Pangan Dorong Inflasi

Kompas.com - 15/06/2011, 02:53 WIB

THUAN THANH, Selasa - Harga pangan semakin mencekik. Ibu-ibu semakin tidak berdaya dalam menyuguhkan makanan untuk keluarganya. Inflasi akibat melambungnya harga pangan juga sudah dirasakan di negara lain.

Di meja Vo Thi Quan yang tinggal di Thuan Thanh, Vietnam, sudah dua tahun belakangan ini tidak tersedia daging. Dia hanya mampu menyediakan tahu agar kebutuhan protein keluarganya terpenuhi. Sayurnya hanya bayam bening dilengkapi lauk telur dadar yang harus dibagi untuk empat orang. Untuk menyediakan makanan itu, Quan harus merelakan separuh pendapatan hariannya.

Makan malam sederhana di meja Quan menghabiskan uang sebesar 27.000 dong atau sekitar Rp 1.100. Akan tetapi, harga ini sudah naik 20 persen dibandingkan dengan satu tahun lalu setelah inflasi dua digit terjadi di Vietnam.

Sejak awal tahun ini tarif listrik juga naik 15 persen di negara komunis berpenduduk 87 juta jiwa itu.

Keluarga Quan hanya makan daging ketika merayakan tahun baru. Agar terhindar dari kelaparan, mertuanya memberikan sepetak tanah supaya keluarga itu dapat menanam padi untuk kebutuhan mereka. Harga beras di Vietnam, yang merupakan lumbung padi, termahal di Asia. Harga beras melonjak hingga 40 persen dari Juni 2010 hingga Februari 2011.

Di Beijing, Pemerintah China mengumumkan tingkat inflasi pada Mei lalu mencapai 5,5 persen. Ini merupakan tingkat inflasi tertinggi bulanan dalam lima tahun terakhir. Biro Statistik Nasional menyebutkan, pendorong utama inflasi tersebut adalah melambungnya harga pangan sebesar 11,7 persen.

Dengan membengkaknya inflasi ini, China sedang mengalami dilema. Dengan membatasi kucuran kredit sebagai upaya menjaga harga, kelompok pebisnis mengeluhkan sulitnya mengembangkan usaha karena kredit seret. Pengembangan usaha diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi negara raksasa tersebut.

Kenaikan harga pangan dan kebutuhan dasar lainnya menambah frustrasi rakyat. ”Pensiunan saya hanya naik 100 yuan per tahun sehingga saya tidak mampu membeli makanan karena harga makanan naik sangat tinggi,” ujar Ma Chuanyi, seorang pensiunan guru.

Harga pangan dunia melonjak hingga ke titik tertinggi karena hambatan produksi dan kenaikan permintaan dari kelas menengah. Sementara itu, keluarga miskin semakin sulit dapat makanan.

Perempuan lebih rentan

Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan sulit mengukur dampak krisis pangan terhadap para ibu. Namun, sebelum hal itu terjadi, sekitar 60 persen perempuan miskin akan tidur dengan perut kosong, apalagi ditambah dengan budaya menyuruh perempuan dan anak gadis makan belakangan. Semakin banyak saja perempuan yang kelaparan.

”Tampaknya mereka sengaja tidak makan dan makan lebih sedikit agar anak-anak dan suaminya bisa makan jatah mereka,” ujar Hassan Zaman, seorang ekonom pemerhati pengurangan kemiskinan dan persamaan hak pada World Bank.

Sementara Bank Pembangunan Asia memperkirakan ada 64 juta orang di seluruh penjuru dunia yang tenggelam dan berada di bawah garis kemiskinan dalam beberapa bulan terakhir karena kenaikan harga pangan ini.

Pemerintah India di Mumbai juga melaporkan inflasi tahunan melaju dengan sangat cepat. Lebih besar daripada yang diperkirakan. Mei lalu inflasi tercatat sebesar 9,06 persen. Inflasi ini membuat bank sentral menaikkan tingkat suku bunganya lagi.

Data juga memperlihatkan harga barang non-pangan naik 22,35 persen dan harga pangan naik 8,37 persen.

”Kami memperkirakan bank sentral akan menaikkan tingkat suku bunga lagi sebelum stabil pada kuartal ketiga,” ujar Allan Von Mehren, analis pada Danske Bank di Copenhagen.(AP/AFP/Reuters/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau