Buku

Arsitektur Memintarkan atau Membodohkan?

Kompas.com - 12/06/2011, 06:13 WIB

OLEH ANDREAS YANUAR WIBISONO

• Judul: Arsitektur yang Membodohkan

• Penulis: Pursal • Penerbit: CSS Publishing

• Cetakan: I, 2010

• Tebal: 208 halaman

• ISBN: 978-979-17433-7-2 Andreas Yanuar Wibisono

Arsitektur berperan besar dalam membentuk budaya masyarakat penggunanya. Maka, kompetensi seorang arsitek akan menentukan lingkungan binaan yang dapat memintarkan atau membodohkan.

Buku yang dari judulnya memiliki kesan sinis ini mengupas persoalan tersebut dengan cara yang berbeda. Melalui ungkapan kalimat negatif, Pursal, seorang pengajar pada Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, menantang pemikiran para arsitek, baik yang aktif sebagai praktisi maupun yang tenggelam dalam pusaran teoretis.

Ia ingin menyampaikan gagasannya tentang seluruh pengetahuan mendasar yang seharusnya tertanam dalam pembelajaran arsitektur. Maka, selain berguna bagi para arsitek, buku ini sangat berguna bagi mahasiswa dan awam untuk mengetahui peta besar pergumulan arsitektur.

Pursal menceritakan arsitektur dengan berpijak pada kebutuhan dan keinginan manusia. Jika pada awalnya arsitektur lahir dari manusia, ia pun harus menyesuaikan diri dengan dinamika manusia, bukan sebaliknya. Namun, berbagai karya arsitektur yang tercipta di Indonesia saat ini seolah hanya mengikuti gaya dibandingkan dengan berangkat dari inti pemikiran.

Melalui pengamatannya akan perkembangan arsitektur Indonesia itu, Pursal menyelipkan berbagai macam pandangannya. Ia membahasnya tuntas bagaimana berarsitektur dari tahap perancangan sampai penilaian, seperti pentingnya sebuah prinsip tatanan dalam perancangan, bagaimana hubungan fungsi-bentuk-makna dalam arsitektur, peran riset dalam perancangan, peran alam dan budaya, sampai akhirnya peran karya arsitektur itu sendiri dalam perkembangan kesadaran masyarakat pada zamannya.

Perancangan arsitektur harus memiliki hubungan fungsi-bentuk-makna yang harmonis. Maka, sebuah karya tidak dapat hanya mengedepankan estetika bentuk, lalu mengenyampingkan segi fungsi atau maknanya. Hubungan tiga unsur ini telah dinyatakan oleh David Smith Capon dalam bukunya, The Architectural Theory: The Vitruvian Fallacy (1999). Berpegang pada pengamatannya, Pursal menambahkan, hubungan ini menjadi fungsi-konteks; bentuk-struktur; pesan-makna. Maksudnya adalah sebuah fungsi harus di strukturkan agar ia mendapatkan bentuknya, bentuk dengan sendirinya akan menampilkan pesan sehingga ia memiliki makna bagi orang yang melihatnya dan makna itu harus dikontekskan kembali pada fungsi agar makna yang ada sesuai. Begitulah hubungan segitiga fungsi-bentuk-makna dalam perancangan arsitektur, yang tidak dapat berjalan linier, tetapi spiral.

Hubungan tersebut mencerminkan pandangan Pursal yang selalu berpegang pada prinsip keseimbangan. Arsitektur sebagai sebuah teks tidak dapat mendominasi penggunanya, sebaliknya ia juga tidak boleh seenaknya saja walau tanpa ada intensi ingin mendominasi manusia. Kubu ekstrem antara karya arsitektur yang mendominasi dan seenaknya saja inilah yang harus dihindari oleh perancang.

Maka, arsitektur dapat memintarkan lingkungan manusia juga sekaligus dapat membodohkan. Disebut memintarkan apabila ia sebagai teks sesuai dengan—apa yang dikatakan Heidegger dalam building, dwelling, thinking—apa pun yang telah ada di tempat itu sebelumnya (konteks). Disebut membodohkan apabila arsitektur ingin mendominasi atau justru seenaknya sendiri sehingga manusia yang menggunakannya secara tidak sadar hilang identitasnya.

Kerancuan berpikir

Pursal melakukan eksperimen cara penyampaian dalam bukunya ini. Usaha tersebut dilakukan agar sebuah kritik atau teori dapat mudah dinikmati sebelum akhirnya dipahami.

Teknik bertanya dengan kalimat negatif adalah salah satu caranya untuk mengusik kesadaran para pembaca. Pertanyaan ini selalu ia munculkan dalam setiap judul babnya yang berjumlah sembilan bagian. Misalnya saja judul bab ketujuh, yaitu ”Bagaimana Meniadakan Makna Budaya dalam Perancangan Arsitektur?” Judul bab ini seolah akan memberikan cara-cara praktis dalam meniadakan unsur budaya, tetapi sebenarnya Pursal justru ingin menyatakan akibat tidak adanya unsur makna budaya melalui penjelajahan mendalam peran makna budaya.

Pada awal penjelasan Pursal memberikan cerita sederhana tentang topik, selanjutnya ia membawa contoh tersebut pada bidang arsitektur. Untuk menghantarkan pembaca pada pandangannya, ia memberikan contoh pemikiran lain sebelum ia menyatakan pemikirannya. Ia tidak pernah menutup pemikirannya dengan pernyataan tegas, ia justru selalu melemparkan pertanyaan yang lugas. Pertanyaan inilah yang akhirnya mengembalikan sebuah perkara pada perenungan pembaca masing-masing.

Kalimat bercerita Pursal dalam Arsitektur yang Membodohkan cukup sulit untuk dipahami karena pola tersebut. Mungkin pembaca dapat menangkap pengertian sekilas, tetapi apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pursal selalu ”terselip” dalam kalimat-kalimatnya.

Untuk mengatasi hal itu, Pursal menyertakan ilustrasi yang lucu dan mudah dipahami. Mirip karakter Manga. Hampir seperempat buku ini akhirnya diisi oleh ilustrasi tersebut. Sebuah prinsip keseimbangan yang ia terapkan juga dalam penyajian. Pusaran teoretis yang pejal disandingkan dengan ilustrasi yang sangat mudah dinikmati.

Peta besar arsitektur

Membaca buku ini dari awal sampai akhir dapat membuat pembaca mengerti peta besar perancangan arsitektur. Namun, pembaca tidak dapat mendalami setiap permasalahan secara mendetail karena Pursal hanya memberikan rujukan setiap permasalahan pada pemikiran, buku, atau karya orang lain yang sudah ada. Pembaca digiring dengan cepat memahami permasalahan untuk masuk ke dalam pemikiran Pursal itu sendiri.

Rujukan yang diberikan dalam setiap gagasannya tidak hanya berangkat dari bidang arsitektur. Beberapa pemikiran bidang ilmu filsafat, budaya, antropologi, dan ilmu lainnya ia sertakan. Inilah yang membuat pemikiran Pursal dalam arsitektur tidak terpisah dari keseluruhan peri kehidupan manusia

Namun, sayangnya, walaupun berangkat dan diperuntukkan secara khusus bagi dunia arsitektur Indonesia, Pursal tidak memberikan seluruh contoh nyata bangunan-bangunan yang dimaksud. Ia hanya menceritakan hal-hal yang prinsipil pada setiap kasus. Dalam hal ini pembaca dianggap sudah memiliki referensi tersendiri tentang setiap bangunan yang dimaksud.

Dalam bukunya ini terasa bahwa Pursal ingin memprovokasi para arsitek lain untuk tidak latah terhadap gaya yang muncul di Barat dan untuk mulai memunculkan kemudian menuliskan pemikirannya sendiri.

Andreas Yanuar Wibisono Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan

INFO BUKU BARU

Masyarakat Kecil Menggapai Keadilan

• Judul: Akses terhadap Keadilan, Perjuangan Masyarakat Miskin, dan Kurang Beruntung untuk Menuntut Hak di Indonesia

• Penyunting: Ward Berenschot dkk

• Penerbit: HuMa, Van Vollenhoven Institute, KITLV-Jakarta, Epistema Institute, 2011

• Tebal: xiii + 324 halaman

• ISBN: 978-602-8829-11-3

Akses keadilan bagi masyarakat kecil begitu panjang dan melelahkan. Inilah kesan yang diungkap Widodo Dwi Putro terhadap Sabar, seorang buruh lepas perkebunan di Jawa Timur yang berjuang melawan PHK sepihak. Berbagai cara ditempuh, seperti menghubungi Disnakertrans, LBH, serta berbicara kepada tokoh agama, aparat desa, bahkan wartawan. Ketika harapannya nyaris sirna, Sabar kemudian berkirim surat kepada Presiden Republik Indonesia.

Respons Presiden akhirnya membuat Sabar dipekerjakan kembali, bahkan salah satu rekannya berhasil mendapatkan pesangon. Pergulatan Sabar adalah satu dari kesulitan masyarakat bawah yang diungkap publikasi ini dalam menghadapi ketidakadilan. Kumpulan tulisan ini juga membahas cara dan strategi yang digunakan untuk mendapatkan akses terhadap keadilan. Merujuk pada kasus Sabar, keadilan yang didapatkan bukan dari jalur hukum, melainkan karena kebaikan budi pemegang kekuasaan.

Strategi lainnya adalah pemanfaatan kontak politik. Masyarakat semakin sering menggunakan kontak politik sebagai mediator, seperti diuraikan Richardo Simarmata tentang upaya nelayan di Kalimantan Timur mengadu ke DPRD setempat terkait kerusakan lingkungan yang disebabkan perusahaan tambang. Cara lain adalah melalui aksi protes atau unjuk rasa. Jejaring media sosial, blog, dan e-mail muncul sebagai alat baru dan efektif untuk merangsang perhatian publik terhadap suatu kasus, seperti gerakan koin keadilan bagi Prita Mulyasari. (YOG/Litbang Kompas)

Bersahabat dengan Mesin

• Judul: Alone Together

• Penulis: Sherry Turkle

• Penerbit: Basic Books, 2011

• Tebal: vxii + 360 halaman

• ISBN: 978-0-465-01021-9

Teknologi membuat manusia mempunyai pola interaksi sosial yang aneh. Berdasarkan sebuah penelitian di AS, orang mengaku kini memiliki lebih sedikit sahabat meskipun terhubung dengan banyak teman maya di Facebook. Teknologi membuat orang lebih senang berkomunikasi melalui teks daripada percakapan. Mengapa? Karena seluruh kendali komunikasi ada dalam genggamannya. Kapan pun ia boleh memulai dan menghentikan kontak itu. Lagipula pada relasi seperti itu tidak dituntut untuk memberikan perhatian sepenuhnya kepada teman bicara. Bahasa yang digunakannya pun berbeda. Perasaan kini bisa disampaikan dalam bentuk emoticon.

Dari kajiannya selama hampir 15 tahun terhadap 450 orang dewasa dan anak-anak, Turkle mencermati perubahan peran robot. Robot yang awalnya hanya berada di ruang bermain anak, kini menjadi ”sahabat” manusia. Fungsinya bukan hanya sebagai mesin, tetapi juga menjadi makhluk. Gejalanya dengan mudah bisa diamati pada permainan Tamagotchi, yang menempatkannya seolah makhluk bernyawa. Sejumlah kode angka berhasil dirancang untuk menunjukkan emosi sedih, lapar, dan senang.

Dalam triloginya ini, Turkle melihat kedekatan manusia pada teknologi sampai pada tahap ketergantungan. Di tengah keluarga dan kerumunan, orang lebih asyik berdialog dengan gadget-nya. Fenomena ini berlaku lintas generasi. ”Telepon seluler adalah pelindung saya,” ujar seorang ayah berusia 52 tahun. Kenyataan ini menunjukkan manusia dan teknologi telah bertukar peran. Kini manusialah yang dikuasai teknologi. (THA/Litbang Kompas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau