Hutan Kota Kurang Terurus

Kompas.com - 06/06/2011, 04:09 WIB

Jakarta, Kompas - Hutan Kota Srengseng di Jakarta Barat, Minggu (5/6), terlihat kurang terurus. Sampah plastik, kertas pembungkus makanan, dan puntung rokok ditemukan di rerumputan dan di Kali Pesanggrahan yang mengaliri hutan kota seluas 15,3 hektar ini.

Menanggapi kondisi hutan tersebut, Kepala Bidang Kehutanan Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Desmon Sitorus mengatakan, pihaknya akan segera membersihkan semua sampah yang ada.

”Sampah plastik harus bersih dari hutan kota,” kata Desmon ketika dihubungi melalui telepon, Minggu sore kemarin.

Menurut Desmon, sampah memang selalu menjadi masalah dalam pengelolaan Hutan Kota Srengseng. Selain perilaku sebagian pengunjung yang suka membuang bungkus plastik, kertas, atau sisa makanan tidak pada tempatnya, warga sekitar juga masih ada yang melempar sampah di perbatasan antara hutan dan permukiman. Kali Pesanggrahan yang diharapkan mempercantik hutan kota ini juga tidak bisa bersih dari sampah.

”Sampah di kali mungkin terbawa dari luar meskipun di sini sebenarnya sudah ada mesin pemilah sampah untuk menjaring sampah sebelum aliran air memasuki hutan kota,” tuturnya.

Desmon menegaskan, ia akan mengerahkan petugasnya, termasuk sepuluh orang yang memang bertugas menjaga Hutan Kota Srengseng untuk menghalau sampah. Ia juga telah menyarankan agar pemerintah kota setempat membangun tempat pembuangan sampah sementara bagi warga sekitar.

Tempat rekreasi

Sesuai namanya, Hutan Kota Srengseng adalah hutan, bukan taman. Dengan demikian, kata Desmon, pepohonan dibiarkan tumbuh alami seperti di habitat aslinya. Tidak ditata layaknya di taman.

Apabila diurus lebih baik, hutan ini mestinya akan menjadi tempat rekreasi yang nyaman. Pohon-pohon tinggi membentuk kanopi memayungi jalan-jalan konblok di paru-paru kota yang dibuat pada tahun 1993 ini.

Di tengah aliran Kali Pesanggrahan yang dibentuk menjadi semacam danau juga terdapat pulau buatan. Dari seberang pulau, di pinggir Kali Pesanggrahan, pengunjung bisa menikmati aksi monyet-monyet bergelantungan atau berjalan di tepi sungai mencari buah kersen atau ceri hutan. Sambil berjalan kaki mengelilingi hutan, celoteh beraneka jenis buruh riuh rendah terdengar.

Hutan Kota Srengseng pada tahun 1980-an dikenal masyarakat setempat sebagai tempat sampah besar. Pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta R Suprapto, pembenahan dilakukan. Secara bertahap hamparan sampah diuruk dengan tanah hingga setebal lebih dari satu meter dengan sistem gali uruk antara sampah dan tanah. Akhirnya, terbentuklah hamparan tanah luas.

Kini, Hutan Kota Srengseng memiliki ratusan tegakan yang terdiri dari 42 jenis pohon dan kebun bibit seluas 2,5 hektar. Ada pula 11 jenis tanaman anggrek yang semakin mempercantik hutan di pusat kota Jakarta ini.

Cukup banyak kegiatan masyarakat yang berlangsung di hutan ini setiap harinya. Seperti yang dilakukan oleh manajemen sebuah bank swasta yang bekerja sama dengan radio swasta untuk menggelar penelitian kualitas air Kali Pesanggrahan, Minggu pagi kemarin. Kegiatan ini melibatkan siswa-siswa sekolah menengah atas dan bertujuan menularkan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda.

Paru-paru kota

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Soedaryatmo dan arsitek lanskap Nirwono Joga mengingatkan, Jakarta kekurangan paru-paru kota. Untuk kota seluas 650 kilometer persegi dengan penduduk mencapai 9 juta jiwa dan mobilitas warganya yang begitu tinggi, dibutuhkan lebih banyak ”Hutan Kota Srengseng”.

”Dulu berdalih mengatasi macet, jalur hijau di kawasan Sudirman-Thamrin dipangkas. Ini jelas sikap pemerintah yang belum protaman,” kata Soedaryatmo.

Nirwono menambahkan, untuk mengimbangi produksi berbagai macam polusi di Jakarta, perlu tegakan pohon serta kawasan serapan air yang banyak dan luas. Taman-taman baru, seperti Taman Menteng dan Ayodya, yang lebih banyak lapisan semennya sebenarnya sulit dikatakan sebagai kawasan hijau.

Ke depannya, baik Soedaryatmo maupun Nirwono berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa mengontrol dan memastikan taman ataupun hutan kota berfungsi sebagaimana mestinya. Hal itu perlu dilakukan demi kelangsungan hidup warga Jakarta. (NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau