Banyuwangi, Kompas
Manajer Operasional PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Ketapang, Saharuddin Koto, di Banyuwangi, mengatakan, ketidakpastian cuaca dan pergerakan arus laut sempat menyebabkan kapal jenis landing craft tank (LCT) Bhaita Caturtya kandas di Gilimanuk pada Sabtu (19/6) sekitar pukul 22.30. Kapal itu akhirnya bisa dievakuasi setelah ditarik kapal LCT Trisna Dwityia satu jam kemudian.
”Kandasnya kapal disebabkan kondisi cuaca yang tidak stabil dan arus yang kuat sehingga kapal terseret dari jalurnya. Namun, kini kapal sudah bisa beroperasi seperti sediakala,” kata Saharuddin.
Menurut Saharuddin, dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah ini, Pelabuhan Ketapang memberlakukan sistem buka-tutup. Penyeberangan bisa ditutup sewaktu-waktu jika kondisi laut tidak memungkinkan untuk diseberangi, misalnya gelombang laut mencapai 2 meter lebih. Namun, hingga kini jasa penyeberangan masih dibuka untuk umum karena kondisi dianggap aman untuk penyeberangan.
Saat ini, ASDP menyiagakan 26 unit kapal feri untuk melayani penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk atau sebaliknya. Tiga unit kapal lainnya tak dioperasikan karena sedang dilakukan perawatan rutin.
Saharuddin meyakini mampu melayani penyeberang selama masa liburan kali ini. ”Kebanyakan yang menyeberang adalah bus-bus wisata, jadi masih bisa kami tampung. Jumlah penyeberang pun rata-rata hanya 55 persen dari kapasitas kapal,” ujarnya.
Kondisi cuaca yang tidak stabil juga membuat para nelayan berhenti melaut sementara waktu. Di pelabuhan perikanan Muncar, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, tidak ada aktivitas melaut. Kapal-kapal tradisional merapat berderet memenuhi dermaga setempat.
Nurudin, nelayan dari Desa Muncar, Kecamatan Muncar, mengatakan, kondisi cuaca buruk membuat mereka enggan melaut, apalagi masa paceklik belum berlalu. ”Kami bisa nekat melaut, tetapi risikonya kapal bisa rusak karena dihantam gelombang atau terseret arus,” kata Nurudin.
Minimnya aktivitas melaut tersebut membuat harga ikan pun naik. Harga ikan tongkol yang biasanya Rp 11.000 per kg kini Rp 12.000 per kg. Subeki (45), pedagang ikan di Muncar, mengatakan, pasokan ikan berkurang drastis, bahkan bisa dikatakan tidak ada ikan sama sekali sepekan terakhir. ”Jika biasanya saya dapat 1 kuintal, sekarang untuk memperoleh 10 kilogram saja susah. Itu pun harganya sudah naik,” ujar Subeki.
Sementara itu di Pelabuhan Jangkar Situbondo, kondisi lalu lintas penyeberangan masih normal. Jangkar merupakan pelabuhan yang menghubungkan Situbondo di Jawa Timur dengan Kalianget di Pamekasan, Pulau Madura.
Menurut Kepala Pelabuhan Jangkar Situbondo Juni Hartono, kondisi Selat Madura masih aman untuk diseberangi. Meskipun demikian, pihaknya juga mewaspadai adanya gelombang tinggi yang mungkin berpotensi terjadi secara mendadak.
Jumlah penumpang, menurut Juni, belum ada lonjakan. Kenaikan jumlah penumpang pada musim liburan ini hanya berkisar 10 persen dari rata-rata jumlah penumpang pada hari biasa. ”Jumlah penumpang saat ini yang sekitar 50-60 orang per hari ini masih sangat sedikit karena kapasitas kapal bisa mencapai 260 penumpang,” ujarnya.