Gunung semeru

Dua Desa Dihujani Abu Semeru

Kompas.com - 23/06/2011, 17:58 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Dua desa di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya Desa Gubuklakah dan Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, mengalami hujan abu, imbas dari aktivitas gunung Semeru yang hingga kini masih status waspada (level II).

Dua desa tersebut mengalami hujan abu cukup lebat hingga mengganggu aktivitas warga setempat. Abu Semeru mulai menghujani dua desa itu sejak Kamis (23/6/2011), sekitar pukul 07.00 WIB hingga siang hari.

Bahkan, sejak pukul 10.00 WIB, hujan abu semakin lebat dan membuat warga terganggu karena efek abu itu menimbulkan mata perih. Akibatnya, warga banyak yang berteduh dan menghentikan aktivitasnya sambil menunggu abu menyingkir dari langit atas dua desa tersebut.

"Hujan abu ini dari gunung Semeru. Warnanya kemerahan lembut dan membuat pedih mata. Yang bertambah lebat turunnya sejak pukul 10.00 pagi," jelas petugas Taruna Siaga Bencana (Tagana) Poncokusumo, Ali Usman, Kamis (23/6/2011).

Ali memastikan hujan abu tersebut bukan abu dari Gunung Bromo. Meski gunung Bromo tetap rutin memuntahkan abunya ke langit, Gunung Semeru memiliki karakteristik berbeda.

"Abu Gunung Bromo warnanya memang merah. Tapi bila dipegang terasa kasar seperti pasir. Sedangkan abu Gunung Semeru warnanya memang merah, tapi apabila dipegang terasa lembut," bebernya.

Warga sendiri, akibat hujan abu Semu itu, sebagian menutup hidung agar tidak terkena abu tersebut. Bahkan, ada beberapa warga yang memakai masker meski secara keseluruhan masih banyak yang belum menggunakan masker.

"Yang paling parah ya di dua desa itu, yakni Desa Gubuklakah dan Desa Wringinanom. Abu banyak di atap-apa rumah warga dan cukup tebal," akunya, setelah meninjau kondisi di lokasi.

"Pihak Tagana sudah langsung membagikan beberapa masker. Namun, masker yang ada di Puskesmas Poncokusumo belum dibagikan. Rencananya masih akan dikoordinasikan terlebih dahulu mengenai pembagian masker tersebut," katanya.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, Muhammad Fauzi, pembagian masker tinggal dilakukan bila kondisinya mendesak.

"Di setiap Polindes ada sekitar 500 masker yang siap dibagikan kepada warga. Masker itu belum termasuk 1.500 yang berada di Puskesmas Poncokusumo," terangnya.

Pembagian masker yang berada di Polindes bisa dilakukan atas perintah kepala desa setempat. Karena, aku Fauzi, masker tersebut berada di tiap desa. "Bila sangat mendesak, masker di tiap Polindes tersebut bisa langsung dibagikan kepada warga," katanya.

"Kalau kekurangan masker, katanya, pihaknya siap memasok masker lagi untuk warga. Tinggal menunggu laporan kalau ada kekurangan masker. Kami dari Dinkes meminta agar warga waspada terhadap efek dari hujan abu itu," harapnya.

Lebih lanjut Fauzi mengatakan, abu Gunung Semeru itu berdampak pada penyakit mata, penyakit pernapasan seperti batuk. "Makanya, Dinkes mengimbau, apabila warga tidak ada keperluan yang sangat mendesak, tidak usah keluar rumah untuk sementara," harapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau