Anggaran

Yunani Lumpuh Dua Hari

Kompas.com - 28/06/2011, 18:11 WIB

KOMPAS.com - Seluruh elemen masyarakat Yunani bertekad bulat mewujudkan mogok 48 jam lantaran kebijakan pemerintah soal penghematan anggaran. Sebagaimana warta AP dan AFP pada Selasa (28/6/2011), massa dalam jumlah kian besar berkumpul di jalan-jalan kota Athena. sementara, layanan transportasi umum kian lumpuh.

Perdana Menteri Yunani George Papandreou pada Senin mengatakan kebijakan penghematan senilai 28 miliar euro akan memulihkan ekonomi Yunani.

Masalahnya, pemerintah tengah bertarung melawan parlemen terkait penghematan itu.  Jika pemerintah kalah dalam pemungutan suara, Uni Eropa (UE) dan IMF akan menahan pinjaman 12 miliar euro. Akibatnya, Yunani akan kekurangan uang tunai selama berminggu-minggu.

Sementara itu, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengatakan, bank-bank Perancis siap menawarkan pinjaman berjangka 30 tahun ke Yunani ketika utang sekarang jatuh tempo. Dia mengatakan, negara-negara UE yang bank-bank mereka meminjamkan uang ke Yunani mempertimbangkan model sama untuk mencegah gagal bayar pada saat jatuh tempo. Namun Inggris menyangkal menekan banknya untuk memotong utang tersebut.

Lumpuh

Polisi sejak Selasa pagi memang sudah berjaga-jaga di Athena. Jumlah mereka bahkan mencapai 5.000 personel. Sementara, puluhan ribu buruh kian merangsek menuju ke parlemen.

Aksi mogok ini mengganggu atau hampir melumpuhkan layanan umum karena para dokter, sopir ambulans, wartawan, dan bahkan aktor yang digaji negara ikut mogok. Bandara ditutup selama beberapa jam dengan pekerja pengawas lalu lintas udara melakukan aksi walk out antara pukul 08.00 sampai 12.00 dan pukul 18.00 sampai 22.00 waktu setempat.

Bandara internasional Athena melaporkan sejumlah penerbangan dibatalkan sejak pukul 07.30. Kereta api, bus dan feri juga tidak beroperasi lagi.

Di Athena, jaringan metro akan merupakan transportasi umum yang beroperasi sehingga warga Athena bisa bergabung dalam aksi protes di ibu kota, kata masinis metro.

Serikat pekerja marah terhadap program penghematan pemerintah yang mengenakan pajak bagi mereka yang berpendapatan minimum disusul dengan pemotongan. Kalau kebijakan itu terealisasi, pengangguran naik lebih dari 16 persen. "Kebijakan ini merupakan pembantaian bagi hak-hak pekerja. Aksi mogok harus menyebabkan semua layanan umum terhenti," ujar Thanassis Pafilis, anggota parlemen dari Partai Komunis.

Sementara itu perdebatan di parlemen mengenai program pemotongan anggaran telah dimulai. PM Yunani memperingatkan kekalahan dalam pemungutan suara akan berarti kas negara akan kosong selama beberapa hari. Dia mendesak para anggota parlemen melakukan kewajiban yang patriot. "Suara kami hanyalah peluang agar negara ini kembali pulih," kata Papandreou.

Papandreou menambahkan, "Saya dapat menyerukan Eropa agar memberikan Yunani waktu dan syarat yang diperlukan untuk membayar kembali utangnya tanpa menghambat pertumbuhan dan warganya."

Menteri Keuangan yang baru Evangelos Venizelos menyatakan bahwa pemangkasan anggaran ini tidak adil namun benar-benar diperlukan. Dia mendesak semua pihak bekerja sama dengan Gerakan Sosialis Panhellenic karena akan membantu membangun kekuatan nasional yang lebih besar.

Namun pemimpin oposisi Antonis Samaras dari Partai Demokrasi Baru mengatakan pemikiran di belakang paket penghematan itu cacat. "Pajak seharusnya diturunkan bukannya dinaikkan dalam rangka merangsang pertumbuhan ekonomi," demikian Antonis Samaras.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau