Lebih dari 300 orang sambil meneriakkan ”ganyang China” berpawai menuju Kedutaan China di Hanoi, Vietnam, Minggu (5/6). Massa memprotes pelanggaran kedaulatan wilayah Vietnam oleh China di Laut China Selatan, yang dipersengketakan.
Aksi protes seperti ini jarang terjadi di Vietnam. Media di Vietnam juga melaporkan, sekitar 1.000 orang melakukan aksi serupa di konsulat China di Ho Chi Minh, kota besar lainnya yang terletak di Vietnam selatan.
Para pendemo, sebagian besar mahasiswa dan kaum muda, bergerak melalui pusat kota Hanoi dengan meneriakkan yel-yel anti-China. Sebagian besar pengunjuk rasa itu mengenakan kaus berwarna bendera Vietnam, merah kuning. Mereka menyanyikan lagu-lagu patriotik pertanda kemarahan atas ”pelanggaran kedaulatan wilayah negara mereka” di Laut China Selatan.
Pekan lalu para pengunjuk rasa juga melakukan protes selama satu jam menyangkut kepulauan Spratly dan Paracel. Akibat aksi ini, Hanoi dikecam keras oleh Beijing.
Namun, kali ini massa mengecam China dengan menerikkan ”hegemoni China membahayakan Asia” dan ”awas invasi”. Sebuah spanduk bertuliskan ”Kami kecil, tetapi kami tak dapat menerima invasi China” juga dipajang.
Gugusan Kepulauan Spratly dan Paracel memiliki cadangan minyak dan gas serta kaya ikan. Sengketa wilayah itu menimbulkan kemarahan Vietnam, yang pernah dijajah China selama seabad. China pernah menyerang dan mengambil alih Paracel pada 1974. Pada 1988 China dan Vietnam terlibat perang singkat dekat Spratly. Lebih dari 70 pelaut Vietnam tewas saat itu.
Kepulauan Spratly dengan lebih dari 100 pulau kecil, atol, dan karang diklaim seluruhnya atau sebagian oleh China, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. Paracel, yang direbut China dari Vietnam selatan pada tahun 1974, juga diklaim oleh Taiwan.
Filipina, Sabtu, juga memprotes China karena dinilai merusak kedamaian dan stabilitas Asia dengan mengirim kapal-kapal perang ke Laut China Selatan untuk mengintimidasi.
Menteri Pertahanan China Liang Guanglie, Minggu di Singapura, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemajuan militer China bukan untuk mengancam.
”Kami tak ingin mengancam negara mana pun dengan modernisasi militer. Saya mengerti beberapa pihak berpikir militer China adalah ancaman,” katanya. (AFP/AP/REUTERS/CAL)