Di depan komunitas donatur Yahudi dalam acara pengumpulan dana Partai Demokrat, Senin (20/6), Obama menegaskan, dia adalah pendukung kuat Israel. Namun, perubahan di Timur Tengah mengharuskan AS dan Israel melihat kawasan itu dengan pandangan baru.
Pada acara itu, Obama mengklaim pemerintahannya memberikan dukungan kepada Israel lebih banyak dari siapa pun dalam seperempat abad terakhir.
”Pesan terpenting saya malam ini adalah meski kita menghadapi situasi sulit dalam 12 bulan, 24 bulan, atau bahkan abad mendatang, prinsip yang tak bisa dibantah adalah AS dan Israel akan selalu menjadi sekutu dan sahabat abadi,” ujar Obama, yang disambut tepuk tangan meriah sekitar 80 tokoh Yahudi yang hadir pada acara itu.
Obama kembali menekankan, keamanan Israel akan selalu menjadi prioritas dalam merumuskan dan menerapkan kebijakan politik luar negeri AS.
Pernyataan Obama itu menguatkan rangkaian pernyataannya akhir-akhir ini yang terkesan pro-Israel. Seusai bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel, awal Juni lalu di Washington, Obama mengatakan, AS dan Jerman sepakat menggagalkan upaya Palestina mencari pengakuan PBB.
Akhir Mei lalu, Obama juga meralat pernyataannya tentang seruan atas berdirinya negara Palestina sesuai batas sebelum perang 1967. Pernyataan itu menyebabkan ketegangan hubungannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Hal itu nyaris mengulang krisis hubungan AS-Israel tahun 2009 ketika pemerintahan Obama meminta Israel menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di Jerusalem Timur dan Tepi Barat. Namun, ketegangan itu berakhir akibat tekanan lobi Yahudi di AS.
Soal perbatasan tahun 1967, Obama di depan forum lobi Yahudi di AS (AIPAC) menegaskan, seruannya bagi berdirinya negara Palestina di atas tanah tahun 1967 itu harus memperhitungkan realitas demografi baru, yakni permukiman Yahudi. Obama saat itu mengatakan, ucapannya tentang perbatasan itu diputarbalikkan.
Manuver gencar Obama untuk mendapat simpati Israel dan lobi Yahudi di AS menipiskan harapan adanya perkembangan signifikan dalam proses damai Israel-Palestina sebelum pemilu presiden AS tahun depan. Apalagi, Obama tidak ingin mengulang kekalahan Partai Demokrat pada pemilu sela anggota kongres, November 2010.
Jon Huntsman, mantan Duta Besar AS untuk China di bawah pemerintahan Obama, secara resmi mengumumkan nominasinya sebagai kandidat presiden dari Partai Republik. Mantan Gubernur Utah itu mendesak perubahan undang-undang pajak dan membuat keputusan sulit untuk menghindari bencana.
”Jika tidak, dalam satu dekade setiap dollar pendapatan negara akan terpakai untuk membiayai jaminan kesehatan dan bunga utang,” ujar Huntsman.
Huntsman, yang dianggap kubu Demokrat sebagai Republikan berpandangan moderat, menjadi dubes di China sejak 2009 hingga April lalu. Dia mengundurkan diri untuk menyiapkan kampanye presiden AS. Nominasinya disampaikan di Liberty State Park di New Jersey, tempat yang sama ketika Ronald Reagan mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1980.