Timur tengah

Yaman di Ambang Perang Saudara

Kompas.com - 28/05/2011, 03:34 WIB

SANA’A, Jumat - Krisis politik di Yaman, Jumat (27/5), memasuki babak paling menegangkan setelah kerusuhan sehari sebelumnya menewaskan 40 orang di Sana’a. Itu adalah kerusuhan berdarah terburuk sejak Januari. Situasi kian tidak terkendali, dan negara miskin itu pun terancam perang saudara.

Bentrokan lebih besar dikhawatirkan terjadi seusai shalat Jumat, yang secara tradisional menjadi ajang berkumpul kelompok oposisi dan loyalis rezim yang berkuasa. Kubu oposisi ingin menumbangkan Presiden Ali Abdullah Saleh, yang telah berkuasa sekitar 33 tahun.

Bentrokan hebat, Kamis, terjadi antara tentara Yaman dan kelompok klan terbesar, yakni Hashid, pimpinan Syeikh Sadiq al-Ahmar. Oposisi merebut kantor berita Saba dan beberapa gedung pemerintah, tetapi tentara menghancurkan sebuah stasiun televisi oposisi.

Ledakan bom terdengar sporadis di Sana’a, dekat lokasi ribuan orang yang berdemontrasi menuntut Saleh mundur. Tembakan mortir berpadu dengan tembakan gas air mata dari polisi membentuk asap hitam. Kota seperti diselimuti kain kafan.

Gelombang protes terbaru sudah berjalan lima hari sejak Saleh, Minggu (22/5), menolak menandatangani proposal agar dia mundur dalam kurun waktu 30 hari. Poin lain adalah setelah mundur Saleh ikut membentuk pemerintahan persatuan dengan oposisi. Saleh ingkar dan menolak tanda tangan.

Kekerasan selama empat hari sejak Senin telah menewaskan lebih dari 80 orang. Ribuan warga, yang tidak ingin terjebak dalam kerusuhan dan kekerasan, bergegas mengemas furniture, kompor, tempat tidur bayi, dan harta benda lainnya naik ke atap mobil dan truk. Mereka meninggalkan Sana’a.

Amerika Serikat telah menarik para diplomat dan keluarganya dari negara itu. Inggris mengurangi staf di kedutaannya di Sana’a. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mendesak warganya keluar dari Yaman. Qatar juga membekukan kegiatan operasi kedutaan di Sana’a.

Saleh pun, Jumat, mengaku tidak akan berkompromi dengan oposisi. Ia telah memerintahkan penangkapan Ahmar dan sembilan saudaranya, yang dituding telah menjadi provokator. ”Provokasi kelompok Ahmar ini untuk membawa kami ke perang saudara. Mereka telah memilih jalan yang salah jika melawan negara melalui kekerasan.”

Melalui stasiun televisi Al Jazeera, Ahmar menyerukan kepada semua pihak untuk bergabung melawan Saleh. Ia balik menuding Saleh telah menyeret negara paling miskin di Arab itu dalam perang saudara. Saleh pembohong dan pembunuh.

”Saya menyerukan agar tentara, Garda Republik, dan semua pasukan keamanan untuk bergabung dengan kami, melawan preman bayaran Presiden Saleh, yang membunuh saudara mereka sendiri,” ujar Ahmar

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mendesak semua pihak melakukan ”gencatan senjata”. Clinton di Paris mengatakan, ”Kami terus mendukung Presiden Saleh mundur”. Terkait penarikan diplomat AS, kementerian mengatakan, ”Ancaman keamanan di sana sangat tinggi.”

AS dan Arab Saudi mencoba meredakan krisis dan mencegah penyebaran tindakan anarki yang memungkinkan jaringan teroris Al Qaeda mendapat tempat di dunia Arab. Ada kekhawatiran bahwa Yaman, yang terhuyung di ambang kehancuran finansial, menjadi negara gagal.

Hal itu akan menjadi ancaman keamanan regional dan menimbulkan risiko serius bagi negara tetangganya, Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia.

Pada pertemuan di Deauville, Perancis, pemimpin Kelompok Delapan meminta Saleh mundur untuk menghindari perang saudara. ”Kami menyesalkan kerusuhan itu, yang menjadi akibat langsung dari kebuntuan politik. Presiden Saleh bertanggung jawab karena ia menolak menandatangani perjanjian transisi,” kata Kementerian Luar Negeri Perancis.(AP/AFP/REUTERS/Al JAZEERA/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau