Dua Terduga Teroris Jarang Berinteraksi

Kompas.com - 12/06/2011, 05:58 WIB

SAMARINDA, KOMPAS.com — Dua terduga teroris, Juardi dan Faisal, yang ditangkap tim Densus 88 di Jalan Mulawarman Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, jarang berinteraksi dengan warga sekitar.  

"Keduanya jarang berkumpul, apalagi mengobrol dengan warga. Mereka hanya tersenyum jika berpapasan dengan warga," ungkap Jamilah, salah seorang warga, Minggu (12/6/2011) dini hari.

Jamilah, yang tengah menonton televisi di ruang tengah rumahnya saat penggerebekan berlangsung, mengatakan, dia baru tahu jika salah satu yang ditangkap sejumlah orang berpakaian hitam dengan membawa senjata laras panjang tersebut bernama Faisal.

"Selama ini, kami hanya memanggilnya Pak Lek dan yang kami tahu dia mengontrak di rumah Juardi. Dia bersama istrinya tinggal di rumah itu sekitar enam bulan dan kami juga tidak tahu dari mana asalnya," katanya.

Namun, baik Juardi maupun Faisal, kata dia, memiliki penampilan yang sama, yakni kerap memakai sarung.

"Juardi sudah bertahun-tahun tinggal di sini (Jalan Mulawarman) dan telah memiliki dua orang anak. Istri Juardi kami sering panggil Bu Asih, namun kami tidak tahu nama istri Faisal karena hanya keluar rumah saat akan berbelanja," ujarnya.

Meskipun demikian, baik Juardi maupun Faisal, kata warga, dikenal cukup ramah.

"Mereka cukup ramah dan sering tersenyum jika bertemu dengan warga. Tapi, keduanya tidak pernah mau berkumpul dengan warga lainnya," kata Yuliati, warga yang rumahnya hanya berjarak satu rumah dari rumah milik Juardi.

Sebelum ditangkap, kata Yuliati, Juardi dan Faisal baru pulang dari kampung halamannya di Jawa.

"Mereka baru pulang tadi pagi dan siangnya langsung ditangkap. Katanya, mereka baru pulang dari Jawa, tetapi kami tidak tahu tepatnya dia berasal dari Jawa mana," katanya.

Kedua orang terduga teroris tersebut, kata warga, kerap bepergian hingga beberapa hari.

"Mereka sering pergi hingga dua minggu, tetapi kami tidak tahu ke mana perginya. Kami juga tidak tahu kapan mereka pergi dan pulangnya sebab tiba-tiba saja mereka tidak ada, tetapi beberapa hari kemudian muncul. Kami tahu kalau Juardi dan Faisal ada saat mereka pergi ke masjid," kata Sujiono, warga lainnya.

Bahkan, lanjut Sujiono, kehadiran Faisal di rumah Juardi tidak pernah dilaporkan ke ketua RT setempat.

"Faisal sudah tinggal di rumah Juardi sekitar enam bulan, tetapi tidak pernah melapor ke ketua RT. Kami juga baru tahu namanya Faisal setelah ditangkap sebab selama ini tidak pernah ada yang tahu namanya karena jarang berinteraksi dengan warga, kecuali kalau ke masjid dia hanya lewat dan tersenyum. Sementara Juardi memang warga di sini," ungkap Sujiono.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau