Maumere, Kompas
Ketiga penderita rabies itu meninggal dalam dua minggu terakhir Juni 2011, yakni Lutgardis Dua Lete (11), warga Dusun Nobo Dulipali, Kabupaten Flores Timur. Ia meninggal pada Sabtu (11/6). Patrisius Pata Lewok (3,5), warga Riiduen Pruda, Kecamatan Talibura, Sikka, meninggal pada Kamis (16/6), dan Valens Martino (6), warga Waidahi, Kecamatan Doreng, Sikka, meninggal Minggu (19/6) lalu.
Nyawa ketiganya tidak tertolong meski mereka sempat dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere.
”Kondisinya sulit tertolong karena virus rabies sudah sampai ke otak. Dari keterangan keluarga pasien, pasien memang mempunyai riwayat digigit anjing. Di antara mereka ada yang tidak mengetahui perlunya mendapat vaksin antirabies (VAR) dan ada pula yang memang tidak mendapat VAR karena tidak ada stok di puskesmas,” kata dokter spesialis anak RSUD TC Hillers, Mario B Nara, Senin (20/6), yang dihubungi dari Ende, Flores.
Direktris RSUD TC Hillers Maumere Imakulata Veronika Jelulud menyatakan membenarkan tidak adanya stok VAR di rumah sakit yang dipimpinnya itu. ”Pengadaan VAR dilakukan oleh dinas kesehatan dan VAR disalurkan ke puskesmas-puskesmas. Untuk rumah sakit, mekanisme penyalurannya jika ada kasus gigitan (anjing) baru pihak rumah sakit melaporkan ke dinas. Tetapi, saat ini waktu kami minta di dinas, ternyata stok VAR tidak ada,” kata Imakulata.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Delly Pasande dan Wakil Bupati Sikka Wera Damianus belum memberikan penjelasan menyangkut krisis vaksin ini.
Mario mengatakan, ketiga pasien ketika dibawa ke rumah sakit sudah dengan gejala sangat gelisah, suka meronta, dan berteriak-teriak. Suhu badan panas tinggi, tak mau makan, juga sulit minum dan takut air.
Di antara pasien ada yang memiliki riwayat digigit anjing satu bulan lalu dan 3 bulan lalu. Semestinya begitu digigit anjing, korban perlu diberi VAR guna penanggulangan. ”Namun, kondisi saat ini di Sikka memang VAR kosong, termasuk di rumah sakit (RSUD TC Hillers) dua bulan ini stok VAR kosong. Informasi dari dinas kesehatan, saat ini dalam proses tender untuk pengadaan VAR,” kata Mario.
Mario menjelaskan, apabila pasien dalam kondisi virus rabies sudah menyerang ke otak, secara medis kemungkinannya 95 persen pasien akan meninggal. Kalaupun pasien diberi VAR, tetapi kalau kondisinya sudah sangat parah, pemberian VAR tak akan banyak menolong.
Berdasarkan data RSUD TC Hillers Maumere, selama Januari-Juni 2011, pasien rabies yang meninggal tercatat empat orang.
Dinas Peternakan NTT mencatat, tahun 2010 kasus gigitan anjing rabies mencapai 5.073 kasus dan korban jiwa 28 orang. Kasus gigitan anjing terbanyak terjadi di Sikka, yakni 1.349 kasus dengan korban jiwa tujuh orang. Kasus kematian akibat rabies tertinggi di Kabupaten Manggarai, yakni 10 orang, dengan kasus gigitan mencapai 881 kasus.