Tanggal 1 Juni lalu kelahiran Pancasila diperingati entah dengan upacara, diskusi formal dengan para cendekiawan atau pidato kebudayaan.
Di Jalan Langsat I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, komunitas KomuniAksi memperingati kelahiran Pancasila juga dengan diskusi. Bedanya, kegiatannya informal dan malam hari melalui forum Obrolan Langsat (Obsat) di halaman sempit Rumah Langsat. Sebagian besar dari hampir 100 orang duduk lesehan. Tamu malam itu antara lain politisi Pramono Anung dan presenter olahraga Dik Doank. Acara ditutup menjelang pukul 22.00 dengan memotong tumpeng.
Obrolan Langsat hanyalah salah satu kegiatan tatap muka (offline) komunitas di internet. Di Jejaring Langsat saja ada 25 komunitas yang dinaungi Salingsilang.com. Obsat membicarakan apa saja yang menjadi perhatian komunitas, termasuk aksi online dan offline pengumpulan untuk Prita Mulyasari yang dituduh mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit setelah mengeluhkan layanan rumah sakit itu dalam surat elektronik kepada teman-temannya.
Menurut Ollie (28), penulis buku dan salah satu pendiri komunitas StartupLokal untuk para calon wiraswasta dunia maya, mengembangkan komunitas offline merupakan salah satu cara membangun situs.
Syaratnya, demikian Enda Nasution, Managing Director Salingsilang.com, anggota komunitas harus betah dan mudah berkomunikasi. Dengan kata lain, pihak yang memfasilitasi situs harus menyediakan fitur baru dan menarik dari waktu ke waktu serta cepat menanggapi masukan komunitas. Lebih baik juga memfasilitasi pertemuan offline.
Kaskus.com yang didirikan Andrew Darwis tahun 1999 saat bersekolah di Seattle, AS, awalnya ruang bagi pelajar Indonesia di AS, lalu tanpa sengaja menjadi tempat berjual beli barang para mahasiswa yang akan pulang ke Indonesia. Kini, Kaskus menjadi rumah bagi 400 komunitas dan subkomunitasnya dengan anggota terdaftar 3.047.039 orang pekan lalu, selain menjadi ruang berjual beli anggotanya. Situs ini sudah menarik pemasang iklan dan investor lokal.
Jejaring internet dan media sosial di Indonesia, menurut Dr Yanuar Nugroho yang memimpin penelitian bersama Manchester Institute of Innovation Research (MIOIR), University of Manchester, Inggris, dan Hivos akhir 2010 tentang media sosial di Indonesia dan ASEAN, sangat dinamis.
Sebagai ruang maya (online) dan sebagai pasar, media sosial di Indonesia volumenya sangat besar, tumbuh, dan aktif.
Meski sebagian besar pengguna memakai media sosial dan internet untuk bersosialisasi, media ini juga dapat menggalang solidaritas dan gerakan warga. Hal itu, antara lain, pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari; 1,3 juta dukungan untuk pimpinan KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah melalui Facebook dalam kampanye melawan korupsi ”Cicak Lawan Buaya”; tweet Daniel Tumiwa yang pertama mewartakan bom Hotel JW Marriott Jakarta menyadarkan akan bahaya terorisme; atau Twitter untuk menggalang solidaritas bagi korban letusan Gunung Merapi melalui Jalin Merapi, dan gerakan Save Jakarta bagi warga Jakarta menyuarakan persoalan sehari-hari kota.
Pada sisi lain, Kompas mencatat, meskipun media sosial dianggap menjadi sarana pemberdayaan masyarakat dalam Indonesia yang berdemokrasi, kenyataannya masyarakat sering belum memahami secara tajam bagaimana menggabungkan kedemokrasian Indonesia, pemberdayaan warga, dan kemajuan teknologi informasi sebagai kesatuan yang membawa perspektif lebih maju.
Kasus pencemaran nama baik dengan mudah dibalikkan menjadi keibaan pada status tersangka. Rasa iba ini lalu cepat membangkitkan gerakan melalui media sosial di internet.
Di sisi lain, kita melihat media sosial belum berhasil mendesakkan pengungkapan tuntas kasus korupsi atau persoalan mendasar lain bangsa. Ini berbeda dengan di Mesir yang berhasil memaksa Presiden Hosni Mubarak mundur. Begitu juga di Filipina. Di China, media digital sosial dimanfaatkan mengungkap kejahatan di beberapa provinsi, bahkan mendesak pemerintah komunis menghukum anak pejabat polisi yang bersalah.
Bila kemudian media sosial dimanfaatkan untuk beriklan, menurut Yanuar, itu lumrah: ada gula ada semut.
Yanuar mengingatkan pada hakikat media sosial. Kekuatannya karena pengguna menentukan apa yang akan diunggah, apakah blog serius atau hanya kicau narsistik di Twitter. ”Kelemahannya, pengguna jadi tidak peka pada hakikat media sosial, yaitu arena pertarungan (kontestasi) terus-menerus tentang apa dan siapa yang menentukan infrastruktur itu bekerja,” papar Yanuar kepada Kompas.
Pengguna tidak terlalu peduli ketika data pribadi dimanfaatkan Facebook, misalnya untuk menghadirkan iklan spesifik pengguna.
Meski begitu, Yanuar yakin akan kerja kaidah ”kontestasi tiada akhir”. Sebanyak iklan komersial, partai politik, kelompok agama, suku, atau yang lain menyerbu media sosial, sebanyak itu juga warga sipil bisa mengunggah konten yang dapat lebih cerdas memengaruhi pengguna. ”Uniknya, belum tentu bisnis atau parpol lebih besar mampu menguasai media sosial. Twitter, misalnya, secara umum belum—dan saya ragu apa bisa—didominasi bisnis atau parpol,” katanya.