Polisi belum mengetahui apakah penembakan itu terkait dengan terorisme atau tindak pidana umum.
”Kami belum tahu apakah mereka termasuk kelompok teror. Namun, yang jelas, mereka menggunakan senjata laras panjang,” kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Negara Republik Indonesia Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, kemarin.
Penembakan itu terjadi Rabu antara pukul 03.00 dan pukul 04.00. Saat itu Sugiantoro sedang berpatroli bersama empat petugas lain, yaitu Ajun Inspektur Dua Sugihartono, Brigadir Kepala Nul Suryadi dan Ade, serta Brigadir Satu Ali Sadikin.
Kelima petugas itu berpatroli dengan menaiki tiga sepeda motor. Nul dan Sugiantoro yang berada di belakang curiga dengan mobil yang parkir di depan Toko Ongko Mulyo. Mereka langsung menghampiri mobil itu karena mobil tersebut diparkir dengan posisi menghadap ke jalan.
Begitu didekati Nul dan Sugiantoro, empat sampai lima orang langsung bergegas masuk ke mobil. Saat akan diperiksa, tiba-tiba dari dalam mobil pelaku melepaskan tembakan.
Sugiantoro yang posisinya paling depan tewas ditembak, sedangkan Nul sempat tiarap. Baku tembak pun terjadi.
”Berdasarkan keterangan semua petugas di sana, mereka melepaskan 14 tembakan ke mobil pelaku,” ujar Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar.
Mobil yang digunakan pelaku sempat terkena tembakan dan kacanya pecah. Namun, pelaku dapat melarikan diri. Polda Metro Jaya masih terus melacak Toyota Innova hitam yang dipakai penjahat itu.
Keberadaan pelaku, hingga pukul 19.30, belum terlacak. Petugas sudah menyusuri kawasan Cibubur hingga Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. ”Masih
Mengenai senjata yang digunakan pelaku juga masih terus diselidiki. Berdasarkan hasil otopsi, menurut Imam, Sugiantoro tewas akibat peluru kaliber 8 milimeter yang mengenai tulang hidung kanan, lalu naik ke otak kanan dan menembus rangka otak belakang. Namun, proyektil peluru yang menewaskan Sugiantoro belum ditemukan di tempat kejadian perkara. Empat proyektil peluru yang baru ditemukan di lokasi diduga berasal dari senjata polisi yang terlibat baku tembak, bukan yang ditembakkan pelaku.
Sugiantoro adalah lulusan Sekolah Calon Bintara Polri 1993. Pria kelahiran Jakarta, 5 Januari 1972, ini dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Poncol, Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Sugiantoro meninggalkan
Polres Kota Bekasi Kota mengusulkan Sugiantoro diberi kenaikan pangkat menjadi ajun inspektur satu anumerta.