Dengan keberhasilan itu, Chong Wei terhitung sudah empat kali memenangi gelar juara tunggal putra di Indonesia Super Series. Ia pertama menjuarai Indonesia Super Series pada 2007 dilanjutkan tahun 2009 dan 2010, dengan mengalahkan Taufik Hidayat.
Kemenangan Chong Wei di babak final, Minggu, merupakan kemenangan termudah dalam turnamen ini. Chong Wei tampil percaya diri dan konsisten menyerang. Pada gim pertama, Chong Wei sudah langsung memimpin 8-3. Sementara itu, Peter Gade, pebulu tangkis peringkat kelima dunia itu, seperti kehilangan pola permainannya.
Chong Wei, yang saat ini masih tercatat sebagai pemain nomor satu dunia itu, terus menguasai lapangan. Gim pertama dituntaskan dengan skor 21-11.
Memasuki gim kedua, Peter Gade terlihat semakin tidak bisa mengimbangi permainan Chong Wei. Pemain berusia 29 tahun asal Malaysia itu memimpin dengan 18-4. Ia akhirnya menuntaskan gim kedua dengan 21-7. ”Saya tidak tahu apa yang terjadi pada Gade. Saya tadi hanya bermain lebih cepat dan terus memimpin,” ujar Chong Wei.
Sementara itu, Gade mengakui ia kelelahan saat menghadapi Chong Wei. Ia mengakui kelelahan karena setelah bermain
”Chong Wei begitu konsisten, percaya diri, dan menikmati permainannya,” ujar pemain Denmark berusia 34 tahun itu.
Kekalahan itu menambah panjang daftar kekalahan Peter Gade atas Chong Wei. Dari 13 kali pertemuan keduanya, Gade baru sekali mengalahkan Chong Wei.
Seusai turnamen di Indonesia ini, kejuaraan yang bakal ia ikuti adalah Kejuaraan Dunia 2011 di London, Inggris, Agustus.
Pada nomor tunggal putri, pemain unggulan empat asal India, Saina Nehwal, gagal memenuhi ambisinya membuat hat-trick. Ia menjuarai Indonesia Super Series 2009 dengan menundukkan tunggal putri China, Wang Lin. Kemenangan kedua ia buat di Indonesia Super Series 2010 dengan mengalahkan tunggal putri Jepang, Sayaka Sato.
Pada final kemarin, Saina sempat mendominasi hingga unggul 21-12 di gim pertama. Namun, di gim dua, kondisi berbalik. Wang Yihan yang di gim satu kurang berkembang permainannya malah berubah terus menyerang.
Wang Yihan sempat memimpin 19-16, tetapi terkejar oleh Saina hingga berbalik memimpin 20-19. Wang Yihan seperti tak terpengaruh dengan tekanan itu, bahkan terus menambah poin. Ia akhirnya menang 23-21. Kemenangan di gim dua menjadi motivasi bagi Wang Yihan terus menyerang hingga akhirnya menutup gim tiga dengan 21-14.
”Saya sempat gemetar mengingat ini final ketiga saya di Indonesia. Namun, inilah pertandingan, ada menang ada kalah. Saya tak beruntung kali ini. Meski begitu, saya tetap optimistis bisa meraih yang terbaik karena untuk mencapai final ini saya sudah mengalahkan pemain top, seperti Tine Baun,” ujar Saina.
Bagi Wang Yihan, ia menilai Saina bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Pertandingan kali ini cukup menguras tenaga. ”Untung di gim dua dan tiga saya masih bisa memenangi pertandingan. Saya harus terus waspada setiap kali bertemu dengan Saina. Melawan dia, saya harus percaya diri,” ujar Wang Yihan, yang bertekad untuk kembali menjadi pemain nomor satu dunia.