Vietnam Memprotes

Kompas.com - 06/06/2011, 03:07 WIB

Hanoi, Minggu - Ratusan warga di dua kota utama Vietnam, yakni Hanoi dan Ho Chi Minh, menggelar unjuk rasa bertajuk ganyang China, Minggu (5/6). Mereka seperti hendak menyambut pernyataan Filipina Benigno Aquino III sebelumnya, yang menuding China telah merusak stabilitas di Asia melalui intimidasi militer di Laut China Selatan.

Lebih dari 300 orang sambil meneriakkan ”ganyang China” berpawai menuju Kedutaan China di Hanoi, Vietnam, Minggu (5/6). Massa memprotes pelanggaran kedaulatan wilayah Vietnam oleh China di Laut China Selatan, yang dipersengketakan.

Aksi protes seperti ini jarang terjadi di Vietnam. Media di Vietnam juga melaporkan, sekitar 1.000 orang melakukan aksi serupa di konsulat China di Ho Chi Minh, kota besar lainnya yang terletak di Vietnam selatan.

Para pendemo, sebagian besar mahasiswa dan kaum muda, bergerak melalui pusat kota Hanoi dengan meneriakkan yel-yel anti-China. Sebagian besar pengunjuk rasa itu mengenakan kaus berwarna bendera Vietnam, merah kuning. Mereka menyanyikan lagu-lagu patriotik pertanda kemarahan atas ”pelanggaran kedaulatan wilayah negara mereka” di Laut China Selatan.

Hegemoni membahayakan

Pekan lalu para pengunjuk rasa juga melakukan protes selama satu jam menyangkut kepulauan Spratly dan Paracel. Akibat aksi ini, Hanoi dikecam keras oleh Beijing.

Namun, kali ini massa mengecam China dengan menerikkan ”hegemoni China membahayakan Asia” dan ”awas invasi”. Sebuah spanduk bertuliskan ”Kami kecil, tetapi kami tak dapat menerima invasi China” juga dipajang.

Spratly dan Paracel

Gugusan Kepulauan Spratly dan Paracel memiliki cadangan minyak dan gas serta kaya ikan. Sengketa wilayah itu menimbulkan kemarahan Vietnam, yang pernah dijajah China selama seabad. China pernah menyerang dan mengambil alih Paracel pada 1974. Pada 1988 China dan Vietnam terlibat perang singkat dekat Spratly. Lebih dari 70 pelaut Vietnam tewas saat itu.

Kepulauan Spratly dengan lebih dari 100 pulau kecil, atol, dan karang diklaim seluruhnya atau sebagian oleh China, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. Paracel, yang direbut China dari Vietnam selatan pada tahun 1974, juga diklaim oleh Taiwan.

Filipina, Sabtu, juga memprotes China karena dinilai merusak kedamaian dan stabilitas Asia dengan mengirim kapal-kapal perang ke Laut China Selatan untuk mengintimidasi.

Menteri Pertahanan China Liang Guanglie, Minggu di Singapura, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemajuan militer China bukan untuk mengancam.

”Kami tak ingin mengancam negara mana pun dengan modernisasi militer. Saya mengerti beberapa pihak berpikir militer China adalah ancaman,” katanya. (AFP/AP/REUTERS/CAL)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau