Kurir Buka Tabir Lain

Kompas.com - 25/06/2011, 04:05 WIB

Kairo, Kompas - Telepon seluler milik kurir Osama bin Laden menyimpan memori kontak Osama dengan gerakan Mujahidin, yang juga punya hubungan dengan dinas intelijen Pakistan. Memori telepon itu menunjukkan Mujahidin mendukung Osama di Pakistan.

Telepon itu milik Sheikh Abu Ahmed, kurir Osama bin Laden, yang turut tewas dalam serangan pasukan khusus AS, 2 Mei, di Abbottabad, Pakistan.

Pejabat AS itu, sebagaimana dikutip harian AS, The New York Times, Jumat (24/6), mengatakan, memori telepon itu membantu para analis AS mencapai kesimpulan bahwa pimpinan gerakan Mujahidin melakukan kontak intens dengan dinas intelijen Pakistan.

Pejabat AS itu juga menegaskan, hasil analisis dari memori telepon itu membantu menjawab pertanyaan selama ini, bagaimana Osama bisa lolos dari pantauan pihak intelijen dan militer Pakistan selama bertahun-tahun.

Temuan ini bisa menjelaskan mengapa Osama bisa hidup tenang di tempat yang hanya berjarak sekitar 50 kilometer dari ibu kota Islamabad.

Menurut para analis, gerakan Mujahidin memiliki basis dukungan massa yang kuat di sekitar Abbottabad dan gerakan itu bermain mata dengan Al Qaeda dan dinas intelijen Pakistan.

Salah satu kejutan lain adalah kisah yang diungkapkan pemikir dan wartawan gaek Mesir, Mohamed Hassanein Heikal, kepada harian terkemuka Mesir, Al Ahram, akhir Mei lalu. Menurut Heikal, AS membunuh Osama yang sudah di ambang kematian secara alamiah karena penyakit gagal ginjal yang diderita sejak tahun 2004.

Osama pernah menjalani operasi cangkok ginjal di Arab Saudi pada tahun 1980-an sebelum ikut berjihad melawan pendudukan Uni Soviet di Afganistan.

Penyakit ginjal Osama kemudian kambuh ketika ia berada di persembunyian di pegunungan Tora Bora (Afganistan-Pakistan) pascatragedi 11 September 2001.

Osama menanggung beban sakit ginjal itu sekian tahun hingga akhirnya mengalami gagal ginjal. Selama di tempat persembunyian itu, Osama mendapat perlindungan dari sejumlah pejabat dinas intelijen Pakistan (ISI).

Dokter militer membantu

Dokter militer dari ISI kemudian mengetahui gagal ginjal yang diderita Osama itu. Para dokter itu memutuskan, Osama harus menjalani cuci darah secara rutin.

Pada 2004, para dokter ISI mulai berencana memindahkan Osama dari persembunyiannya di pegunungan Tora Bora ke tempat lain yang lebih aman di wilayah Pakistan agar bisa rutin menjalani terapi cuci darah. Akhirnya diputuskan, Osama dipindahkan ke kota Abbottabad. Di sana dibangunlah sebuah rumah untuknya. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau