Para investor global saat itu menjual saham, menarik dana investasi, serta menjatuhkan pertumbuhan ekonomi AS dan Barat pada umumnya.
Julukan ini diungkapkan Ed Yardeni dari Yardeni Research, lembaga konsultan keuangan global. Yardeni, sebagaimana dikutip kantor berita Agence France Presse, Minggu (26/6), di Washington mengatakan, ”Lehman II tampaknya tak terhindarkan.”
Untuk menghindari kebangkrutan itu, tahun lalu Yunani yang berpenduduk 11 juta jiwa dan dipimpin Perdana Menteri George Papandreou mendapatkan dana talangan sementara sebesar 110 miliar euro (sekitar 150 miliar dollar AS). Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Sentral Eropa (ECB), dan sejumlah negara kaya Uni Eropa menjadi pemasok dana talangan itu.
Dana talangan ini diperlukan untuk membayari utang Yunani yang sebagian segera jatuh tempo tahun ini. Akan tetapi, dana talangan itu tidak akan diberikan sekaligus, tetapi dicicil bertahap selama tiga tahun. Untuk itu, para kreditor meminta Yunani mulai mengurangi akumulasi utang, yang kini sebesar 149 persen dari produksi domestik bruto (PDB) negara itu.
Ini jauh melampaui batas maksimum 60 persen dari yang dipersyaratkan dalam Pakta Pertumbuhan dan Stabilitas (SGP Pact) yang dicanangkan zona euro, julukan bagi 17 negara pengguna mata uang tunggal euro.
Nilai PDB Yunani sekarang sekitar 230 miliar euro sehingga utang negara Yunani sebesar 342,7 miliar euro. Departemen Keuangan Yunani mengatakan, jumlah utang ini akan mencapai 500 miliar euro jika tidak ada program pengurangan utang negara mulai sekarang.
Karena itu, Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble, Minggu, di Berlin menegaskan, Yunani harus mengurangi utang dan merestrukturisasi perekonomian. Bentuk konkret pengurangan utang ini berupa pengurangan pengeluaran pemerintah, mendorong kenaikan penerimaan dari pajak, dan penjualan sejumlah perusahaan negara.
Pekan ini parlemen Yunani dijadwalkan menyetujui program pengurangan utang dan restrukturisasi ekonomi itu. Jika parlemen menyetujui, tahapan kucuran dana sebesar 12 miliar euro segera diberikan para kreditor kepada Yunani.
Ketua oposisi di parlemen Yunani, Antonis Samaras, tidak sepenuhnya menyetujui program itu, yang dia anggap akan menyengsarakan rakyat. Hal senada diutarakan oposisi lain. ”Saya menegaskan bahwa saya tidak menyetujui rencana ini,” kata Alexandros Athanasiadis, anggota parlemen dari Partai Sosialis Yunani.
Thomas Robopoulos, juga dari kubu Sosialis, menolak permintaan ”troika”, julukan bagi tiga kreditor utama Yunani itu. Dia menyebutkan, ”troika” sedang melakukan jebakan kepada Yunani untuk melepas aset-aset negara.
Keadaan tampak sulit sehingga Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengingatkan tanggung jawab Eropa untuk mengatasi krisis Yunani. AS, yang sedang kesulitan anggaran, khawatir status gagal bayar utang Yunani akan kembali mengempaskan perekonomian AS dan global sebagai akibat negatif
Wolfgang Schaeuble juga mengingatkan hal ini. Namun, nada pasrah sudah dia nyatakan. Schaeuble juga mengingatkan, para kreditor swasta harus turut menanggung risiko sendiri atas potensi gagal bayar utang Yunani. Adalah para kreditor swasta yang selama ini terus memberikan utang kepada Yunani tanpa mengindahkan kesehatan ekonomi Yunani.
Yardeni mengatakan, gagal bayar utang Yunani akan memicu efek domino ini dan memaksa pemberian dana talangan besar-besaran yang harus ditanggung ECB, seperti pernah dilakukan Bank Sentral AS pada tahun 2008 untuk menghidupkan perekonomian.
Namun, David Kotok, pejabat bidang investasi dari Cumberland Advisors, berbicara lain.
”Dunia tidak akan berakhir. Lihat sejarah ekonomi, dengan sejumlah krisis yang muncul, keadaan pulih kemudian,” kata Kotok merujuk kepada keadaan pada masa lalu saat Rusia, Turki, Meksiko, dan sejumlah negara Asia bangkrut.