Nii

NII Baru Tiga Hari, Bukan Kecolongan

Kompas.com - 24/05/2011, 19:09 WIB

UNGARAN, KOMPAS.com — Bupati Semarang, Jawa Tengah, Mundjirin menolak pihaknya kecolongan atas keberadaan jaringan Negara Islam Indonesia di wilayahnya. Sebaliknya, ia memuji upaya pihak kepolisian yang segera menangkap anggota jaringan NII yang baru seumur jagung menancapkan benderanya di Bumi Serasi.

"Kami bukan kecolongan. Ini, kan, baru tiga hari di Ungaran," ungkapnya, Selasa (24/5/2011).

Sepak terjang NII, menurut Mundjirin, sangat mengkhawatirkan. Mereka mampu merekrut anggota dari berbagai kalangan, mulai dari orang awam hingga masyarakat di lingkungan yang pemahaman agamanya dianggap kuat.

"Baru-baru ini terungkap, seorang putra kiai di wilayah Kecamatan Bancak sudah dicuci otaknya untuk memperjuangkan NII," katanya, tanpa merinci nama dan tempatnya.

Menyusul penggerebekan markas NII di Ungaran, lanjut Mundjirin, Pemerintah Kabupaten Semarang akan segera bersikap setelah menunggu perkembangan dari kepolisian.

Sementara itu, lokasi penggerebekan di Jalan Nusa Indah, Kelurahan Genuk, Ungaran Barat, hingga Selasa sore masih dijaga ketat oleh anggota kepolisian gabungan dari Mabes, Polda Jateng, dan Polres Semarang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau