Warga Keluhkan Air Macet

Kompas.com - 14/06/2011, 03:12 WIB

Jakarta, Kompas - Warga Perumahan Duta Garden, Kota Tangerang, mengeluhkan pampatnya air bersih dari PDAM yang terjadi hampir tiga bulan terakhir. Hal ini mengakibatkan biaya untuk air bertambah besar karena mereka terpaksa membeli guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Andreas Robby (31), warga Blok A5 Perumahan Duta Garden, Senin (13/6), menuturkan, hampir seluruh warga di blok tempat dia tinggal tidak lagi menerima aliran air dari PDAM. ”Air lebih seiring tidak mengalir. Kalaupun mengalir, hanya sesekali; itu pun cuma setengah jam di pagi hari,” katanya.

Sekitar sebulan lalu, Andreas sempat menanyakan kepada petugas PDAM tentang kondisi itu. Menurut petugas, ada gangguan tekanan karena letak blok di perumahan itu lebih tinggi dan kemungkinan ada kebocoran yang tidak diketahui.

”Seusai ditanyakan, air sempat mengalir pada siang sampai sore hari karena didorong dengan mesin. Namun, air kembali mampet. Menurut petugas, mesin pendorongnya jebol,” tutur Andreas.

Warga akhirnya harus merogoh kocek untuk membeli air secara eceran ke mobil tangki milik swasta. Untuk setiap empat meter kubik air, Andreas harus membayar Rp 70.000. Air itu cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari.

Biasanya, setiap bulan dia membayar Rp 30.000-Rp 40.000 untuk air. ”Kadang-kadang ada bantuan mobil tangki keliling, tetapi tidak semua bisa kebagian,” ujar Andreas.

Kepala Bagian Humas Perusahaan PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang Ikhsan Sodikin mengakui, kawasan perumahan tersebut berada di wilayah Kota Tangerang. Namun, pelayanan air bersih ke kawasan perumahan itu adalah tanggung jawab Tirta Kerta Raharja (TKR) Kabupaten Tangerang. ”Layanan itu bukan tanggung jawab kami.”

Direktur Utama TKR Maryoso hingga Senin malam belum bisa dihubungi. Hubungan melalui telepon seluler ataupun pesan singkat yang dilayangkan belum dijawab.

Selamatkan sumber air

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan agar semua pihak turut menjaga keseimbangan lingkungan. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang ketersediaan air bersih yang memadai. Perusahaan juga diminta memasang instalasi pengelolaan air limbah.

Dalam siaran pers dari Humas Pemprov Jawa Barat, Senin kemarin, Ahmad Heryawan mengingatkan bagaimana bisa mengatasi tantangan akan kebutuhan air di perkotaan.

Ahmad, saat memimpin kegiatan peringatan Hari Air Sedunia ke-19 di kawasan wisata Waduk Darma, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, kemarin, mengatakan, kondisi perkotaan yang padat dan terkesan kumuh sangat membutuhkan pasokan air bersih yang berkelanjutan. Untuk itu, momentum peringatan kali ini diharapkan mempertebal kesadaran semua pihak akan arti penting menjaga dan menyelamatkan sumber air.

Upaya itu antara lain dengan melakukan pengelolaan air bersih yang mudah dijangkau masyarakat di tingkat yang paling bawah. Selain tetap menjaga agar penggunaan air dilakukan seefisien mungkin.

”Tentunya hal tersebut membutuhkan kesadaran yang tinggi dari semua pihak terkait agar sumber-sumber air tetap terjaga pasokannya,” tuturnya.

Gubernur mengimbau agar perusahaan memasang instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Ahmad juga mendorong semua pihak untuk aktif bersama menjaga kelestarian lingkungan, misalnya melakukan sosialisasi sejak dini tentang pentingnya menjaga lingkungan kepada seluruh siswa di Jawa Barat.

”Tak kalah penting juga adalah perencanaan pembangunan dari hulu hingga ke hilir harus memerhatikan aspek lingkungan. Hal ini tentunya membutuhkan koordinasi dan kesadaran bersama dari pemangku kebijakan bahwa pembangunan dan pengembangan kawasan harus memerhatikan aspek keseimbangan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat Deddy Mulyadi menambahkan, kegiatan peringatan kali ini diikuti dengan gerakan penghijauan di sekitar kawasan sumber air, seperti di sejumlah waduk yang ada di Jawa Barat. Ada sekitar 750 pohon dari jenis trembesi, mangga, dan kawung akan ditanam sebagai upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Selain itu juga ditebar 50.000 benih ikan nila di Waduk Jatigede.

”Ini merupakan langkah yang akan terus dilakukan sesuai dengan kebijakan Pemprov Jawa Barat menjaga keseimbangan lingkungan,” katanya.(fro/pin/rts)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau