Pemilu turki

Oposisi Tak Punya Kreativitas, Hanya Bisa Meniru-niru Partai Berkuasa

Kompas.com - 13/06/2011, 03:22 WIB

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan hampir dipastikan kembali memenangi secara telak pemilu parlemen di Turki hari Minggu (12/6).

Tercatat ada sekitar 51 juta orang, dari keseluruhan penduduk Turki sekitar 73 juta jiwa, yang memiliki hak suara. Tercatat pula ada 7.492 kandidat dari partai dan 203 kandidat independen untuk memperebutkan 550 kursi di parlemen. Hasil sementara pemilu langsung bisa diketahui sekitar pukul 18.00 waktu setempat (23.00 WIB).

Suasana persaingan antarpartai politik tidak sekeras pada pemilu sebelumnya. Ini mengingat publik dan elite Turki sudah menerima realitas akan kemungkinan AKP menang kembali.

AKP hampir bisa dikatakan tidak menghadapi perlawanan berarti. Para pengamat dan media massa Turki menuduh partai-partai oposisi selama ini gagal mengebiri kekuatan dan popularitas AKP. Sebaliknya, partai-partai oposisi malah latah meniru taktik AKP dengan mengadopsi program pragmatis dan meninggalkan ideologi partainya sendiri.

Partai Rakyat Republik (CHP) pimpinan Kemal Kilicdaroglu, yang dikenal santun dan sempat dijuluki Mahatma Gandhi dari Turki, tak berkutik menghadapi AKP.

AKP dalam kampanye pemilu kali ini mengusung program amandemen konstitusi secara mendasar. Ini dianggap sebagai pintu menuju ”Turki negara maju pada tahun 2023”.

Tahun 2023 bertepatan dengan peringatan satu abad lahirnya Turki modern pada tahun 1923, yang diproklamasikan oleh Mustafa Kemal Ataturk.

Erdogan berjanji Turki akan menjadi negara maju setara Eropa pada tahun 2023, yang mampu memproduksi senjata, meraih kemajuan ekonomi yang luar biasa, dan bebas isu pelanggaran HAM. Namun, menurut Erdogan, syarat Turki untuk bisa menjadi negara maju pada tahun 2023 itu salah satunya harus melakukan amandemen konstitusi. Amandemen itu, antara lain, bertujuan melepas cengkeraman militer dalam politik praktis Turki.

Pemilu parlemen kali ini pun bagi AKP lebih dianggap sebagai pertarungan meloloskan amandemen konstitusi itu, bukan sekadar merebut kursi di parlemen.

Ada tiga skenario dari hasil pemilu parlemen kali ini. Skenario pertama, AKP mendapat 367 atau dua pertiga kursi dari 550 kursi yang diperebutkan. Jika skenario ini yang terjadi, AKP bisa mengamandemen langsung konstitusi tanpa harus melalui referendum.

Skenario kedua, AKP mendapat 330 kursi. Apabila hal ini yang terjadi, AKP harus melalui referendum untuk mengamandemen konstitusi.

Skenario ketiga, AKP memperoleh kurang dari 330 kursi. Kalau skenario itu yang terjadi, AKP harus berkoalisi dengan partai-partai politik lain untuk bisa mengamandemen konstitusi.

Ahli waris Ataturk

CHP yang merupakan pesaing terdekat AKP juga menyuguhkan program yang lebih pragmatis dengan berjanji serius menyelesaikan problem politik menyangkut kaum minoritas di Turki. Negara ini memiliki masalah minoritas yang menimpa kaum Kurdi dan penganut mazhab Syiah Alawite. CHP berjanji mewujudkan keadilan sosial dan pemberantasan korupsi.

CHP dikenal sebagai ahli waris ideologi Kemal Ataturk di Turki. Namun, CHP dalam kampanye pemilu kali ini menanggalkan ideologi klasik Ataturk dan jargon sekuler. CHP berambisi meraih 30 persen suara pada pemilu kali ini. Pada pemilu 2007, CHP hanya meraih 20 persen.

Partai Gerakan Nasionalis (MHP) pimpinan Devlet Bahceli, yang selama ini dikenal menganut ideologi ultranasionalis, kini juga mulai lebih pragmatis. MHP sebelum ini sangat anti untuk memberikan konsesi kepada kaum minoritas Kurdi karena dianggap akan memecah negara kesatuan Turki dan hanya tunduk kepada Partai Pekerja Kurdi (PKK) pimpinan Abdullah Ocalan.

Namun, kini MHP mulai menyadari kondisi regional dan internasional yang mengharuskan adanya solusi adil atas isu kaum Kurdi. MHP pun meniru AKP dengan menanggalkan ideologi ultranasionalisnya dan lebih bersikap pragmatis.

MHP merupakan kekuatan politik ketiga setelah AKP dan CHP. Pada pemilu 2007, MHP meraih 14 persen suara.

Adapun politisi Kurdi memilih berlomba dalam pemilu kali ini melalui jalur independen. Itu dilakukan mengingat partai-partai politik Kurdi akan sangat sulit masuk parlemen karena ambang batas masuk parlemen adalah harus meraih minimal 10 persen suara. Ambisi kaum Kurdi adalah mendapat minimal 30 kursi dari 550 kursi yang diperebutkan sehingga suara mereka cukup signifikan dalam mewujudkan perjuangan di parlemen. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau