Mladic Diperintahkan Diekstradisi

Kompas.com - 28/05/2011, 03:31 WIB

Beograd, Jumat - Buron perang Bosnia paling dicari, Ratko Mladic (69), kini tinggal menunggu waktu untuk diekstradisi ke Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag setelah sebuah pengadilan di Beograd, Jumat (27/5), menyatakan Mladic cukup fit untuk diekstradisi dan diadili atas tuduhan melakukan kejahatan perang.

Keputusan Pengadilan Beograd ini mematahkan kesaksian anaknya, Darko Mladic, yang mengatakan bahwa Ratko Mladic, yang mantan komandan militer Serbia Bosnia pada masa Perang Bosnia 1992-1995 ini, mengalami dua kali stroke selama hampir 16 tahun pelariannya. Mladic, menurut anaknya, juga dituturkan mengalami kelumpuhan sebagian tangannya dan hampir tak bisa bicara.

Pengacara Mladic, Milos Saljic, mengatakan, pihaknya akan mengajukan upaya banding atas putusan praperadilan Pengadilan Beograd ini, Senin nanti. Apabila upaya banding pengacaranya ini ditolak, dalam hitungan jam, Ratko Mladic, yang dinilai bertanggung jawab atas pembantaian 8.000 warga Muslim Bosnia di kota Srebrenica tahun 1995 dan kekejaman yang terjadi selama 43 bulan pendudukan Sarajevo ini, akan segera diekstradisi dari Beograd.

”Dia tetap tak merasa bersalah atas segala yang dituduhkan kepadanya,” kata Darko Mladic kepada pers di luar Pengadilan Beograd.

Ketika dihadapkan pada sidang dengar pendapat di Beograd, Serbia, Kamis lalu, lelaki, yang dulu pada masa menjadi komandan militer dikenal garang dan kejam ini, tampak lemah, pipinya pun cekung keriput.

Menurut pengacaranya, pengadilan bahkan sempat menghentikan pertanyaan kepadanya karena kliennya ”dalam kondisi parah dan sulit menjawab”. Seorang pejabat pengadilan bahkan berpendapat Radko Mladic tampak mengalami disorientasi dan kelelahan.

Juru bicara Pengadilan Beograd, Maya Kovacevic, mengakui, memang Ratko Mladic kini mengalami sejumlah penyakit kronis, ”akan tetapi dia masih bisa mengikuti persidangan,” kata Kovacevic kepada para wartawan di luar ruang pengadilan.

Mladic ditangkap pada Kamis pagi dini hari di Desa Lazarevo di timur laut kota Zrenjanin, sekitar 100 km dari ibu kota Serbia, Beograd. Ia berada di peternakan milik familinya.

Reaksi atas penangkapan Mladic ini di Serbia disambut mendua. Bagi sejumlah keluarga korban yang masih hidup, tindakan ini disambut gembira. Sementara itu, bagi kaum ultranasionalis, penangkapan yang diumumkan sendiri oleh Presiden Serbia Boris Tadic pada Kamis lalu itu disambut aksi protes. Radko Mladic, bagi kalangan ultranasionalis, malah dianggap sebagai pahlawan.

Pemerintah Serbia saat ini bahkan melarang warganya melakukan pertemuan publik dan memperketat keamanan guna menghadapi aksi protes kaum ultranasionalis Serbia ini.

Dengan ditangkapnya Radko Mladic ini, dari 161 orang yang termasuk dalam daftar tertuduh oleh Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag, kini tinggal seorang tokoh lagi yang masih belum tertangkap, yakni Goran Hadzic (52). Hadzic, yang pernah menjadi Presiden Kroasia ini, menghadapi 14 tuduhan kriminal perang atas keterlibatannya dalam aksi pembunuhan terhadap warga Kroasia selama perang yang berlangsung pada 1991-1995.

Sejumlah tersangka kriminal perang sudah diterbangkan ke Belanda untuk diadili, ditahan di luar kota Den Haag, seperti mantan Pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic dan mendiang mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic.

Apabila Mladic jadi diekstradisi ke Den Haag, sebuah panel hakim akan segera dibentuk, dan Mladic harus segera dihadapkan ke sidang pengadilan internasional tanpa ditunda-tunda lagi dalam waktu 12-24 jam setelah kedatangannya di Den Haag.

Pengadilan Mladic ini diperkirakan akan berlangsung sampai setidaknya tahun 2014.

Slobodan Milosevic meninggal tahun 2006 setelah menjalani persidangan selama empat tahun, dengan ratusan saksi. Sementara itu, Radovan Karadzic mula-mula memboikot awal persidangan pada 2009 setelah setahun diekstradisi dari Serbia ke Den Haag.

Mladic sendiri sebenarnya sudah dinyatakan sebagai tersangka penjahat perang Bosnia pada tahun 1995 bersamaan dengan Radovan Karadzic.(AFP/AP/Reuters/sha)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau