Sor

Di Balik Kebersihan Kawasan Medan Merdeka

Kompas.com - 26/05/2011, 09:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jalan Medan Merdeka Utara cukup mencolok keasrian dan kebersihannya. Sekilas hal ini bisa dibilang wajar lantaran di sepanjang jalan itu berjejer gedung-gedung penting sekaligus bersejarah milik negeri ini.

Namun, terawatnya keasrian dan kebersihan di jalan arteri itu tidak bisa dipandang sebelah mata saat orang menyimak fakta ini. Kawasan di sebelah utara Taman Monas itu adalah salah satu target favorit aksi unjuk rasa berbagai elemen masyarakat.

Hampir setiap hari terjadi aksi demo di jalan tersebut. Pasalnya, di Jalan Medan Merdeka Utara terdapat Istana Presiden, Gedung MA, dan Kantor Kementerian Dalam Negeri, tiga institusi yang kerap menjadi sasaran gelombang massa demonstran.

Kehadiran massa, sedamai apa pun aksi itu berlangsung, tak pernah pulang tanpa menyisakan sesuatu. Tebaran sampah adalah satu kepastian. Lalu, kerusakan besar atau kecil adalah kemungkinan berikutnya.

Yang menakjubkan, sisa-sisa demo hampir tak berbekas hanya dalam beberapa saat. Tengoklah demonstrasi yang menghadirkan puluhan ribu orang di tengah hari bolong pada peringatan Hari Buruh lalu. Sampah sisa makanan, botol minuman, berbagai jenis plastik, hingga ban-ban yang dibakar pengunjuk rasa meluber hingga ke Taman Monas. Semuanya lenyap sebelum satu jam berlalu.

Adakah sesuatu yang istimewa di balik kecekatan itu? Apakah ada pasukan khusus yang menangani sampah di daerah tersebut? Apakah mereka terlatih untuk membereskan sampah secara cepat?

Benar, mereka bukan petugas kebersihan biasa. "Kami dari SOR. Kepanjangannya Sarana Organtama Resik," kata salah seorang petugas kebersihan berseragam putih yang saat ditemui sedang membersihkan Jalan Medan Merdeka Utara, Rabu (25/5/2011).

Dia mengaku tidak tahu, apakah SOR berbadan hukum perusahaan atau yayasan. "Kalau itu, saya enggak tahu. Tapi, bisa dicek di kantor kami di Blok M," kata pria yang menolak menyebutkan namanya itu.

Tugas mereka khusus merawat dan menjaga kebersihan yang mencakup empat penjuru Jalan Medan Merdeka yang mengitari silang Monas.

"Kami memang disewa untuk membersihkan Ring 1 dan Ring 2. Ini termasuk Ring 1," ujarnya sambil menunjuk kawasan Medan Merdeka Utara yang sedang dibersihkannya saat itu. Kawasan tersebut, ungkapnya, termasuk Jalan Veteran I dan Jalan Veteran II.

Petugas kebersihan SOR setiap hari terbagi dalam tiga giliran (shift). Shift 1 pukul 05.00 hingga 13.00. Shift 2 pukul 13.00-21.00, dan shift 3 pukul 02.00-05.00.

Namun, giliran tersebut hanya bersifat rutin. Setiap hari libur nasional dan akhir pekan semua petugas wajib masuk. "Juga saat ada demo seperti ini. Semua harus stand by," ujarnya merujuk pada unjuk rasa Komunitas Kretek Jakarta yang tengah berlangsung di depang Gedung MA saat itu.

Saat hari biasa atau keadaan normal, kebersihan setiap ruas jalan hanya ditanggungkan kepada satu atau dua orang untuk setiap shift.

Akhir pekan dan saat libur nasional mereka disiagakan karena potensi peningkatan pengunjung ke kawasan Monas. Kenaikan pengunjung biasa berimbas pada peningkatan volume sampah di seputaran Jalan Medan Merdeka. Demikian pula saat berlangsungnya unjuk rasa.

Tentang unjuk rasa, menurut dia, pihak SOR selalu berkoordinasi dengan Polsek Gambir dan Subdinas Kebersihan Jakarta Pusat.

"Biasanya kami sudah dapat laporan lewat radio sebelumnya. Siapa yang berdemo, jumlahnya, kapan (dilaksanakan), dan kemungkinan lain. Nanti, pemimpin akan menyiapkan tenaga yang akan turun langsung dan berapa yang stand by," katanya.

Informasi juga akan diperoleh dari Subdinas Kebersihan Jakarta Pusat, terutama mengenai event-event yang dilangsungkan di kawasan Monas.

Ditanya soal hal yang paling tidak disukainya dalam tugas pembersihan, dia menunjuk malam pergantian tahun dan saat demo besar berlangsung. "Tumpukan sampah bisa berton-ton," tuturnya menyebutkan alasan.

Dia tidak mau menjelaskan apakah mereka terlatih secara khusus untuk membersihkan tempat tersebut secara cepat. "Yang penting, kerja sama dan kompak," tuturnya sambil tersenyum.

Kekompakan memang terlihat saat mereka bekerja. Sambil mengangkut sampah, mereka kerap terlihat bergurau sekaligus saling memotivasi dengan mengulang-ulangi kalimat baku yang sering diperdengarkan para orator dan pemimpin aksi saat demo. "Masih semangat? Ayo berkumpul lagi, kita teruskan!" teriak mereka bersahutan sambil disambut gelak tawa yang lain.

Seorang petugas SOR wanita yang ditemui tak jauh dari lokasi tersebut mengibaratkan tugas mereka dengan semboyan tim pemadam kebakaran. "Pantang pulang sebelum bersih," guraunya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau