Potret pendidikan ntt

Tanpa Perpustakaan dan Laboratorium

Kompas.com - 25/06/2011, 03:03 WIB

Jangan tanya perpustakaan, apalagi laboratorium. Di awang- awang. Bangunan sekolah serba darurat, mirip gubuk!” kata Nikson Tanesib, Kepala SMA Negeri 1 Amabi Oefeto di Desa Fatukanutu, Kabupaten Kupang, NTT, Rabu (22/6). Sekolah itu 75 kilometer timur Kota Kupang. Dua kilometer dari simpang jalan antarkecamatan di Fatukanutu. Badan jalan tanpa aspal.

Empat bangunan lama—kantor, ruang guru, dan dua gedung sekolah kapasitas empat ruang kelas—dibangun seadanya. Reyot. Tiang dan rangka bangunan dirangkai dari kayu bulat. Dinding dan sekat dari bebak (rangkaian pelepah gewang, sejenis palem).

Bangunan utama tiga ruang kelas beratap seng berkarat dan berlubang. Maklum, seng bekas bongkaran kantor camat Kupang Timur. ”Awalnya mau dibagi untuk pegawai,” kata Nelson Nome, salah satu guru.

Tiga bangunan lain beratap daun gewang. Satu sisi ruang kelas roboh diterjang angin.

Gangguan pelajaran itu biasa. Dengan sekat ruang kelas seadanya, konsentrasi belajar terganggu suara dari ruang sebelah.

SMA Negeri Amabi Oefeto berusia lima tahun. Sekolah berstatus definitif Oktober 2010. SMA itu baru mengadakan sendiri UN tahun ini dengan 22 peserta. Hasilnya, 95,45 persen siswa lulus. Namun, UN menggunakan gedung pinjaman SMAN 1 Kupang Timur.

SMA Amabi Oefeto punya 118 siswa dan 20 guru, termasuk kepala sekolah. Para guru bergelar S-1 (17), diploma III (2), dan satu lagi mahasiswa tingkat akhir. Status guru, 17 orang di antaranya honorer yang dibayar sesuai beban mengajar Rp 10.000 per jam.

Sumber dananya, bantuan operasional manajemen mutu (BOMM) Rp 7.670.000 per bulan, dibayar tiap empat bulan Rp 30.680.000. Tak cukup memenuhi honor 17 guru honorer yang setiap bulannya Rp 8.470.000.

Akibatnya, tiap bulan sekolah nombok Rp 800.000 (Rp 3,2 juta per empat bulan). Selama ini, dana BOMM empat bulanan itu sepenuhnya untuk honor tiga bulan ke-17 guru. Mereka rela tak menerima haknya sebulan, tetapi tetap jadi utang sekolah.

”Sekolah akan bertemu komite membahas kemungkinan memungut iuran sekolah. Jika disepakati untuk menggenapi honor guru itu,” kata Nikson.

Terabaikan

Para guru beranggapan, SMA Amabi Oefeto adalah sekolah terabaikan. Selain tanpa perpustakaan dan laboratorium, kelengkapan sekolah minim. Tanpa aliran listrik. Suplai air bersih dua bulan macet setelah jaringan pipa patah. Rata-rata papan tulis di kelas tak layak. Sekolah tanpa alat olahraga atau fasilitas kantor, seperti mesin ketik, komputer, dan printer.

Kondisi mengenaskan SMA Amabi Oefeto adalah potret dari puluhan bahkan ratusan sekolah di NTT. Di desa sama, setidaknya ada dua SD bernasib serupa. SDN Too Batan, misalnya. Tiga dari enam ruang kelasnya mirip gubuk. Lantainya tanah, atap daun, dan dinding bebak.

Ada juga bangunan sekolah darurat, SDN Sufmuti. Pasangan bangku dan meja siswa, semua dari belahan papan kasar dan berkaki kayu bulat yang ditancapkan ke tanah.

Bupati Kupang Ayub Titu Eki pernah menyebut, setidaknya ada 38 sekolah dari 504 sekolah di daerah itu dengan bangunan darurat. ”Dengan dana alokasi umum sekitar Rp 200 miliar, sulit bagi kami langsung memperbaiki sekolah yang masih darurat itu,” katanya.

Pendidikan NTT sedang muram, setidaknya berdasarkan kelulusan UN tahun demi tahun. Kelulusan UN sekolah menengah tahun lalu, nilai rata-ratanya 5,4, terendah dari 34 provinsi di Indonesia.

Ketertinggalan pendidikan NTT bisa dilacak dari nilai UN murni tahun 2011. Di tingkat SMA, nilai UN murni IPA 6,72, jauh di bawah rata-rata nasional yang 8,01. Untuk IPS, rata-rata NTT 5,95 (nasional 7,33). Tingkat SMP, nilai UN murni NTT 6,33 (nasional 7,34), sedangkan SMK 5,66, jauh dari rata-rata nasional 7,45. Butuh perhatian dan kebijakan khusus mengatasi ketertinggalan pendidikan di NTT. (FRANS SARONG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau