Obama Galang Dukungan

Kompas.com - 22/06/2011, 04:43 WIB

Washington, Senin - Presiden Amerika Serikat Barack Obama mulai menggalang dukungan bagi upaya pencalonan kembali sebagai presiden AS pada pemilu tahun 2012. Lobi Yahudi di AS yang dikenal berpengaruh sangat kuat menjadi sasaran utama kampanye Obama.

Di depan komunitas donatur Yahudi dalam acara pengumpulan dana Partai Demokrat, Senin (20/6), Obama menegaskan, dia adalah pendukung kuat Israel. Namun, perubahan di Timur Tengah mengharuskan AS dan Israel melihat kawasan itu dengan pandangan baru.

Pada acara itu, Obama mengklaim pemerintahannya memberikan dukungan kepada Israel lebih banyak dari siapa pun dalam seperempat abad terakhir.

”Pesan terpenting saya malam ini adalah meski kita menghadapi situasi sulit dalam 12 bulan, 24 bulan, atau bahkan abad mendatang, prinsip yang tak bisa dibantah adalah AS dan Israel akan selalu menjadi sekutu dan sahabat abadi,” ujar Obama, yang disambut tepuk tangan meriah sekitar 80 tokoh Yahudi yang hadir pada acara itu.

Obama kembali menekankan, keamanan Israel akan selalu menjadi prioritas dalam merumuskan dan menerapkan kebijakan politik luar negeri AS.

Pernyataan Obama itu menguatkan rangkaian pernyataannya akhir-akhir ini yang terkesan pro-Israel. Seusai bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel, awal Juni lalu di Washington, Obama mengatakan, AS dan Jerman sepakat menggagalkan upaya Palestina mencari pengakuan PBB.

Akhir Mei lalu, Obama juga meralat pernyataannya tentang seruan atas berdirinya negara Palestina sesuai batas sebelum perang 1967. Pernyataan itu menyebabkan ketegangan hubungannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Hal itu nyaris mengulang krisis hubungan AS-Israel tahun 2009 ketika pemerintahan Obama meminta Israel menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di Jerusalem Timur dan Tepi Barat. Namun, ketegangan itu berakhir akibat tekanan lobi Yahudi di AS.

Soal perbatasan tahun 1967, Obama di depan forum lobi Yahudi di AS (AIPAC) menegaskan, seruannya bagi berdirinya negara Palestina di atas tanah tahun 1967 itu harus memperhitungkan realitas demografi baru, yakni permukiman Yahudi. Obama saat itu mengatakan, ucapannya tentang perbatasan itu diputarbalikkan.

Manuver gencar Obama untuk mendapat simpati Israel dan lobi Yahudi di AS menipiskan harapan adanya perkembangan signifikan dalam proses damai Israel-Palestina sebelum pemilu presiden AS tahun depan. Apalagi, Obama tidak ingin mengulang kekalahan Partai Demokrat pada pemilu sela anggota kongres, November 2010.

Keputusan sulit

Jon Huntsman, mantan Duta Besar AS untuk China di bawah pemerintahan Obama, secara resmi mengumumkan nominasinya sebagai kandidat presiden dari Partai Republik. Mantan Gubernur Utah itu mendesak perubahan undang-undang pajak dan membuat keputusan sulit untuk menghindari bencana.

”Jika tidak, dalam satu dekade setiap dollar pendapatan negara akan terpakai untuk membiayai jaminan kesehatan dan bunga utang,” ujar Huntsman.

Huntsman, yang dianggap kubu Demokrat sebagai Republikan berpandangan moderat, menjadi dubes di China sejak 2009 hingga April lalu. Dia mengundurkan diri untuk menyiapkan kampanye presiden AS. Nominasinya disampaikan di Liberty State Park di New Jersey, tempat yang sama ketika Ronald Reagan mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1980. (AP/Reuters/mth/was)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau