Belum Ada Investor, Arema Terancam Bubar

Kompas.com - 02/06/2011, 19:19 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Berbagai persoalan terus melilit tim Arema Indonesia. Dari persoalan krisis finansial hingga ketidakharmonisan antarpengurus.

Hingga kini, belum ada investor yang siap mengelola tim berjuluk "Singo Edan" itu. Sementara, pemain  mendesak pengurus Arema bertanggung jawan terhadap gaji yang belum terbayar, yakni selama tiga bulan. Itu belum termasuk gaji karyawan selama 3,5 bulan.

Tak hanya itu, ternyata tim juara bertahan Indonesia Super League (ISL) musim lalu itu juga memiliki utang yang tak sedikit. Arema punya utang kepada Bang Saudara, milik Arifin Panigoro, dan kepada beberapa hotel, serta kepada pihak lainnya yang digunakan untuk operasional Arema.

Hal itu terungkap dari pertemuan Ketua Yayasan Arema, M Nur, dengan seluruh pemain Arema, pelatih, serta perwakilan Aremania, sebutan suporter fanatik Arema, di sebuah Rumah Makan Batavia, Jalan Jakarta, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (2/6/2011). Dalam pertemuan itu, seluruh pemain Arema meminta M Nur segera turun dari jabatan Ketua Yayasan Arema karena dinilai tak bertanggung jawab kepada Arema.

"Kamu sudah sembilan bulan tak masuk kantor, tak peduli Arema. Kamu harus segera turun," kata Pelatih Arema Miroslav Janu.

Janu juga menyampaikan bahwa gaji pemain selama tiga bulan harus segera dibayar. "Kami sudah bermain profesional, sekarang gaji kami harus dibayar. Kamu yang mengontrak saya langsung, bukan siapa-siapa. Saya akan menutnut ke kamu," ujar pelatih asal Republik Ceko itu.

Selain itu, Janu siap keluar dari Arema kalau pihak manajemen Arema belum jelas soal pembayaran gaji kepada dirinya dan pemain. Begitu juga apa yang dialami pemain sehingga mereka meminta  M Nur agar segera turun dari ketua Yayasan Arema.

"Kalau pak Nur turun dari ketua Yayasan Arema, sudah ada investor yang siap. Karena investor siap mengelola Arema kalau Pak Nur turun," kata Zulkifli Syukur, kapten Arema.

Sementara itu, jika hingga kini manajemen Arema belum juga bisa membayar gaji pemain hingga akhir kompetisi, total utang Arema senilai Rp 10,6 miliar. "Itu secara total utang Arema hingga akhir musim kompetisi, baik gaji pemain maupun utang Arema," kata Media Officer Arema, Sudarmadji.

Masih menurut M Nur, pihaknya siap mundur dari Arema dengan syarat investor yang akan membeli Arema siap membayar semua utang Arema. "Arema punya utang ke Bank Saudara, ke beberapa hotel, dan uang yang digunakan operasional," bebernya tanpa menyebut nominal total utang Arema.

Kalau investor siap membayar utang Arema itu, tegas M Nur, dirinya siap mundur dari Arema. "Saya bersedia mundur demi kemajuan Arema. Dulu, saya sudah tak mau jadi ketua yayasan," katanya.

Ditanya Noh Alam Shah, pemain asal Singapura, kalau tak ada investor masuk, lalu apa langkah M Nur untuk membayar gaji pemain? M Nur menjawab, sebelum akhir kompetisi, pihakya siap mencarikan untuk gaji.

"Kalau saat ini Arema memang tak ada uang," akunya.

Seluruh pemain Arema khawatir kalau dirinya nanti keluar dari Arema, gaji tak juga dibayar. "Itu yang dikhawatirkan seluruh pemain," kata Musafri.

Menurut M Bustomi, dirinya khawatir, dengan kondisi demikian, investor belum juga ada yang masuk, pemain Arema akan meninggalkan Arema. "Makanya segera dibayar gaji pemain," harapnya di depan M Nur yang didampingi Pembina Yayasan Arema, Rendra Krisna, saat itu.

Nur mengaku bahwa dirinya selama menjabat ketua yayasan tak pernah tahu keuangan Arema. "Saya tak pernah pegang uang Arema. Pengurus yang tahu keuangan Arema. Karena tak pernah ada laporan kepada saya," bebernya.

Hingga akhir pertemuan tersebut belum ada kesepakatan dan perjanjian ecara tertulis kapan Manajemen Arema siap membayar gaji pemain selama tiga bulan, gaji pelatih dan gaji karyawan selama 3,5 bulan.

"Saya minta M Nur jangan selalu berbohong," kata Roman Chmelo, saat itu.

Sementara, Noh Alam Shah, sebelum pertemuan berakhir, sudah meninggalkan ruang pertemuan. "Saya lebih baik keluar dari pertemuan ini karena tak ada hasilnya," katanya sembari meninggalkan ruangan.

Menanggapi permintaan pemain, Pembina Yayasan Arema, Rendra Krisna, mengatakan, pihaknya akan berjuang terus agar gaji pemai segera terbayarkan sebelum akhir kompetisi.

"Saya Bupati Malang, tak akan lari ke mana," ujarnya.

Sementara soal calon investor, Rendra mengaku belum ada yang positif akan mengelola Arema. "Hanya karena selama ini yang membantu Arema adalah Bakrie Grup, dia yang akan diprioritaskan kalau siap membeli Arema," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau