Kebakaran

Warga Bakar Ban, Damkar Pun Terkecoh

Kompas.com - 24/05/2011, 14:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Suku Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Jakarta Pusat kali ini terkecoh oleh laporan warga yang kurang bertanggung jawab. Api yang disangka akibat terbakarnya rumah di permukiman padat Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (24/5/2011) siang, ternyata berasal dari pembakaran tumpukan ban bekas.

"Ada warga yang menelepon ke Pos Pasar (Tanah Abang) dan ke Pusat (Dinas Damkar DKI) sekitar jam setengah sebelas tadi," tutur Suroto, salah seorang petugas Damkar Jakarta Pusat, yang ditemui di lokasi, Jalan Katamso, RT 03 RW 03 Kota Bambu Selatan.

Mendapat laporan situasi darurat tersebut, Dinas Damkar DKI bertindak sigap. Saat Kompas.com tiba di lokasi pukul 10.46 WIB, tiga mobil pemadam kebakaran telah berada di sekitar lokasi. Tak beberapa lama, empat mobil lainnya menyusul.

"Kami dari Subdin (Damkar) Jakarta Pusat, karena lokasinya lebih dekat ke Pusat," kata salah seorang petugas.

Mereka kemudian menerobos ke lokasi melalui salah satu rumah penduduk. Sementara itu, warga sekitar terheran-heran melihat kehadiran rombongan mobil dan petugas Damkar.

"Itu mah dari tempat pembakaran ban bekas di belakang. Sudah biasa di sini," kata seorang pria pemilik rumah makan padang menerangkan sumber api.

Kompas.com yang menyertai petugas menerobos lewat rumah yang dipenuhi tumpukan ban bekas itu ikut menyaksikan kebingungan personel Damkar.

Di belakang rumah tersebut, mereka hanya menemukan tumpukan ratusan ban bekas. Ada api kecil di sebuah lahan kosong dengan sisa-sisa pembakaran ban. Asap hitamnya membubung tinggi hingga terlihat jelas dari wilayah Tanah Abang.

Sementara itu, sejumlah warga pria terlihat sedang sibuk mengerjakan pembangunan selokan baru tanpa memedulikan kehadiran petugas berseragam Damkar. Mereka baru tersadar saat salah seorang petugas menanyakan siapa yang menelepon dinas Damkar mengenai adanya kebakaran di lokasi tersebut.

"Enggak tahu siapa yang membakar (ban) ini. Kalau enggak salah, sudah (dibakar) sejak tadi malam," kata salah seorang warga kepada petugas Damkar.

Lokasi itu adalah bekas gusuran beberapa waktu lalu. "Sekarang dipakai pemilik vulkanisir ban untuk menumpuk ban bekas," ujarnya.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Kepala Dinas Damkar DKI yang langsung turun ke lokasi tiba di tempat tersebut dengan kendaraan dinasnya. "Kami dikibulin warga. Tadi ada yang menelepon ke kantor. Ternyata hanya pembakaran ban bekas," cetusnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Dia mengaku, bawahannya sigap bergerak karena lokasi tersebut memang rawan kebakaran.

Ibu yang rumahnya digunakan petugas menuju lokasi memiliki pendapat berbeda. Menurut dia, lokasi yang tertutup permukiman tidak memungkinkan warga sekitar Jalan Katamso dan Jalan KS Tubun melihat langsung sumber api.

"Mungkin orangnya (yang menelepon) hanya melihat asap hitam. Karena lokasi ini rawan kebakaran, dia langsung menelepon petugas," katanya.

Dia juga bersyukur karena petugas Damkar telah bertindak cepat. "Cepat banget, ya. Kalau ada kebakaran beneran, apinya pasti cepat padam," tutur ibu itu memuji kesigapan petugas Damkar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau