Beda Tangan Beda Kenikmatan...

Kompas.com - 29/05/2011, 04:19 WIB

 Yulia Sapthiani

Bahan dasarnya sama: beras. Pelengkapnya daging ayam, dengan varian kacang kedelai, bawang goreng, seledri, cakwe, kerupuk, dan emping. Namun, beda tangan, beda pula kenikmatan semangkuk bubur ayam. 

Bubur nasi diduga dibawa oleh pendatang dari Tiongkok Selatan, seperti dari Hokkian, Kanton, dan Hainnan. Di Tiongkok, bubur adalah sebagai makanan ringan, comfort food.

Makan bubur kalau tidak untuk sarapan, ya, makan tengah malam atau supper. Bubur disukai oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia.

”Yang umum dijajakan di jalanan adalah versi Indonesia yang diberi suwiran ayam yang telah direbus digoreng, sedikit cakwe, kacang kedelai, kecap manis, dan sambal,” kata pemerhati kuliner William Wongso.

Mengapa bubur ayam bisa menjangkau beragam lapisan masyarakat? Dalam pengamatan pakar ekonomi Rhenald Khasali, bubur ayam, seperti halnya bakso, termasuk jenis makanan yang menjadi selera mainstream, mudah disukai kalangan yang luas. 

Akan tetapi, yang menjadi penentu keberlanjutan usaha adalah inovasi dan kesungguhan memelihara rasa.

Dan inilah kisah para pemelihara rasa itu. Tangan Bang Tatang cekatan saat memasukkan bubur panas dan kental dari panci ke dalam mangkuk. Setelah itu, dia menaburkan seledri, merica, penyedap rasa, kecap asin, emping, bawang goreng, kacang kedelai, tongcai, dan ayam suwir. Dengan cepat ia melakukan itu untuk sekitar 10 porsi bubur sekaligus. Saking banyaknya taburan pelengkap alias topping-nya, bubur di mangkuk tak lagi terlihat.

Topping yang berlimpah ini memang menjadi ciri khas Bubur Ayam Bang Tatang di Jalan Palmerah Barat, dekat Jalan Rawa Belong, Jakarta. Tatang, yang berjualan bubur sejak 1980, selalu melayani sendiri pembeli meski pesanan tak pernah berhenti sejak kedai dibuka pukul 18.00 hingga tiga atau empat jam kemudian.

Penggunaan ayam kampung diakui pembeli menjadi kunci kelezatan bubur Bang Tatang. Tak hanya suwiran daging yang dipakai sebagai pelengkap. Air kaldu yang dihasilkan dari rebusan ayam dipakai untuk membuat buburnya itu sendiri sehingga memunculkan rasa sedikit gurih saat kita cecap buburnya saja.

Harga seporsinya Rp 16.000 untuk makan di tempat dan Rp 17.000 kalau pembeli ingin membawanya pulang. ”Mungkin memang terasa mahal. Akan tetapi, kalau dihitung bahannya satu per satu, baru akan mengerti mengapa harganya seperti itu. Suwiran dagingnya saja bisa sampai Rp 10.000. Ditambah emping Rp 2.000, harga bahan-bahan lainnya hanya Rp 4.000. Jadi, cukup murah, kan, he-he...,” ujar Tatang.

Sekneg sampai Hostess

Kalau Bubur Ayam Bang Tatang bisa menjadi pilihan santapan sepulang kerja, Bubur Ayam Juanda dan Bubur Permata menjadi pemuas perut-perut lapar warga Jakarta yang belum sempat sarapan di rumah. Di Juanda, pelanggannya adalah anak sekolah sampai karyawan di sekitar lokasi mangkal, termasuk karyawan Sekretariat Negara dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). 

Bubur yang dirintis oleh ayah Madi, Kamad (70) yang asal Cirebon, Jawa Barat, memiliki kekentalan sedang yang memakai kuah kuning yang asin. Pelengkapnya, ada kerupuk dan emping, kacang kedelai, seledri, bawang goreng, cakwe, suwiran daging ayam, kecap manis, dan sambal. Sebagai penambah kenikmatan, Madi menyediakan tambahan, seperti sate usus, sate telur puyuh, dan sate ati ampela ayam.

Di sekitar Permata Hijau, Jakarta, Pak Suro (46) juga melayani pembeli sejak pagi.

Menurut Suro, racikan Bubur Permata-nya merupakan perpaduan dari bubur ayam China dan tradisional. Pengalaman bekerja di rumah makan China dan sebagai pendorong gerobak bubur ayam rasa lokal buatan pamannya, mendorong Suro untuk bereksperimen.

”Dari bubur China saya ambil takaran kecap asinnya. Kecapnya khusus saya datangkan dari Medan karena kalau pakai kecap asin merek lain, konsumen akan protes. Kecap manis juga saya gunakan yang harganya paling mahal,” kata Suro sambil menyebutkan kecap manis buatan lokal. 

Lalu, bagi Anda yang gemar begadang atau bekerja pada larut malam, bubur ayam legendaris di Jakarta, yaitu Bubur Ayam Olimo atau yang terkenal dengan sebutan Bubur Hostess, bisa menjadi pilihan. Pasalnya, bubur yang terletak di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, ini bisa dinikmati sejak pukul 21.00 hingga pukul 07.00.

Buburnya tersaji sederhana. Taburan pelengkapnya tidak terlalu meriah. Meski begitu, rasa bubur dan ayamnya memang istimewa. Apalagi karena buburnya yang tidak terlalu kental disiram sedikit kuah kaldu ayam kampung. Pelengkapnya adalah seledri, cakwe, dan suwir ayam kampung. Jika suka bisa ditambahkan tongcai dan pilihan kuning telur ayam kampung mentah, telur rebus, atau telur pitan yang berwarna kehitaman seperti agar-agar.

Bubur sepanjang hari

Untuk mereka yang ingin kapan pun menyantap bubur, ada Bubur Ayam Cikini di Jalan Cikini, Jakarta, dan MH Oyo Tea di Jalan Sulanjana, Bandung, Jawa Barat. Kedua tempat ini dibuka sejak jam sarapan hingga makan malam.

Bubur Cikini yang kondang dengan akronim ”Burcik” telah dirintis HR Sulaiman sejak 1980. Sajian bubur ”khas Cirebon” yang dimasak dengan kaldu ayam kampung, ditambah emping, cakwe, dan rajangan daging ayam, memikat banyak orang. Tidak ada bahan tambahan lain yang bisa Anda nikmati dengan harga Rp 13.000 seporsi itu. Satu-satunya pelengkap yang disediakan adalah kuning telur yang membuat seporsi buburnya menjadi berharga Rp 15.000.

”Dulu kami pernah menyediakan tambahan, termasuk sate usus dan rempela-ati. Namun, malah rugi karena sering kali makanan tambahan itu nyelip dari hitungan ketika pembeli membayar,” tutur Sarwa (55), pengelola Bubur Ayam Cikini.

Di Bandung, Oyo Saryo (60) atau yang terkenal dengan sapaan Mang Oyo mengklaim, buburnya bisa membuat orang tahan lapar sejak sarapan hingga makan siang. Ini karena bubur buatannya sangatlah kental. Kekentalan yang menjadi ciri khas Bubur Ayam M H Oyo Tea membuat Oyo masih sering diminta pembeli untuk mendemonstrasikan membalik piring yang sudah diisi bubur. Bagi mereka yang baru melihat trik ini, tak jarang yang terpukau karena bubur tetap melekat di piring. Seorang pelanggan secara berseloroh sampai membuat amsal pelesetan, ”Tak kenyal maka tak Oyo....”

Kunci kekentalan bubur yang juga terasa gurih ini adalah beras yang didatangkan dari sawah milik Oyo di kampung halamannya, Majalengka. ”Tetapi, baru-baru ini saya mencoba beras dari Majalaya untuk salah satu cabang. Ternyata hasilnya bagus,” kata Oyo yang berjualan bubur ayam sejak 1976.

Karena karakteristik penikmatnya yang luas, bubur ayam tak hanya dijual di gerobak atau warung pinggir jalan. Hotel bintang lima bisa dipastikan memasukkan bubur ayam dalam salah satu menu sarapan buffet.

Di Hotel Mulia, selain bubur dengan pelengkap standar yang disajikan setiap pagi, ada pula yang disediakan untuk menu late supper khusus Sabtu dan Minggu. Penyajiannya cukup unik. Semangkuk besar bubur disajikan dengan pelengkap yang mencapai 11 macam. Di samping pelengkap standar, ada telur pitan yang menjadi ciri khas bubur China, serta bahan yang disesuaikan dengan lidah Indonesia, seperti ati ampela goreng dan sambal goreng kentang.

”Terkadang, kami juga menyajikan kimchi kalau pemesannya orang Korea,” kata Direktur Komunikasi Hotel Mulia Romy Herlambang. 

Bubur ayam memang yummy.... (DAY/MYR/ROW/SF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau