TANYA :
Dok, saya dan pasangan dua minggu lagi menikah. Karena alasan studi, kami bermaksud menunda mendapatkan momongan. Hanya saja, kami belum menemukan cara yang cocok dan aman untuk penundaan tersebut. Saya pernah mendengar, bahwa sperma yang produktif adalah yang diproduksi dalam waktu 72 jam.
Pertanyaan saya adalah: 1. Apakah itu berati sperma yang keluar sebelum masa 72 jam berarti tidak produktif. 2. Jika saya dan pasangan sepakat untuk "mengeluarkan" sperma dengan cara non intercrouse, apakah berarti sperma yang keluar beberapa jam setelahnya menjadi tidak produktif, yang berarti tidak bisa membuahi? 3. Kira-kira sistem KB non hormonal apa yang cocok dan aman serta efektif? Terima kasih atas jawabannya...
HANY MA'RIFAH, 22, PONOROGO
JAWAB :
Sperma yang diejakulasi dalam waktu 3-5 hari setelah ejakulasi terakhir, tergolong dalam keadaan optimal, baik kualitas dan kuantitasnya. Tentu saja kalau dalam keadaan tidak ada gangguan. Tetapi bukan berarti tidak dapat menghamili kalau hubungan seksual dilakukan pada saat subur perempuan.
Mengenai kontrasepsi non hormonal untuk perempuan, sampai saat ini tidak ada, bahkan IUD (alat kontrasepsi dalam rahim) pun juga ada yang mengandung hormon. Hanya kondom perempuan dan kondom pria yang bebas hormon. Tetapi kondom perempuan justru tidak populer dan tidak mudah didapat. Sebaiknya, Anda pertimbangkan menggunakan kondom pria.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang