Yunani Dijuluki "Lehman II"

Kompas.com - 27/06/2011, 02:37 WIB

Berlin, Minggu - Keuangan Pemerintah Yunani yang bangkrut mulai membuat negara ini mendapatkan julukan ”Lehman II”. Ini merujuk pada kebangkrutan lembaga keuangan AS, Lehman Brothers, pada September 2008 dan memicu krisis ekonomi global.

Para investor global saat itu menjual saham, menarik dana investasi, serta menjatuhkan pertumbuhan ekonomi AS dan Barat pada umumnya.

Julukan ini diungkapkan Ed Yardeni dari Yardeni Research, lembaga konsultan keuangan global. Yardeni, sebagaimana dikutip kantor berita Agence France Presse, Minggu (26/6), di Washington mengatakan, ”Lehman II tampaknya tak terhindarkan.”

Untuk menghindari kebangkrutan itu, tahun lalu Yunani yang berpenduduk 11 juta jiwa dan dipimpin Perdana Menteri George Papandreou mendapatkan dana talangan sementara sebesar 110 miliar euro (sekitar 150 miliar dollar AS). Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Sentral Eropa (ECB), dan sejumlah negara kaya Uni Eropa menjadi pemasok dana talangan itu.

Dana talangan ini diperlukan untuk membayari utang Yunani yang sebagian segera jatuh tempo tahun ini. Akan tetapi, dana talangan itu tidak akan diberikan sekaligus, tetapi dicicil bertahap selama tiga tahun. Untuk itu, para kreditor meminta Yunani mulai mengurangi akumulasi utang, yang kini sebesar 149 persen dari produksi domestik bruto (PDB) negara itu.

Ini jauh melampaui batas maksimum 60 persen dari yang dipersyaratkan dalam Pakta Pertumbuhan dan Stabilitas (SGP Pact) yang dicanangkan zona euro, julukan bagi 17 negara pengguna mata uang tunggal euro.

Nilai PDB Yunani sekarang sekitar 230 miliar euro sehingga utang negara Yunani sebesar 342,7 miliar euro. Departemen Keuangan Yunani mengatakan, jumlah utang ini akan mencapai 500 miliar euro jika tidak ada program pengurangan utang negara mulai sekarang.

Karena itu, Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble, Minggu, di Berlin menegaskan, Yunani harus mengurangi utang dan merestrukturisasi perekonomian. Bentuk konkret pengurangan utang ini berupa pengurangan pengeluaran pemerintah, mendorong kenaikan penerimaan dari pajak, dan penjualan sejumlah perusahaan negara.

Pekan ini parlemen Yunani dijadwalkan menyetujui program pengurangan utang dan restrukturisasi ekonomi itu. Jika parlemen menyetujui, tahapan kucuran dana sebesar 12 miliar euro segera diberikan para kreditor kepada Yunani.

Jebakan ”troika”

Ketua oposisi di parlemen Yunani, Antonis Samaras, tidak sepenuhnya menyetujui program itu, yang dia anggap akan menyengsarakan rakyat. Hal senada diutarakan oposisi lain. ”Saya menegaskan bahwa saya tidak menyetujui rencana ini,” kata Alexandros Athanasiadis, anggota parlemen dari Partai Sosialis Yunani.

Thomas Robopoulos, juga dari kubu Sosialis, menolak permintaan ”troika”, julukan bagi tiga kreditor utama Yunani itu. Dia menyebutkan, ”troika” sedang melakukan jebakan kepada Yunani untuk melepas aset-aset negara.

Keadaan tampak sulit sehingga Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengingatkan tanggung jawab Eropa untuk mengatasi krisis Yunani. AS, yang sedang kesulitan anggaran, khawatir status gagal bayar utang Yunani akan kembali mengempaskan perekonomian AS dan global sebagai akibat negatif dari teori efek domino dari ”Lehman II”.

Wolfgang Schaeuble juga mengingatkan hal ini. Namun, nada pasrah sudah dia nyatakan. Schaeuble juga mengingatkan, para kreditor swasta harus turut menanggung risiko sendiri atas potensi gagal bayar utang Yunani. Adalah para kreditor swasta yang selama ini terus memberikan utang kepada Yunani tanpa mengindahkan kesehatan ekonomi Yunani.

Yardeni mengatakan, gagal bayar utang Yunani akan memicu efek domino ini dan memaksa pemberian dana talangan besar-besaran yang harus ditanggung ECB, seperti pernah dilakukan Bank Sentral AS pada tahun 2008 untuk menghidupkan perekonomian.

Namun, David Kotok, pejabat bidang investasi dari Cumberland Advisors, berbicara lain. Menurut Kotok, ketakutan soal Yunani berlebihan.

”Dunia tidak akan berakhir. Lihat sejarah ekonomi, dengan sejumlah krisis yang muncul, keadaan pulih kemudian,” kata Kotok merujuk kepada keadaan pada masa lalu saat Rusia, Turki, Meksiko, dan sejumlah negara Asia bangkrut.

(AP/AFP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau