NATO Diprotes Pakistan

Kompas.com - 18/05/2011, 03:00 WIB

Miranshah, Selasa - Pakistan melayangkan protes keras kepada NATO dan menuntut diadakan rapat perbatasan setelah dua tentaranya terluka dalam insiden baku tembak dengan helikopter NATO.

Insiden itu terjadi di pos penjaga perbatasan Admi Kot, di Wacha Bibi, kawasan Datta Khel, sekitar 50 kilometer sebelah barat Miranshah, kota utama wilayah administrasi Waziristan Utara, Pakistan, Selasa (17/5) pagi.

Peristiwa ini terjadi di tengah memburuknya hubungan Pakistan dan Amerika Serikat—yang memimpin pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afganistan—setelah Osama bin Laden tewas dua pekan lalu.

Pihak Pakistan maupun NATO memberikan keterangan yang berbeda tentang detail dan pemicu insiden ini. Menurut pejabat keamanan Pakistan, helikopter NATO tersebut memasuki wilayah udara Pakistan dari Afganistan dan langsung menembaki pos militer Pakistan. ”Dua helikopter NATO melanggar wilayah udara dan menembaki satu pos tentara, melukai dua prajurit kami,” tutur salah satu pejabat kepada kantor berita Agence France Presse.

Pejabat lain mengatakan, dua helikopter itu terbang berputar- putar di kawasan Waziristan Utara selama 10 menit sebelum akhirnya pergi setelah pasukan Pakistan melepaskan tembakan. Namun, helikopter-helikopter itu kemudian kembali lagi dan melepaskan tembakan balasan. ”Satu peluru mengenai dinding tebing di dekat daerah itu dan dua prajurit terluka terkena reruntuhan tebing,” tutur pejabat tersebut.

Sementara itu, menurut pihak NATO, insiden tersebut berawal saat salah satu pangkalan NATO di Afganistan ditembaki dari wilayah Pakistan, Selasa dini hari. Dua helikopter kemudian dikirim untuk memberikan bantuan.

”Setelah tiba di lokasi, satu dari dua helikopter ditembak dari seberang perbatasan, tetapi tidak langsung membalas. Baru setelah ditembak untuk kedua kalinya, helikopter tersebut balas menembak,” tutur Juru Bicara Pasukan Koalisi NATO Letnan Kolonel John Dorrian di Kabul, Afganistan.

Dorrian menambahkan, belum jelas apakah kedua helikopter itu telah melanggar wilayah Pakistan. ”Kami masih menyelidiki insiden ini dan melacak jalur penerbangan helikopter itu dengan mempelajari data GPS,” katanya.

Operasi militer AS

Dorrian juga tidak menjelaskan dari kesatuan dan negara mana helikopter-helikopter itu berasal. Meski demikian, Associated Press mengatakan, sebagian besar helikopter pasukan koalisi yang berada di lokasi tersebut adalah heli pasukan AS.

AS memang sudah sering melakukan operasi militer rahasia di kawasan suku-suku asli (Federally Administered Tribal Areas/FATA) di barat laut Pakistan itu, yang diyakini sebagai tempat persembunyian dan pusat aktivitas kelompok Taliban ataupun Al Qaeda.

Sepanjang tahun lalu, AS melakukan lebih dari 100 serangan pesawat tempur tak berawak (drone) ke kawasan ini, menewaskan sedikitnya 670 orang. Serangan drone terakhir terjadi hari Senin (16/5) di kota Mir Ali, 40 kilometer sebelah timur Miranshah. Serangan ini menewaskan sembilan orang dari kelompok garis keras.

Insiden perbatasan tersebut terjadi hanya sehari setelah Senator John Kerry dari AS menyelesaikan kunjungan 24 jam di Islamabad, dalam rangka memperbaiki hubungan Pakistan-AS, yang memburuk setelah operasi penyerbuan tempat persembunyian Osama di Abbottabad, Pakistan, oleh pasukan AS.

Salah satu tanda membaiknya hubungan kedua negara, kata Kerry, adalah kesediaan Pakistan mengembalikan reruntuhan helikopter AS, yang jatuh saat operasi penyerbuan tersebut, kepada AS dalam waktu dekat.

(AP/AFP/REUTERS/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau