DEFRI WERDIONO
Pesanan perahu tidak hanya datang dari Banjarmasin, tetapi juga daerah lain di Tanah Air. Beberapa pemesan berasal dari luar Kalimantan, seperti Surabaya, Ambon, hingga Papua. Selain pribadi dan perusahaan, pesanan juga datang dari pemerintah kabupaten yang memiliki sungai.
Di salah satu bengkel kerja yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya, di Jalan Kuin Selatan, Gang Ukhuwah Islamiyah, Kota Banjarmasin, Senin (28/3), Usman menengok para pekerjanya. Setelah berbincang sejenak, dia lalu pergi meninggalkan bengkel dengan alasan ada kegiatan yang harus dihadiri.
Para pekerja pun melanjutkan aktivitas membuat badan perahu yang terbuat dari fiber glass. Ada tiga perahu yang saat ini ditangani dan harus segera diselesaikan, dua di antaranya berasal dari Banjarmasin dan Marabahan (Kabupaten Barito Kuala, Kalsel), sedangkan satu pesanan lain masih menunggu antrean.
Usman Yusuf mulai membuat perahu cepat tahun 1981. Dia bukan satu-satunya pembuat perahu di Banjarmasin saat itu. Ada dua pembuat perahu cepat lainnya, yakni di daerah Kampung Pekapuran dan Teluk Tiram.
Pada tahun 1980-an, perahu masih menjadi alat transportasi utama warga Kalimantan. Di luar pembuat perahu cepat, banyak pula pembuat alat angkutan air lainnya di Banjarmasin, baik yang berupa kapal besar maupun perahu, seperti jukung dan kelotok. ”Saya membuat perahu cepat, awalnya memang mewarisi keahlian mertua yang juga menjadi pembuat kapal cepat,” ujarnya.
Pada awal usahanya berdiri, Usman tidak
Hal itu sangat berbeda dengan bahan fiber glass yang mampu bertahan hingga 15 tahun meski jika dilihat dari sisi harga, fiber glass jauh lebih mahal. Akhirnya, pada tahun 1984 Usman beralih menggunakan fiber glass hingga sekarang. Bahan tersebut diperoleh dari Surabaya, Jawa Timur. Adapun mesin perahu kini sudah bisa diperoleh di Banjarmasin.
Unsur kayu hanya dipertahankan untuk membuat ”tulangan” dasar badan perahu, itu pun menggunakan jenis kayu ulin. Kayu ini dipilih karena sifatnya yang keras dan tahan air. Tulangan tersebut masih dibungkus lagi dengan fiber glass sehingga tidak tampak dari luar.
Pesanan perahu mencapai masa keemasan ketika industri perkayuan masih marak di Banjarmasin tahun 2000-an. Pada masa itu, Usman dengan perusahaannya yang bernama CV Prima Fiber Glass bisa mendapatkan pesanan hingga 30 buah perahu cepat dalam sebulan. Kondisi ini memacunya bekerja lembur siang malam bersama 35 karyawan.
Kini, pesanan jauh berkurang. Dalam satu bulan, pesanan rata-rata hanya tiga unit perahu. Itu pun sebagian besar perahu berukuran kecil dengan kekuatan mesin 40 daya kuda (PK) atau horse power. Usman juga membuat perahu berkapasitas lain, yakni 85 PK, 115 PK, dan 200 PK dengan mesin ganda. ”Ketika kayu masih ramai, banyak sekali pesanan datang. Kini sudah turun banyak,” ujarnya.
Meski jumlah pesanan berkurang, Usman optimistis masa depan kapal cepat masih cerah. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan pembuatnya. Awal tahun 1980-an, hanya ada tiga tempat pembuatan perahu cepat, tetapi saat ini telah bertambah menjadi lima tempat.
Selain itu, keberadaan perahu cepat juga masih diperlukan perusahaan-perusahaan yang masih berhubungan dengan sungai, salah satunya perusahaan di bidang batubara.
Usman memiliki dua bengkel kerja, satu lagi berada tidak jauh dari Sungai Kuin, salah satu sungai terkenal di Banjarmasin yang berujung pada pasar terapung Muara Kuin yang terkenal itu.
Dengan jumlah pekerja 20 orang, kini Usman mampu menyelesaikan perahu kecil berkapasitas 40 PK dalam waktu satu minggu, sedangkan untuk membuat perahu yang lebih besar, seperti yang bertenaga 200 PK bermesin ganda, dibutuhkan waktu hingga 1,5 bulan.
Usman mematok harga bervariasi untuk perahu buatannya. Perahu berkapasitas 40 PK dihargai Rp 11,5 juta untuk badan saja dan Rp 35 juta jika dilengkapi dengan mesin dan perlengkapan lain. Adapun harga badan perahu 85 PK Rp 20 juta dan Rp 85 juta untuk perahu yang sudah lengkap.
Untuk perahu 115 PK, harganya mencapai Rp 22,5 juta dan Rp 120 juta untuk yang sudah lengkap. Harga paling tinggi dikenakan untuk perahu bertenaga 200 PK dan bermesin ganda. Dalam kondisi lengkap, harga perahu ini mencapai Rp 300 juta.
”Selama 30 tahun membuat perahu, tidak ada kiat khusus, termasuk promosi. Yang penting adalah menjaga kualitas tetap bagus,” ujar Usman sembari melempar pandang ke arah mainan anak berbentuk perosotan. Rupanya, Usman juga menerima pesanan berupa mainan anak yang terbuat dari fiber.