Profil usaha

30 Tahun Bikin Perahu Cepat

Kompas.com - 28/05/2011, 03:06 WIB

DEFRI WERDIONO

Lebih dari 30 tahun H Usman Yusuf menggeluti pembuatan perahu cepat atau ”speed boat”. Hingga kini, di tengah gencarnya terpaan moda transportasi darat yang berkembang pesat, Usman mampu bertahan dan menjadi salah satu pembuat perahu andal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pesanan perahu tidak hanya datang dari Banjarmasin, tetapi juga daerah lain di Tanah Air. Beberapa pemesan berasal dari luar Kalimantan, seperti Surabaya, Ambon, hingga Papua. Selain pribadi dan perusahaan, pesanan juga datang dari pemerintah kabupaten yang memiliki sungai.

Di salah satu bengkel kerja yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya, di Jalan Kuin Selatan, Gang Ukhuwah Islamiyah, Kota Banjarmasin, Senin (28/3), Usman menengok para pekerjanya. Setelah berbincang sejenak, dia lalu pergi meninggalkan bengkel dengan alasan ada kegiatan yang harus dihadiri.

Para pekerja pun melanjutkan aktivitas membuat badan perahu yang terbuat dari fiber glass. Ada tiga perahu yang saat ini ditangani dan harus segera diselesaikan, dua di antaranya berasal dari Banjarmasin dan Marabahan (Kabupaten Barito Kuala, Kalsel), sedangkan satu pesanan lain masih menunggu antrean.

Usman Yusuf mulai membuat perahu cepat tahun 1981. Dia bukan satu-satunya pembuat perahu di Banjarmasin saat itu. Ada dua pembuat perahu cepat lainnya, yakni di daerah Kampung Pekapuran dan Teluk Tiram.

Pada tahun 1980-an, perahu masih menjadi alat transportasi utama warga Kalimantan. Di luar pembuat perahu cepat, banyak pula pembuat alat angkutan air lainnya di Banjarmasin, baik yang berupa kapal besar maupun perahu, seperti jukung dan kelotok. ”Saya membuat perahu cepat, awalnya memang mewarisi keahlian mertua yang juga menjadi pembuat kapal cepat,” ujarnya.

Pada awal usahanya berdiri, Usman tidak serta-merta memanfaatkan fiber glass sebagai bahan baku badan perahu. Ia hanya menggunakan tripleks (plywood). Pilihan menggunakan fiber glass dilakukan karena faktanya tripleks tidak tahan lama. Tripleks rata-rata hanya bertahan satu tahun, setelah itu rusak terkena air dan oleh karena cuaca.

Hal itu sangat berbeda dengan bahan fiber glass yang mampu bertahan hingga 15 tahun meski jika dilihat dari sisi harga, fiber glass jauh lebih mahal. Akhirnya, pada tahun 1984 Usman beralih menggunakan fiber glass hingga sekarang. Bahan tersebut diperoleh dari Surabaya, Jawa Timur. Adapun mesin perahu kini sudah bisa diperoleh di Banjarmasin.

Unsur kayu hanya dipertahankan untuk membuat ”tulangan” dasar badan perahu, itu pun menggunakan jenis kayu ulin. Kayu ini dipilih karena sifatnya yang keras dan tahan air. Tulangan tersebut masih dibungkus lagi dengan fiber glass sehingga tidak tampak dari luar.

Pesanan perahu mencapai masa keemasan ketika industri perkayuan masih marak di Banjarmasin tahun 2000-an. Pada masa itu, Usman dengan perusahaannya yang bernama CV Prima Fiber Glass bisa mendapatkan pesanan hingga 30 buah perahu cepat dalam sebulan. Kondisi ini memacunya bekerja lembur siang malam bersama 35 karyawan.

Kini, pesanan jauh berkurang. Dalam satu bulan, pesanan rata-rata hanya tiga unit perahu. Itu pun sebagian besar perahu berukuran kecil dengan kekuatan mesin 40 daya kuda (PK) atau horse power. Usman juga membuat perahu berkapasitas lain, yakni 85 PK, 115 PK, dan 200 PK dengan mesin ganda. ”Ketika kayu masih ramai, banyak sekali pesanan datang. Kini sudah turun banyak,” ujarnya.

Meski jumlah pesanan berkurang, Usman optimistis masa depan kapal cepat masih cerah. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan pembuatnya. Awal tahun 1980-an, hanya ada tiga tempat pembuatan perahu cepat, tetapi saat ini telah bertambah menjadi lima tempat.

Selain itu, keberadaan perahu cepat juga masih diperlukan perusahaan-perusahaan yang masih berhubungan dengan sungai, salah satunya perusahaan di bidang batubara.

Usman memiliki dua bengkel kerja, satu lagi berada tidak jauh dari Sungai Kuin, salah satu sungai terkenal di Banjarmasin yang berujung pada pasar terapung Muara Kuin yang terkenal itu.

Dengan jumlah pekerja 20 orang, kini Usman mampu menyelesaikan perahu kecil berkapasitas 40 PK dalam waktu satu minggu, sedangkan untuk membuat perahu yang lebih besar, seperti yang bertenaga 200 PK bermesin ganda, dibutuhkan waktu hingga 1,5 bulan.

Usman mematok harga bervariasi untuk perahu buatannya. Perahu berkapasitas 40 PK dihargai Rp 11,5 juta untuk badan saja dan Rp 35 juta jika dilengkapi dengan mesin dan perlengkapan lain. Adapun harga badan perahu 85 PK Rp 20 juta dan Rp 85 juta untuk perahu yang sudah lengkap.

Untuk perahu 115 PK, harganya mencapai Rp 22,5 juta dan Rp 120 juta untuk yang sudah lengkap. Harga paling tinggi dikenakan untuk perahu bertenaga 200 PK dan bermesin ganda. Dalam kondisi lengkap, harga perahu ini mencapai Rp 300 juta.

”Selama 30 tahun membuat perahu, tidak ada kiat khusus, termasuk promosi. Yang penting adalah menjaga kualitas tetap bagus,” ujar Usman sembari melempar pandang ke arah mainan anak berbentuk perosotan. Rupanya, Usman juga menerima pesanan berupa mainan anak yang terbuat dari fiber.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau