Cuaca buruk

Sistem Buka-Tutup di Pelabuhan Ketapang

Kompas.com - 22/06/2011, 04:59 WIB

Banyuwangi, Kompas - Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kini memberlakukan sistem buka-tutup untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang sedang buruk. Hingga Selasa (21/6), kondisi cuaca belum stabil, arus air di Selat Bali pun berubah kencang.

Manajer Operasional PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Ketapang, Saharuddin Koto, di Banyuwangi, mengatakan, ketidakpastian cuaca dan pergerakan arus laut sempat menyebabkan kapal jenis landing craft tank (LCT) Bhaita Caturtya kandas di Gilimanuk pada Sabtu (19/6) sekitar pukul 22.30. Kapal itu akhirnya bisa dievakuasi setelah ditarik kapal LCT Trisna Dwityia satu jam kemudian.

”Kandasnya kapal disebabkan kondisi cuaca yang tidak stabil dan arus yang kuat sehingga kapal terseret dari jalurnya. Namun, kini kapal sudah bisa beroperasi seperti sediakala,” kata Saharuddin.

Menurut Saharuddin, dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah ini, Pelabuhan Ketapang memberlakukan sistem buka-tutup. Penyeberangan bisa ditutup sewaktu-waktu jika kondisi laut tidak memungkinkan untuk diseberangi, misalnya gelombang laut mencapai 2 meter lebih. Namun, hingga kini jasa penyeberangan masih dibuka untuk umum karena kondisi dianggap aman untuk penyeberangan.

Saat ini, ASDP menyiagakan 26 unit kapal feri untuk melayani penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk atau sebaliknya. Tiga unit kapal lainnya tak dioperasikan karena sedang dilakukan perawatan rutin.

Saharuddin meyakini mampu melayani penyeberang selama masa liburan kali ini. ”Kebanyakan yang menyeberang adalah bus-bus wisata, jadi masih bisa kami tampung. Jumlah penyeberang pun rata-rata hanya 55 persen dari kapasitas kapal,” ujarnya.

Kondisi cuaca yang tidak stabil juga membuat para nelayan berhenti melaut sementara waktu. Di pelabuhan perikanan Muncar, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, tidak ada aktivitas melaut. Kapal-kapal tradisional merapat berderet memenuhi dermaga setempat.

Harga ikan naik

Nurudin, nelayan dari Desa Muncar, Kecamatan Muncar, mengatakan, kondisi cuaca buruk membuat mereka enggan melaut, apalagi masa paceklik belum berlalu. ”Kami bisa nekat melaut, tetapi risikonya kapal bisa rusak karena dihantam gelombang atau terseret arus,” kata Nurudin.

Minimnya aktivitas melaut tersebut membuat harga ikan pun naik. Harga ikan tongkol yang biasanya Rp 11.000 per kg kini Rp 12.000 per kg. Subeki (45), pedagang ikan di Muncar, mengatakan, pasokan ikan berkurang drastis, bahkan bisa dikatakan tidak ada ikan sama sekali sepekan terakhir. ”Jika biasanya saya dapat 1 kuintal, sekarang untuk memperoleh 10 kilogram saja susah. Itu pun harganya sudah naik,” ujar Subeki.

Sementara itu di Pelabuhan Jangkar Situbondo, kondisi lalu lintas penyeberangan masih normal. Jangkar merupakan pelabuhan yang menghubungkan Situbondo di Jawa Timur dengan Kalianget di Pamekasan, Pulau Madura.

Menurut Kepala Pelabuhan Jangkar Situbondo Juni Hartono, kondisi Selat Madura masih aman untuk diseberangi. Meskipun demikian, pihaknya juga mewaspadai adanya gelombang tinggi yang mungkin berpotensi terjadi secara mendadak.

Jumlah penumpang, menurut Juni, belum ada lonjakan. Kenaikan jumlah penumpang pada musim liburan ini hanya berkisar 10 persen dari rata-rata jumlah penumpang pada hari biasa. ”Jumlah penumpang saat ini yang sekitar 50-60 orang per hari ini masih sangat sedikit karena kapasitas kapal bisa mencapai 260 penumpang,” ujarnya. (NIT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau