Unjuk Rasa Anti-China

Kompas.com - 20/06/2011, 04:32 WIB

HANOI, MINGGU - Sedikitnya 300 orang di Vietnam kembali menggelar aksi demonstrasi menentang arogansi Pemerintah China di kawasan sengketa perairan Laut China Selatan.

Mereka menggelar spanduk, meneriakkan yel-yel, dan berjalan kaki di depan Kedutaan Besar China di Hanoi, Vietnam, Minggu (19/6).

Isu sengketa wilayah di kawasan telah mengundang sentimen anti-China. Unjuk rasa setiap hari Minggu telah tiga kali digelar di Ho Chi Minh dan Hanoi. ”Laut China Selatan bukan kolam desa milik China. Saya datang kemari menunjukkan rasa patriotisme. Boikot produk China!” ujar seorang pengunjuk rasa.

Para pemrotes menyanyikan lagu-lagu patriotik. Salah seorang mahasiswa, Nguyen Manh Ha (20), mengaku siap mengangkat senjata jika diperlukan.

Hubungan kedua negara sesama penganut komunis itu tengah berada di titik terendah. Penyebabnya, China dianggap lancang dan melanggar garis kedaulatan Vietnam.

Sengketa antara China dan Vietnam bukan yang pertama kali terjadi. Pada tahun 1979 kedua negara itu pernah berperang di dekat perbatasan. Peperangan sengit kembali terjadi tahun 1984 di lokasi sama.

Sengketa di Laut China Selatan kali ini semakin menghangat. Kapal eksplorasi perusahaan minyak Vietnam diganggu oleh China.

Kedua negara saling melempar tuduhan bahwa wilayah mereka telah dilanggar. Pekan lalu Vietnam marah dan menggelar latihan perang selama beberapa jam dengan menggunakan amunisi tajam.

Hal itu membuat berang China. China menyebutkan akan memberangkatkan kapal patroli maritim terbesarnya, Haixun 31, yang melintasi kawasan perairan sengketa menuju Singapura.

Ikut berang

Tidak hanya Vietnam, negara pengklaim lain ikut berang dengan rencana China. Negara pengklaim itu antara lain Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Taiwan. Angkatan Laut Filipina menyiapkan Rajah Humabon, kapal perang terbesar yang mereka miliki sisa Perang Dunia II, untuk ”menghadang” Haixun 31.

Akan tetapi, Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Eduardo Oban memastikan kapal perang tersebut tidak akan berlayar melebihi perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina sejauh 370,4 kilometer.

”Saya sangat optimistis, apa pun konflik yang terjadi, semua pihak akan sama-sama mencari penyelesaian secara damai lewat jalur diplomasi. Namun, kami akan tetap menuntut ketentuan hukum laut yang berlaku sampai ke Zona Ekonomi Eksklusif kami,” ujar Oban.

China makin bertingkah dengan mengklaim seluruh bagian Laut China Selatan sebagai wilayah pencarian ikan tradisional (traditional fishing ground) mereka. Padahal, menurut Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) 1982, negara seperti Filipina punya hak ekonomi eksklusif sejauh 370,4 kilometer dari titik pulau terluarnya.

(AFP/AP/REUTERS/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau