KBRI Brussel Gelar Pawai Ogoh-ogoh

Kompas.com - 16/06/2011, 09:33 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussel bersama umat Hindu di Eropa menggelar pawai ogoh-ogoh memperingati Tahun Baru Saka 1933. Sekretaris III Bidang Pensosbud dan Diplomasi Publik KBRI Brussel Punjul Nugraha kepada Antara London, Rabu (15/6/2011) menyebutkan pawai ogoh-ogoh tersebut berlangsung di taman wisata Parc Pairi Daiza, Brugelette, Belgia, akhir pekan lalu.

"Pawai ogoh-ogoh tersebut tersebut menjadi penyelenggaraan acara terbesar di luar Indonesia dan disaksikan sekitar 5.000 wisatawan," katanya.

Taman wisata Parc Pairi Daiza milik Eric Domb, berada sekitar 90 kilometer sebelah selatan kota Brussel. Ogoh-ogoh berukuran raksasa didatangkan langsung dari Bali. Made Agus Wardana, umat Hindu Bali di Eropa, mengatakan sekitar 200 kepala keluarga umat Hindu Bali di Eropa beserta keluarganya turut berpartisipasi dalam pawai itu. Pawai juga dihadiri Duta Besar RI di Brussel Arif Havas Oegroseno.

Dubes Havas mengatakan penyelenggaraan serangkaian acara di Pura Agung Shanti Bhuwana itu adalah untuk memfasilitasi umat Hindu Bali di Eropa agar dapat melaksanakan kegiatan keagamaan dan kebudayaan. "Selain  memberikan jiwa kehidupan pada bangunan Pura Hindu Bali di tengah-tengah peradaban Eropa dan sekaligus memperkenalkan keragaman tradisi Indonesia yang sangat kaya dengan makna luhur," katanya.

Menurut Dubes, pawai ogoh-ogoh itu juga menunjukkan toleransi dan gotong-royong yang merupakan kekuatan khas Indonesia. "Di antara pengusung dan peserta pawai ogoh-ogoh itu banyak juga warga Indonesia yang bukan pemeluk agama Hindu," ujar Havas.

Dubes Havas menyampaikan penghargaan dan berterima kasih kepada Eric Domb, pemilik Parc Pairi Daiza yang telah mendukung penuh penyelenggaraan pawai di taman budaya seluas 55 hektare yang setiap tahun dikunjungi sekitar satu juta turis dari seluruh Eropa.

Eric Domb mengaku mencintai budaya Indonesia terutama kekuatan toleransi dan harmoni dan mengisi tamannya dengan sejumlah kekayaan aristektur Indonesia. Untuk mewujudkan arsitektur Indonesia di taman itu, Eric Domb mengimpor 350 kontainer batu seberat 8.000 ton dari gunung Merapi dan Gunung Agung serta puluhan arsitek tradisional dan seniman dari Magelang dan Bali. "Di taman itu seolah berada di Indonesia," kata Dubes.

Pawai ogoh-ogoh yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1933 yang jatuh pada 5 Maret lalu, baru digelar akhir pekan lalu karena kondisi cuaca di Eropa pada awal tahun kurang baik.

Ogoh-ogoh terbuat dari kayu, jerami, dan bambu berupa tiga patung berukuran besar berbentuk Detya Niwatakawaca berwujud raksasa, melambangkan angkara murka, Arjuna lambang kebaikan dan kesabaran, serta Dewi Saraswati ilmu pengetahuan dan keseimbangan kehidupan.

Festival Ogoh-ogoh, termasuk upacara sembahyang Tumpak Wariga dan Tumpak Uduh yang diselenggarakan di Pura Agung Shanti Bhuwana yang terletak di dalam taman itu.

Made Agus Wardana mengatakan makna dari ogoh-ogoh adalah patung yang melambangkan Buta Kala diharapkan dapat menetralisir roh-roh jahat yang menguasai alam manusia antara kebaikan dan keburukan yang biasa disebut dengan "Balance of the World".

Upacara Tawur Kesanga dan ritual Ngerupuk dalam prosesi Ogoh-Ogoh mengandung dua makna yaitu mengekspresikan nilai religius dan ruang-waktu sakral berdasarkan sastra agama dan merupakan karya kreatif yang disalurkan melalui ekspresi keindahan dan kebersamaan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau