The paijo family - 8

Saat Gerimis Berhenti

Kompas.com - 13/06/2011, 06:10 WIB

Cerita bersambung Jodhi Yudono

Di luar masih gerimis, angin sesekali bertiup kencang. Suara gesekan selo juga masih terdengar. Kali ini Pay memainkan "Once Upon More Beautiful Days (In Memory of My Parents)" karya komposer David Popper, kelahiran Praha 16 Juni 1843. Lagu ini serupa gerimis yang lirih, sehingga membuat ruang kamar itu serasa berwarna ungu, penuh cinta.

Sambil terus menatap wajah suaminya, tangan kanan Ijah yang menjuntai ke bawah ranjang sesekali mengelus jari-jari kaki kiri Pay dengan mesra.

"Konsernya cukup sekian dulu ya, besok disambung lagi," kata Pay usai menyelesaikan nomor cantik itu, yang disambut tepuk tangan Ijah.

"Terimakasih cintaku," ucap Ijah. Kalimat Ijah bagai koda yang menggenapi komposisi David Popper yang dimainkan Pay malam itu.

Setelah meletakkan selo di hardcase, Pay berjalan menjumpai Ijah sambil bersimpuh di tepi ranjang. Diciumnya jemari Ijah yang masih menjuntai, lalu dengan lembut Pay bilang, "Aku sayang kamu."

Lalu, dengan tangan kirinya, Ijah mendekatkan kepala Pay ke wajahnya. Sebuah kecupan mendarat di kening Pay. "Aku juga, mas."

Ijah langsung menggeserkan badannya ke kiri, memberi tempat bagi suaminya. Sepasang suami istri itu kini rebahan. Sambil terlentang, jemari mereka saling bertautan.

Di pertemuan  jemari itulah, jiwa-jiwa mereka juga dipertautkan. Sehingga yang satu bisa membacai kedalaman pikir dan hati lainnya. Kadang mereka saling meremas erat, itulah tandanya jiwa mereka sedang bersatu dan saling berkata-kata. Di waktu lain, mereka juga tiba di persimpangan jalan, keduanya memilih jalan pengembaraannya sendiri-sendiri, maka lemahlan genggaman tangan mereka.

Seperti pada detik di mana gerimis dan angin telah benar-benar henti, Ijah merasai genggaman lelakinya melemah. Berkali-kali Ijah meremas tangan Pay, berkali-kali itu pula Pay tak merespon. Ijah seperti sia-sia berlari mengejar laju angan suaminya yang entah sedang mengembara ke mana.

Dengan ekor matanya Ijah melirik mata suaminya yang ternyata masih jaga. Hmmm... Ijah tahu, sedang ke mana angan suaminya pergi. Lalu tiba-tiba, Ijah pun bertanya, "Siapa pacarmu sekarang?"

"Hah? Eh.. ah...  bilang apa kamu?" Pay tergeragap. Pegangan tangan mereka pun terlepas.

"Siapa pacarmu sekarang?"

Buru-buru Pay mengumpulkan kembali kesadarannya. Tapi pandang mata Pay adalah jendela terbuka yang dengan gampang Ijah bisa memasukinya. Dan di kedalaman sana, di hati Pay, Ijah menemukan bayang-bayang perempuan.

"Ga usah berlagak bego, siapa pacarmu sekarang?" tegas suara Ijah.
"Ngomong apaan sih.." Pay coba menghindar.
"Suamiku yang ganteng, istrimu ini bertanya kepadamu, siapa pacarmu sekarang?"
"Ah, bukan pacar. Cuma teman."
"Teman atau teman?"
"Teman."
"Siapa namanya?"
"Mira."
"Masih muda?"
"Baru lulus kuliah."
"Sudah kamu tiduri dia?"
"Ngaco! Kami hanya teman ngobrol."
"Mana aku tahu."
"Makanya aku beri tahu."
"Lagu apa yang kau mainkan sehingga membuatnya termehek-mehek?"
"My Heart Will Go On."
"Hmmm... romantis bener. Kamu suka dia?"
"Suka sebatas kawan."

Pelan-pelan Ijah merangkak dan duduk di atas perut suaminya.

"Bener?" tanya Ijah dengan mata yang menghunus tembus mata Pay.
"Ya."
"Kalau nggak bener?"
"Pasti bener!"

Mendengar jawaban yang meyakinkan dari Pay, lumerlah ketegangan di wajah Ijah. Dari bibirnya mulai terbit senyum. Kedua tanganya meraba wajah suaminya. Pay dengan lembut mengelus punggung Ijah.

"Boleh minta sesuatu?" tiba-tiba Ijah bersuara.
"Kalau aku sanggup, pasti kupenuhi."
"Aku ingin kamu nyanyikan bait terakhir dari lagu yang disukai si Mira itu."

Sambil membimbing kedua tangan Ijah da meletakkan di dadanya, Pay pun mulai melantunkan pungkasan lagu "My Heart Will Go On".

You're here, there's nothing I fear,
And I know that my heart will go on
We'll stay forever this way
You are safe in my heart
And my heart will go on and on

Mereka bagai penumpang kapal Titanic, berlayar mengarungi waktu. Di sepanjang jalan tak ada gelombang besar dan batu karang, apalagi gunung es. Itulah sebabnya, mereka selamat tiba di pelabuhan ketika fajar menjelang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau