bahwa Guangzhou merupakan kota penuh sejarah karena telah berusia lebih dari 2.000 tahun. Guangzhou adalah ibu kota Provinsi Guangdong. Pada masa lampau pun kota ini pernah beberapa kali menjadi ibu kota dinasti-dinasti China.

Daya tarik wisata lainnya dari Guangzhou, lanjut Simon, adalah tradisi minum teh dan kudapan di malam hari. Wisata kuliner dan wisata belanja juga menjadi daya tarik dari Guangzhou. "Sementara itu, Zhonshan adalah kota dari beberapa orang terkenal. Salah satunya adalah Dr. Sun Yat Sen," jelasnya.

Director Zhongshan Municipal Tourism Bureau Che Wei menuturkan, Sun Yat Sen lahir di kota tersebut. Karena itu, nama Zhonshan berasal dari nama Sun Yat Sen. Beberapa obyek wisata di Zhongsan berkaitan dengan kehidupan Sun Yat Sen, seperti rumah pribadi Sun Yat Sen. Selain itu, munurut Che, dalam rangka peringatan 100 tahun revolusi pada tahun 1911, diadakan kerja sama perjalanan multisejarah bertema kehidupan Sun Yat Sen.

Sementara Jiangmen terkenal dengan diaolou. Simon menjelaskan, diaolou adalah rumah pribadi setinggi empat puluh lima lantai. Rumah ini ibarat benteng untuk mempertahankan harta benda dari perampok maupun bencana banjir. Saat ini hanya tersisa 800 dari 3.000 dialou yang pernah ada. Dialou masuk dalam daftar warisan dunia dari UNESCO.

"Jiangmen juga terkenal dengan seni bela diri. Salah satu guru Bruce Lee berasal dari Jiangmen," ungkap Director Jiangmen Tourism Bureau Cheng Bu Yi.

Selain itu, lanjut Cheng, daya tarik Jiangmen adalah relaksasi bagi wisatawan di sumber air panas.

Baik Guangzhou, Zhonshan, maupun Jiangmen menawarkan pengalaman berbeda dari Hongkong dan Makau bagi wisatawan. Menurut Anthony, ketiga destinasi tersebut kental dengan budaya dan sejarah China. Hal ini berbeda dengan Hongkong dan Makau yang lebih ke kota kosmopolitan.

Hong Kong Tourism Board bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Guangzhou, Zhonshan, Jiangmen, dan Makau. Kelima daerah tersebut dihubungkan dengan Pearl River Delta, sebuah kawasan yang dilalui aliran Sungai Pearl yang bermuara ke Laut China Selatan. Wisatawan yang berkunjung hanya memerlukan satu visa yang berlaku selama 144 jam untuk kelima destinasi. Dengan adanya promosi ini, wisatawan Indonesia yang bebas visa untuk Hongkong dan Makau akan mendapatkan kemudahan pembuatan visa menuju Provinsi Guangdong. Program ini hanya berlaku untuk rombongan dengan minimal tiga orang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau