BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Kelangkaan bahan bakar minyak di Lampung akhir-akhir ini dikeluhkan para pengusaha dan sopir truk. Kelangkaan BBM yang berkepanjangan dikhawatirkan bisa memicu stagnasi ekonomi sekaligus inflasi.
Berdasarkan pantauan Sabtu (25/6/2011), sejumlah SPBU yang berada di jalan lintas timur Sumatera di Bandar Lampung, Lampung Tengah dan Lampung Selatan, masih dipadati truk-truk yang antre membeli solar. Sebagian SPBU kehabisan stok solar di siang hari.
Di SPBU di Jalan Yos Sudarso, Bandar Lampung, antrean truk bahkan mengakibatkan kemacetan lalu lintas sepanjang 700 meter di titik ini. Sejumlah sopir truk rela menginap di SPBU ini semenjak malam hari demi mendapatkan solar yang dipasok pada pagi harinya.
"Semalam sulit betul cari-cari solar. Terpaksa antre di SPBU sekalian menginap," ujar Kundrin (40), sopir truk asal Medan.
Menurut dia, di sepanjang jalan lintas timur Sumatera mulai dari Medan hingga Bandar Lampung, solar sulit dicari. Sehingga akhir-akhir ini ia terpaksa sering antre sekaligus menginap di SPBU demi mendapatkan solar. "Jadinya memakan waktu perjalanan. Waktu yang semestinya 2 hari menyeberang ke jawa, sekarang bisa 3 hari lebih," keluhnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesian (Apindo) Lampung Yusuf Kohar mengingatkan, bila kelangkaan BBM tidak segera diatasi, dikhawatirkan bisa menganggu aktivitas ekonomi. "Distribusi manusia dan barang terganggu, perputaran roda ekonomi bisa mengalami stagnasi," ujarnya, Minggu (26/6/2011).
Akibat BBM, khususnya solar, langka, ia memperkirakan, perusahaan mengalami peningkatan biaya operasional hingga 30 persen. Apalagi, sopir-sopir truk terpaksa harus membeli soalr dari pedagang eceran yang harganya bisa lebih mahal 70 persen.
Dihubungi terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Mohamad Razif mengatakan, kelangkaan BBM bisa saja memicu inflasi. "Asalkan, memang berjalan dalam waktu yang lama dan pembelian di eceran ikut diperhitungkan dalam indeks," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang