Terus Berlatih Sambil Menanti Alat

Kompas.com - 27/05/2011, 03:35 WIB

Dalam persiapan menghadapi SEA Games XXVI/2011, para pemanah pelatnas berlatih nyaris setiap hari selama enam jam di lapangan panahan Senayan, Jakarta. Latihan keras itu membuat busur dan anak panah mereka cepat aus.

Mereka berlatih menggunakan peralatan yang hampir aus karena sering dipakai. Sebenarnya, mereka telah meminta ke Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Utama untuk mendapat peralatan latihan baru, namun peralatan baru itu tak kunjung tiba.

”Saya sampai membeli sendiri anak panah. Saya beli seharga Rp 7 juta satu set,” kata Alex Edward, salah seorang atlet panahan.

Menurut Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP Perpani I Gusti Nyoman Budiana, ketiadaan peralatan latihan yang baru jelas mengganggu pelatnas. ”Busur dan anak panah yang dipakai ribuan kali sudah tidak akurat lagi. Daya lempar dari busur juga berkurang. Busur dan anak panah ada usia pakainya, apalagi kalau dipakai setiap hari,” kata Nyoman.

Menurut Nyoman, para atlet sudah berlatih sejak Desember 2010 untuk menghadapi SEA Games, tapi sampai sekarang busur dan anak panah yang baru belum ada.

Pelatih panahan Puryoto mengutarakan, pihaknya sudah meminta sekitar 22 set peralatan latihan yang baru untuk pelatnas. Jumlah tersebut termasuk untuk cadangan. ”Kami mengharapkan peralatan latihan cepat diadakan supaya peralatan latihan ada cadangannya. Selama ini atlet memakai peralatan yang sudah lama atau peralatan sendiri,” kata Puryoto.

Masalah ketiadaan peralatan latihan baru juga dialami cabang atletik, antara lain sepatu latihan. Apalagi bagi para pelari jarak jauh dan jarak menengah yang berlatih di daerah tinggi dengan curah hujan tinggi seperti Pangalengan, Jawa Barat. Jika sepasang sepatu basah, si pelari terpaksa memakai sepatu lain yang juga belum kering, pascalatihan sebelumnya.

Atlet yang berlatih di Stadion Madya, Senayan, juga mengalami persoalan sama. Manajer timnas atletik SEA Games 2011 Paulus Lay mengatakan, atlet yang disiapkan menghadapi SEA Games XXVI, 11-22 November 2011 di Palembang dan Jakarta, masih berlatih menggunakan alat-alat latihan eks SEA Games 2005, antara lain peluru dan martil yang sudah aus.

Sangat aneh jika peralatan latihan untuk 44 cabang belum siap sampai sekarang. Padahal, SEA Games XXVI/2011 kurang enam bulan lagi. Idealnya, alat latihan sudah siap dari sejak awal pelatnas. Meski memakai alat latihan lama, atlet-atlet pelatnas masih terus berlatih.

Hal yang menyebabkan terlambatnya penyediaan alat-alat latihan yang tak kunjung diterima para atlet adalah adanya tarik ulur kewenangan. Pascapenangkapan mantan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Seskemenpora) Wafid Muharam, sepertinya Kemenpora tidak mau sendirian mengelola keuangan untuk mendukung hajat besar pesta olahraga Asia Tenggara itu. Kemenpora melalui pelaksana harian Seskemenpora Djoko Pekik Irianto berwacana menyalurkan dana pengadaan peralatan latihan kepada induk organisasi cabang olahraga (PB/PP) bersangkutan.

Mendapat penolakan dari PB/PP, Kemenpora lalu berwacana mau menyalurkan dana pengadaan lewat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Namun, KONI menolak karena tidak memiliki wewenang melakukan pengadaan barang dan sesuai Peraturan Presiden tentang Pengadaan Barang dan Jasa, KONI bukanlah institusi yang memiliki kewenangan itu.

Akhirnya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi A Mallarengeng, Selasa (24/5), memastikan, pengadaan alat latihan akan kembali dikelola Kemenpora. Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Utama Tono Suratman juga memastikan peralatan latihan sudah siap pada akhir bulan Juni.

Dalam persiapan menghadapi ajang kejuaraan dua tahunan tersebut, sangat disayangkan Kemenpora tidak menghitung waktu yang terbuang dengan berwacana. Bukannya segera bergerak cepat melakukan pengadaan alat latihan, Kemenpora malah bertele-tele.

Langkah yang bertele-tele juga terjadi pada pengadaan peralatan pertandingan untuk SEA Games. Padahal peralatan pertandingan tersebut harus siap digunakan saat test venue (uji coba arena) antara Juli-September.

Meski sama-sama bermuara di Kemenpora sebagai pihak yang mengadakan dan membiayai pembelian, ada dua institusi yang diberi kewenangan tentang alat. Pendataan dan verifikasi alat pertandingan menjadi tugas Deputi I Panitia Penyelenggara SEA Games Indonesia (Inasoc) bidang Sport dan Venue, sementara pendataan dan verifikasi alat latihan jadi tugas Satlak Prima Utama.

Hingga April 2011 saat terjadi pertemuan panitia pelaksana kejuaraan dari PB/PP dengan Deputi I Inasoc, diketahui pengadaan alat pertandingan menggunakan APBN 2010 banyak yang belum jelas, tidak sesuai, kurang, atau tidak lengkap. Sementara untuk pengadaan 2011 malah belum jelas kapan akan dilakukan pengadaan, meski verifikasi alat pertandingan selesai dilakukan pertengahan April 2011.

Djoko Pekik Irianto mengatakan, pengadaan alat g belum dilakukan bulan ini karena Kemenpora masih memverifikasi ulang data hasil verifikasi Inasoc. ”Kami menargetkan paling lambat bulan Agustus alat pertandingan sudah siap,” tandasnya.

Di saat Kemenpora, Satlak Prima Utama, ataupun cabang-cabang masih berkutat dengan pengadaan alat latihan dan alat pertandingan, Inasoc malah sudah dikejutkan dengan pengiriman data kontingen dari Thailand. Padahal sekarang belum saatnya pendaftaran entry by number. Itu menunjukkan betapa kontingen negeri gajah putih sudah siap menjadi juara di Indonesia.(HLN/WAD/MHD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau