Penembak Polisi Berkeliaran

Kompas.com - 03/06/2011, 05:11 WIB

Jakarta, Kompas - Polisi masih memburu komplotan bersenjata yang menembak Ajun Inspektur Dua Sugiantoro, satu dari lima anggota Unit Kendaraan Bermotor Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Bekasi Kota, saat berpatroli di depan Toko Ongko Mulyo, Jalan Raya Mess AL, Jatiranggon, Jatisampurna, Kota Bekasi, Rabu (1/6).

Polisi belum mengetahui apakah penembakan itu terkait dengan terorisme atau tindak pidana umum.

”Kami belum tahu apakah mereka termasuk kelompok teror. Namun, yang jelas, mereka menggunakan senjata laras panjang,” kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Negara Republik Indonesia Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, kemarin.

Baku tembak

Penembakan itu terjadi Rabu antara pukul 03.00 dan pukul 04.00. Saat itu Sugiantoro sedang berpatroli bersama empat petugas lain, yaitu Ajun Inspektur Dua Sugihartono, Brigadir Kepala Nul Suryadi dan Ade, serta Brigadir Satu Ali Sadikin.

Kelima petugas itu berpatroli dengan menaiki tiga sepeda motor. Nul dan Sugiantoro yang berada di belakang curiga dengan mobil yang parkir di depan Toko Ongko Mulyo. Mereka langsung menghampiri mobil itu karena mobil tersebut diparkir dengan posisi menghadap ke jalan.

Begitu didekati Nul dan Sugiantoro, empat sampai lima orang langsung bergegas masuk ke mobil. Saat akan diperiksa, tiba-tiba dari dalam mobil pelaku melepaskan tembakan.

Sugiantoro yang posisinya paling depan tewas ditembak, sedangkan Nul sempat tiarap. Baku tembak pun terjadi.

”Berdasarkan keterangan semua petugas di sana, mereka melepaskan 14 tembakan ke mobil pelaku,” ujar Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar.

Mobil yang digunakan pelaku sempat terkena tembakan dan kacanya pecah. Namun, pelaku dapat melarikan diri. Polda Metro Jaya masih terus melacak Toyota Innova hitam yang dipakai penjahat itu.

Keberadaan pelaku, hingga pukul 19.30, belum terlacak. Petugas sudah menyusuri kawasan Cibubur hingga Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. ”Masih terus kami kejar,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Bekasi Kota Komisaris Besar Imam Sugianto.

Mengenai senjata yang digunakan pelaku juga masih terus diselidiki. Berdasarkan hasil otopsi, menurut Imam, Sugiantoro tewas akibat peluru kaliber 8 milimeter yang mengenai tulang hidung kanan, lalu naik ke otak kanan dan menembus rangka otak belakang. Namun, proyektil peluru yang menewaskan Sugiantoro belum ditemukan di tempat kejadian perkara. Empat proyektil peluru yang baru ditemukan di lokasi diduga berasal dari senjata polisi yang terlibat baku tembak, bukan yang ditembakkan pelaku.

Kenaikan pangkat

Sugiantoro adalah lulusan Sekolah Calon Bintara Polri 1993. Pria kelahiran Jakarta, 5 Januari 1972, ini dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Poncol, Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Sugiantoro meninggalkan istri, Giah Lestari (35), serta dua anak, Rafael dan Andeana. Sugiantoro dikenal keluarga sebagai sosok ayah yang baik dan humoris.

Polres Kota Bekasi Kota mengusulkan Sugiantoro diberi kenaikan pangkat menjadi ajun inspektur satu anumerta.

(COK/BRO/FER)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau