MALANG, KOMPAS.com — Dua desa di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya Desa Gubuklakah dan Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, mengalami hujan abu, imbas dari aktivitas gunung Semeru yang hingga kini masih status waspada (level II).
Dua desa tersebut mengalami hujan abu cukup lebat hingga mengganggu aktivitas warga setempat. Abu Semeru mulai menghujani dua desa itu sejak Kamis (23/6/2011), sekitar pukul 07.00 WIB hingga siang hari.
Bahkan, sejak pukul 10.00 WIB, hujan abu semakin lebat dan membuat warga terganggu karena efek abu itu menimbulkan mata perih. Akibatnya, warga banyak yang berteduh dan menghentikan aktivitasnya sambil menunggu abu menyingkir dari langit atas dua desa tersebut.
"Hujan abu ini dari gunung Semeru. Warnanya kemerahan lembut dan membuat pedih mata. Yang bertambah lebat turunnya sejak pukul 10.00 pagi," jelas petugas Taruna Siaga Bencana (Tagana) Poncokusumo, Ali Usman, Kamis (23/6/2011).
Ali memastikan hujan abu tersebut bukan abu dari Gunung Bromo. Meski gunung Bromo tetap rutin memuntahkan abunya ke langit, Gunung Semeru memiliki karakteristik berbeda.
"Abu Gunung Bromo warnanya memang merah. Tapi bila dipegang terasa kasar seperti pasir. Sedangkan abu Gunung Semeru warnanya memang merah, tapi apabila dipegang terasa lembut," bebernya.
Warga sendiri, akibat hujan abu Semu itu, sebagian menutup hidung agar tidak terkena abu tersebut. Bahkan, ada beberapa warga yang memakai masker meski secara keseluruhan masih banyak yang belum menggunakan masker.
"Yang paling parah ya di dua desa itu, yakni Desa Gubuklakah dan Desa Wringinanom. Abu banyak di atap-apa rumah warga dan cukup tebal," akunya, setelah meninjau kondisi di lokasi.
"Pihak Tagana sudah langsung membagikan beberapa masker. Namun, masker yang ada di Puskesmas Poncokusumo belum dibagikan. Rencananya masih akan dikoordinasikan terlebih dahulu mengenai pembagian masker tersebut," katanya.
Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, Muhammad Fauzi, pembagian masker tinggal dilakukan bila kondisinya mendesak.
"Di setiap Polindes ada sekitar 500 masker yang siap dibagikan kepada warga. Masker itu belum termasuk 1.500 yang berada di Puskesmas Poncokusumo," terangnya.
Pembagian masker yang berada di Polindes bisa dilakukan atas perintah kepala desa setempat. Karena, aku Fauzi, masker tersebut berada di tiap desa. "Bila sangat mendesak, masker di tiap Polindes tersebut bisa langsung dibagikan kepada warga," katanya.
"Kalau kekurangan masker, katanya, pihaknya siap memasok masker lagi untuk warga. Tinggal menunggu laporan kalau ada kekurangan masker. Kami dari Dinkes meminta agar warga waspada terhadap efek dari hujan abu itu," harapnya.
Lebih lanjut Fauzi mengatakan, abu Gunung Semeru itu berdampak pada penyakit mata, penyakit pernapasan seperti batuk. "Makanya, Dinkes mengimbau, apabila warga tidak ada keperluan yang sangat mendesak, tidak usah keluar rumah untuk sementara," harapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang